JAKARTA, AKURATNEWS.co – Fenomena konser Taylor Swift yang eksklusif digelar Singapura selama enam hari dan mendatangkan uang begitu besar hingga membuat Thailand meradang menarik untuk dibahas.
Oleh karenanya, Departemen Seni Musik dan Film (Depmufil) PWI Pusat bekerjasama dengan Apresiasi Musik Direktorat Perfilman Musik dan Media (PMM) Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek mencoba mengupas fenomena ini dalam diskusi bertema ‘Bisnis Konser Musik dan Cuan untuk Negara” di Jakarta, Jumat (23/3).
Dua pembicara utama dalam diskusi ini yakni CEO Deteksi Production, Harry Koko Santoso dan Country Director ONErpm Indonesia, Aldo Sianturi mencoba mengupas fenomena ini dari sisi berbeda.
“Bukan promotor di Indonesia nggak ada yang mampu, tapi lebih pada soal keamanan dan kenyamanan,” ujar Harry Koko.
Menurut Harry, konser musik dimana pun diselenggarakan pasti akan menjadi daya tarik orang untuk menonton, Artinya konser bisa diselenggarakan di kota sampai di desa, di laut sampai di gunung. Bahkan di udara seperti yang dilakukan Virgin Airlines yang launching perusahaannya lewat knser musik di dalam pesawat pada saat mengudara .
“Musik menjadi primadona dalam kegiatan konser. Kita menyebutnya, music adalah industri. Hebatnya lagi mulai dari pemilihan presiden sampai kepala desa, mulai produk murahan sampai produk termahal semuanya menggunakan musik,” ujar Harry.
Dilanjutkannya, soal konser Taylor Swift di Singapura dan mendatangkan protes dari negara tetangga, Harry melihat hal ini adalah kejelian Singapura yang mampu menawarkan keamanan, kenyamanan dan kemudahan sebagai bagian dari fasilitas konser.
“Pemerintah Singapura sangat memberikan akses kemudahan, fasilitas sampai dengan keamanan dan kenyamanan pada artis dan juga penontonnya. Maka penonton dari negara lainpun tak segan datang ke Singapura. Penyanyi, musisi pun merasa tenang dan nyaman serta yakin, konsernya akan sukses,” ucapnya.
Sedangkan Aldo Sianturi mengatakan, Indonesia harusnya bisa melebihi Singapura dalam hal pagelaran konser.
“Bagaimana caranya pemerintah hadir dan ada juga ikut supporting memperbaiki ekosistem industri musik, infrastruktur bisnis pertunjukan, mulai dari kemudahan perizinan, keringanan pajak, atau mendukung para musisi yang ingin bertandang keluar negeri karena undangan, atau kompetisi. Kita punya banyak potensi besar musisi-musisi daerah dengan karakter yang kuat. Justru kita bisa mengekspor musik Indonesia ke negeri lain,” tegas Aldo yang menjadi pembicara di sesi Melibatkan Musik Tradisional dan Stakeholder Panggung Konser Tersertifikasi Dalam Konser Internasional.
Acara ini sendiri dibuka Ketua Umum PWI Pusat, Hendry Ch Bangun dan Kepala Apresiasi Musik Direktorat PMM Dirjen Kebudayaan Edi Irawan.
Dalam sambutannya, Hendry Ch Bangun mengapresiasi diskusi ini yang akan menghasilkan sebuah solusi, khususnya dalam membangkitkan industri musik tanah air dengan mengambil contoh kehadiran Taylor Swift di Singapura yang menghadirkan perputaran ekonomi yang besar ke negara tersebut.
“Temanya menarik, “Bisnis Konser Musik dan Cuan untuk Negara”. Dari diskusi ini kita harapkan menghasilkan rumusan terbaik untuk nantinya bisa dikomunikasikan lebih lanjut antara promotor musik dengan pemerintah,” kata Hendry.
Sedangkan Kepala Apresiasi Musik Direktorat PMM Dirjen Kebudayaan, Edi Irawan menambahkan, apa yang dihasilkan dari diskusi ini nantinya bisa menjadi masukan pihaknya.
“Diskusi dengan teman-teman wartawan dan juga para pelaku di industi musik dalam hal ini promotor, tentunya banyak masukan-masukan apa saja yang belum kami lakukan untuk nantinya bisa ditambahkan dan dirumuskan bersama-sama,” ucap Edi Irawan.
Merangkum rangkaian diskusi ini, Ketua Depmufil PWI Pusat, Benny Benke menilai, peran penting pemerintah sangat besar untuk mendukung keberlangsungan konser-konser di tanah air dan juga membawa musisi Indonesia tingkat nasional dan daerah ke mancanegara.
“Kerjasama dan dukungan besar pemerintah terhadap sebuah konser dalam negeri sangat penting sekali. Apa yang disampaikan narasumber di atas, merupakan masukan penting agar kedepannya kita bisa lebih besar lagi menggelar konser-konser dunia di tanah air dan konser musisi dalam negeri untuk bangkitkan ekonomi bangsa melalui pergelaran musik,” ucap Benny Benke. (NVR)
