JAKARTA, AKURATNEWS – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyelenggarakan seminar online yakni Ngobrol Bareng Legislator dengan mengusung tema: “Bijak Dalam Bersosial Media Dan Lawan Hoaks”. Seminar diselenggarakan pada hari Senin, 29 Mei 2023 melalui platform zoom meeting.
Dalam seminar Ngobrol Bareng Legislator ini, terdapat empat narasumber yang berkompeten pada bidangnya, yaitu Bapak Yan Permenas Mandenas, S.SOS, M.Si yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi I DPR RI. Narasumber kedua yakni Bapak Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc menjabat sebagai Dirjen Apkeblikasi Informatika Kementerian Kominfo RI serta mengundang Ibu Nissa Rengganis, M.A Sebagai Pegiat Literasi Digital Dosen dan Bapak Muhammad Riza Nurdin, PHD Selaku Peneliti Asian-Japan Research Institute Ritsumelkan University.
Seminar Ngobrol Bareng Legislator ini merupakan inisiasi yang di dukung oleh Kementerian Kominfo terhadap Program Ngobrol Bareng Legislator yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, dengan memiliki beberapa tujuan, diantaranya yakni untuk mendorong masyarakat agar mengoptimalkan pemanfaatan internet sebagai sarana edukasi dan bisnis.
Baca artikel lainnya: Bank DKI Raih Penghargaan Bank Terbaik BPD KBMI 2 di Ajang Best Bank Award 2023
Selain itu juga untuk memberdayakan masyarakat agar dapat memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan dan bermanfaat, memberikan informasi yang lengkap kepada masyarakat terkait pembangunan Infrastruktur TIK yang dilakukan oleh Pemerintah khususnya oleh Ditjen APTIKA, serta mewujudkan jaringan informasi serta media komunikasi dua arah antara masyarakat dengan masyarakat maupun dengan pihak lainnya.
Sesi pemaparan diawali oleh pengantar serta pembukaan yang disampaikan oleh Bapak Yan Permenas Mandenas, S.SOS, M.Si selaku Komisi I DPR RI. Dalam paparannya beliau menyampaikan bahwa,
“Dalam kamus besar Bahasa Indonesia hoaks di artikan sebagai berita bohong. Hoaks menjadi sebuah kebebasan berbicara dan berpendapat negatif di internet. Dimana hoaks bertujuan untuk membuat opini, menggiring opini, membentuk opini, untuk bersenang-senang dengan menguji kecerdasan dan kecermatan pengguna media sosial. Dimana ancaman cyber crime tingginya keinginan masyarakat untuk mengetahui segala informasi dimedia sosial, banyak digunakan oleh orang-orang yang tidak betanggung jawab dalam meraup keuntungan secara ilegal,” papar Yan Permenas.
Pemaparan yang ketiga disampaikan oleh Ibu Nissa Rengganis, S.IP M.A selaku Pegiat Literasi Digital Dosen Beliau menyampaikan bahwa,
“Transformasi digital dalam peningkatan yang begitu pesat dimana sebanyak 202,6 juta jiwa yang menggunakan internet di Indonesia, 96% penggunaya mengkases internet menggunakan mobile device, 37 juta pemngguna internet baru dari tahun sebelumnya serta rata rata penggunaan internet harian mencapai 8 jam 52 menit setiap harinya dan 170 juta pengguna aktif dalam menggunakan internet. Dampak ruang digital memiliki dampak positif dan negatif, Sulit sekali untuk kita menyaring budaya-budaya yang masuk seperti itulah internet kita butuh penekanan nilai-nilai pancasila,” papar Nissa Rengganis.
Baca artikel lainnya: Connie Nurlita Meninggal Dunia
Pemaparan terakhir disampaikan oleh Bapak Muhammad Riza Nurdin, PHD. Dalam paparannya beliau menjelaskan bahwa,
“Bijak dalam bersosial media melawan hoaks dalam kepemilikan media sosial, mayoritas masyarakat memiliki whatsapp, facebook dan youtube. Dimana pengguna di papu di dominasi oleh pengguna tiktok yang merupakan akses utama bagi masyarakat papua dibandingan dengan media sosial lainnya. Dalam literasi digital memahami berita hoaks melalui facebook yang dominan dalam menyajikan informasi hoaks pada tahun 2020 mencapai 71,9%, 2021 mencapai 62,6% dan 2022 mencapai 55,9%. Dimana wahtsapp mengalami penurunan yang signifikan dalam menyajikan berita isu hoaxs pada tahun 2020 mencapai 31,5%, 2021 mencapai 20,5% dan 2022 mencapai 13,9%,” papar Muhammad Riza.
Lebih lanjut ia menambahkan,” Berita hoaxs melalui media online mengalami kenaikan persepsi dalam menyajikan isu berita hoaxs pada tahun 2020 mencapai 10,7%, 2021 mencapai 14,9% dan 2022 mencapai 16%. Dimana youtube pun berpotensi besar terhadap penyebaran berita hoax dimana pada tahun 2020 mencapai 14,9%, 2021 mencapai 16,4% dan 2022 mencapai 13,1%. Masyarakat diharapkan untuk hindari berita hoaxs dan kenali ciri-cirinya seperti berikut, sumber yang tidak jelas dan unsur sara, tidak mengandung usur 5W+1H, permintaan disebarluaskan semasif mungkin dan doproduksi untuk menyasar kalangan tertentu,” lanjutnya./Ib.
