Bukan Sekadar Patung, Warga Purbalingga Siap Jemput Jiwa Soedirman Pulang

0
20180406-patung-jenderal-sudirman_20180406_094632_copy_800x553

PURBALINGGA, AKURATNEWS – Sebuah gerakan kultural yang menggetarkan muncul dari Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Aliansi Masyarakat Purbalingga Pemerhati Soedirman mengusulkan agar branding daerah yang selama ini dikenal dengan slogan “Purbalingga Perwira” diubah menjadi “Purbalingga, Tempat Lahir Soedirman,”

Usulan ini bukan tanpa alasan. Menurut mereka, nama besar Jenderal Besar Raden Soedirman adalah warisan sejarah yang otentik, konkret, dan tak bisa diperebutkan oleh daerah lain.

Juru bicara Aliansi, Heru Catur Wibowo, menegaskan bahwa branding “Purbalingga, Tempat Lahir Soedirman” bukan hanya soal slogan, melainkan bentuk penegasan jati diri daerah berdasarkan fakta sejarah yang kuat.

“Tanggal 24 Januari 1916, Desa Bodas Karangjati, Kecamatan Rembang, adalah tempat lahir Jenderal Soedirman. Itu bukan sekadar catatan sejarah, tapi identitas geografis dan historis yang tak bisa ditiru,” ujar Heru, Sabtu (4/10).

Ia mencontohkan, Banyuwangi sukses dengan branding “The Sunrise of Java” karena mengangkat keunggulan geografis. Begitu pula Purbalingga, menurutnya, memiliki keunggulan historis yang tak tergantikan: sebagai tanah kelahiran Panglima Besar Republik Indonesia.

Aliansi yang beranggotakan lintas elemen masyarakat, di antaranya Sunaryo, Yudhia Patriana, Agus Sukoco, dan Bowo Leksono menilai, selama ini nama besar Soedirman lebih sering dikaitkan dengan Yogyakarta atau Jakarta. Padahal, akar sejarahnya jelas tertanam di tanah Purbalingga.

“Branding ini adalah langkah strategis untuk merebut kembali narasi nasional. Sudah waktunya Purbalingga diingat sebagai tempat lahir pemimpin besar bangsa,” ujar Heru.

Menurutnya, jika dikembangkan dengan serius, branding ini bisa mengubah Purbalingga menjadi pusat edukasi sejarah perjuangan nasional, destinasi wisata sejarah, sekaligus sumber kebanggaan lokal yang berbasis fakta, bukan sekadar jargon.

Lebih dari sekadar simbol, Heru menilai bahwa branding “Tempat Lahir Soedirman” bisa menghidupkan energi kolektif masyarakat.

“Dengan semangat Soedirman, ASN bisa bekerja penuh pengabdian, UMKM bertahan dengan daya juang gerilya, dan generasi muda belajar bermimpi besar seperti sang Jenderal,” jelasnya.

Dari sisi ekonomi, identitas baru ini diharapkan dapat mengangkat sektor pariwisata, pendidikan, dan industri kreatif berbasis sejarah perjuangan nasional.

“Purbalingga tidak butuh semangat yang bisa diklaim siapa saja. Kita butuh identitas yang lahir dari tanah sendiri. Tinggalkan yang artifisial. Tegaskan bahwa ini tanah kelahiran Soedirman,” tambah Heru.

Selain soal branding, Aliansi juga menyoroti wacana pemindahan patung Jenderal Soedirman di Jakarta yang sempat menuai polemik.

“Kami, warga Purbalingga, tak bisa tinggal diam. Kami bukan marah, kami terpanggil. Soedirman bukan hanya ikon metropolitan, ia anak kandung Purbalingga,” ujar Heru.

Mereka bahkan telah melakukan audiensi dengan Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, untuk menyampaikan pandangan tersebut.

Aliansi tidak menolak jika Jakarta ingin tetap merawat patung Soedirman, namun mereka berharap agar satu duplikat patungnya bisa dibangun di tanah kelahiran sang jenderal.

“Biarkan Purbalingga memiliki monumen yang bukan hanya batu, tapi jiwa perjuangan, pengabdian, dan gerilya,” tegas Heru.

Sebagai bentuk simbolik, pada 6 Oktober 2025, Aliansi berencana menggelar aksi “penjemputan semangat Soedirman” ke Jakarta.

“Kami tidak akan mengambil patungnya. Kami akan membawa pulang semangatnya ke kampung halaman. Karena sejarah yang dirawat adalah sejarah yang hidup,” kata Heru.

Mereka juga berencana membangun Monumen Kelahiran Soedirman di Desa Bodas Karangjati agar generasi muda mengetahui bahwa tanah Purbalingga pernah melahirkan sosok besar yang menggerakkan republik ini.

Melalui gerakan ini, masyarakat Purbalingga berharap dunia tahu bahwa kabupaten kecil di kaki Gunung Slamet ini bukan sekadar nama di peta, melainkan tanah lahir seorang pahlawan nasional yang mengubah jalannya sejarah bangsa.

“Soedirman lahir di sini, berjuang untuk seluruh Indonesia. Kini waktunya Indonesia kembali mengingat: dari tanah kecil bernama Purbalingga, lahir jiwa besar bangsa,” pungkas Heru.

Dan pada Senin (6/10) aliansi akan beraudiensi dengan Ketua MPR dan Menteri Pertahanan untuk menyampaikan aspirasi dan tuntutan masyarakat Purbalingga sebagai bentuk kepedulian terhadap warisan sejarah bangsa. (NVR)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *