PALEMBANG, AKURATNEWS.co – Pilkada Sumsel 2024 semakin hari semakin meriah. Para bakal calon telah serentak melakukan soaialisasi terutama melalui sosial media.
Beberapa pertemuan dengan warga dan tokoh-tokoh masyarakat juga sudah digelar, semua itu dilakukan dalam rangka menggalang dukungan agar bisa terpilih di Pilgub November 2024 mendatang.
Para bakal calon juga sudah terlihat bersaing satu sama lain bahkan ada yang sudah menyerang bakal kandidat lain dengan black campaign Yang terparah adalah munculnya ilusi dan halusinasi seolah figur tertentu tidak akan bisa ikut serta sebagai peserta pilkada karena akan jadi tersangka.
Terkait hal ini, pengamat hukum sekaligus advokat Riduan Dalimunthe memberi catatan khusus. Dikatakannya, seringkali persoalan hukum yang dijadikan senjata oleh siapa saja yang dipandang punya kekuatan dikritik sebagai cara pengecut untuk menyingkirkan seseorang dari kontestasi. Istilahnya didorong jatuh dari panggung hingga tidak bisa ikut lomba.
Riduan menyayangkan, kritik-kritik atas fenomena itu hanya berlaku kepada objek nun jauh di sana, sementara di lingkungannya sendiri justru berharap dan bekerja keras agar calon pesaing bisa dijerat persoalan hukum hingga peluangnya menang pilkada lebih besar.
“Nah di Sumsel ini kalau saya baca, tampaknya ada keyakinan tumbuh dari kepercayaan yang sangat lemah, seolah Herman Deru nanti akan terjerat kasus hukum. Ilusi dan halusinasi ini muncul sesungguhnya karena memang punya sikap tidak ksatria. Kalau jantan dan memang petarung, ya tempur saja di pilkada, jangan mimpi macam-macam sampai jadi keyakinan seolah Pilgub Sumsel 2024 akan tanpa Herman Deru. Ini takut ya atau bagaimana?” ujarnya, Selasa (9/4) lalu.
Riduan mengingatkan, persoalan hukum yang dimunculkan dan dianggap sebagai beban atau hambatan Herman Deru adalah persoalan yang muncul karena laporan seseorang.
Dari situ saja sudah bisa diterka kemana arahnya dan apa yang diinginkan di ujungnya. Riset yang dilakukannya di sosial media terlihat nyata upaya tersebut sebagai gerakan untuk menyingkirkan Herman Deru dari kontestasi. Padahal secara substansi persoalan-persoalan yang dituduhkan bisa dibantah secara hukum.
Riduan mengajak semua pihak untuk bertarung secara objektif, jantan dan fair. Pilkada ya ikuti aturannya tidak perlu cari-cari kesalahan orang supaya ada yang tidak bisa ikut jadi peserta. Ia miris juga karena mendengar ada yang sampai membayar tim khusus untuk menyingkirkan seseorang.
“Masyarakat sumsel harus dapat pendidikan politik dan punya dignity politik. Harus punya kebanggaan atas daerahnya dan pemimpinnya. Masa iya mau dibuat tradisi para pemimpin Sumsel akan dipenjara selepas menjabat. Ini dua gubernur terdahulu sudah mangalami, SO pernah dipenjara, AN sedang dipenjara. Harusnya yang ditumbuhkan justru jangan sampe ada lagi yang seperti mereka,” ujarnya. (NVR)
