Delapan Entertainment Studio Siapkan Film Begu Ganjang, Angkat Cerita Mitos Masyarakat Sumatera Utara Dikemas dalam Bentuk Horor dan Medis

0
Film Begu Genjang

JAKARTA, AKURATNEWS.co – Kekayaan mitos dan cerita rakat selalu menjadi sumber inspirasi bagi para sineas Indonesia. Terbaru Delapan Entertainment Studio berusaha menggali mitos tentang makhluk gaib yang menjadi legenda turun temurun masyarakat Sumatera Utara bernama Bagu Genjang, yang kemudian diangkat menjadi sebuah karya film produksi perdanany.

Bagu Genjang digambarkan sebagai sosok hantu mistis yang tumbuh semakin tinggi yang diyakini menjadi sumber teror dalam kehidupan masarakat di Sumatera Utara. Filmilm yang diproduksi Delapan Entertainment Studio ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari horor kebanyakan. Menggabungkan folklor Sumatera Utara dengan dunia medis, film ini mengajak penonton menyelami batas antara logika, kepercayaan tradisional, dan misteri yang belum terpecahkan.

Film yang diadaptasi dari novel karya dr. Ferdiriva Hamzah, Sp.M, ini berangkat dari legenda Begu Ganjang yang dikenal dalam kepercayaan masyarakat Batak. Dalam bahasa Batak, begu berarti hantu, sedangkan ganjang berarti tinggi. Sosok tersebut dipercaya memiliki tubuh yang semakin menjulang ketika dilihat, hingga menimbulkan ketakutan bagi orang yang menyaksikannya.

Bagi produser film Begu Ganjang, Rama Michael, keunikan cerita menjadi alasan utama Delapan Entertainment Studio mengangkat legenda tersebut ke layar lebar. Menurutnya, cerita ini menawarkan sesuatu yang berbeda di tengah banyaknya film horor yang mengangkat tema serupa.

“Begu Genjang itu oleh masyarakat Sumatera Utara digambarkan sebagai sosok ghaib yang jika dilihat tubuhnya semakin tingi-semakin tinggi,” ujar Rama Michael, saat jumpa pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat pada Senin (19/10).

Lebih lanjut Rama menambahkan, ” Film Begu Genjang ini sesuatu yang unik. Ceritanya berbeda dari horor yang lain,karena menggabungkan unsur mistis di masyarakat dengan unsur medis secara nyata,” lanjut Rama.

Rama menilai, kekayaan cerita lokal Indonesia masih menyimpan banyak potensi untuk dikembangkan menjadi karya sinema. Melalui Begu Ganjang, pihaknya ingin memperkenalkan folklor Sumatera Utara kepada penonton yang lebih luas, bahkan membuka peluang untuk menjangkau pasar internasional.

Tak hanya berhenti sebagai film layar lebar, kisah Begu Ganjang juga berpotensi dikembangkan menjadi serial. Menurut Rama, cerita dalam novel tersebut memiliki ruang pengembangan yang cukup luas, meskipun proses adaptasi ke film membutuhkan penyesuaian agar jalan cerita tetap efektif dalam format sinema.

Ketika Dokter Berhadapan dengan Mitos
Daya tarik utama Begu Ganjang terletak pada pertemuan dunia medis dan kepercayaan mistis. Ferdiriva, yang berprofesi sebagai dokter spesialis mata sekaligus penulis novel, sengaja menghadirkan karakter dokter yang berpegang pada logika dan penjelasan ilmiah.

Karakter tersebut berusaha memahami berbagai peristiwa melalui sudut pandang medis. Namun, dalam perjalanannya, ia dihadapkan pada kejadian yang membuatnya mempertanyakan batas kemampuan penjelasan ilmiah.

“Sebagai dokter, saya tidak mungkin menulis cerita horor tanpa penjelasan medis,” kata Ferdiriva.

Ia berharap film ini tidak hanya menghadirkan ketegangan, tetapi juga memperlihatkan benturan pemikiran modern dan tradisional, termasuk perbedaan cara pandang antara dokter dan dukun dalam memahami suatu kejadian.

Ferdiriva mengaku tidak mudah menjawab pertanyaan apakah dirinya percaya pada hal-hal mistis. Sebagai dokter, ia merasa perlu menjelaskan segala sesuatu berdasarkan ilmu pengetahuan. Namun, ia juga tidak serta-merta menolak kemungkinan adanya hal-hal yang belum dapat dipahaminya.

Pengalaman ketika menulis novel pada dini hari turut menjadi salah satu cerita yang ia bagikan dalam diskusi. Saat sedang mengetik sekitar pukul 01.30, ia mengaku mendengar pintu kamarnya digedor. Pengalaman itu menjadi bagian dari kisah menarik di balik proses kreatifnya, meskipun tidak serta-merta membuktikan adanya unsur gaib.

Keunikan inilah yang ingin ditawarkan Begu Ganjang: horor yang tidak hanya mengandalkan ketakutan, tetapi juga menghadirkan pertanyaan tentang bagaimana manusia memahami sesuatu yang berada di luar pengetahuannya.
Mengandalkan Atmosfer, Bukan Sekadar Jump Scare

Sutradara Arwin Wardhana mengatakan, penggarapan film ini diawali dengan riset mengenai sejarah dan kepercayaan seputar Begu Ganjang, serta kehidupan profesional seorang dokter.

Riset tersebut diperlukan untuk meramu unsur folklor dan dunia medis agar keduanya dapat menyatu secara meyakinkan dalam cerita. Menurut Arwin, karakter dokter dalam film ini juga memiliki pergulatan pribadi yang menjadi bagian penting perjalanan cerita.

Dari sisi visual, Arwin memilih membangun suasana mencekam yang bertahan sepanjang film, bukan semata-mata mengandalkan jump scare atau kejutan mendadak untuk menakuti penonton.
“Bukan melulu jump scare, tapi suasananya tetap menyeramkan,” ujarnya.

Pendekatan tersebut diperkuat melalui kolaborasi para pemain dan kru, termasuk sinematografer, penata artistik, serta penata busana. Arwin juga ingin menghadirkan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga cerita tidak hanya berhenti pada teror supernatural.

Baginya, salah satu pesan emosional yang ingin ditonjolkan adalah konsekuensi dari setiap pilihan hidup. Di balik ketegangan horor, penonton diajak melihat bagaimana keputusan seseorang dapat membawa dampak yang tidak selalu mudah dihindari.

Melibatkan Budaya Lokal dalam Produksi
Upaya menghadirkan identitas Sumatera Utara tidak hanya dilakukan melalui cerita. Arwin mengungkapkan, sekitar 30 persen proses syuting dilakukan di Sumatera Utara. Produksi film ini juga melibatkan Dayang Rina Sinabutar dalam riset budaya sekaligus sebagai pemain.

Keterlibatan tersebut diharapkan membantu menghadirkan penggambaran budaya lokal secara lebih dekat dengan konteks aslinya.

Sementara itu, proses adaptasi novel ke skenario film dilakukan melalui diskusi panjang yang melibatkan Ferdiriva sebagai pemilik kekayaan intelektual atau intellectual property (IP). Tim produksi juga menggandeng Dokter Senja, seorang dokter sekaligus penulis skenario, untuk membantu menjaga unsur medis dalam cerita.

Arwin menyebut proses pengembangan skenario berlangsung hingga sekitar draf ketujuh atau kedelapan sebelum mencapai versi final. Para pemain pun menjalani lokakarya untuk memahami pekerjaan dan karakteristik profesi medis yang mereka perankan, termasuk dokter bedah dan dokter jiwa.

Bagi Ferdiriva, film ini sekaligus menjadi kesempatan memperkenalkan mitos Sumatera Utara kepada khalayak yang lebih luas. Ia berharap daerah tersebut mendapat ruang lebih besar dalam perfilman horor Indonesia, sebagaimana folklor dari berbagai daerah lain yang telah lebih dahulu diangkat ke layar lebar.

Dengan memadukan legenda lokal, riset medis, dan atmosfer horor, Begu Ganjang berupaya menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda. Film ini bukan sekadar membawa kisah tentang sosok menyeramkan dari tanah Batak, melainkan juga mengajak penonton mempertanyakan batas antara keyakinan, ilmu pengetahuan, dan misteri yang terus menyelimuti kehidupan manusia.

Artis pendukung film tersebut diantaranya adalah: Randy Pangalila, Nasya Marcella, Dwi Sasono, Alexandra Gottardo, Omara Esteghlal, Maudy Wilhelmina, Mathias Muchus, Yama Carlos, Shakeel Fauzi, Fatimah Az Zahra, dan lain-lain./Ib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *