JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di sebuah ruangan sunyi, lampu sorot menyinari sosok perempuan paruh baya yang berdiri dengan mata berkaca-kaca. Ia bukan sedang berakting. Ia sedang menumpahkan sebagian hidupnya tanpa naskah, tanpa nalar, hanya dengan perasaan.
Dia adalah Maudy Koesnaedi. Dan film terbarunya, ‘Agape: The Unconditional Love’ adalah semacam pengakuan batin yang ia persembahkan bukan hanya untuk penonton, tapi untuk dirinya sendiri.
“Ada momen di lokasi syuting ketika saya berhenti sejenak dan berkata dalam hati. Ini bukan sekadar adegan. Ini seperti saya sedang menyembuhkan diri saya sendiri,’” ujar Maudy saat peluncuran poster film ini di Jakarta, Kamis (17/7).
Disutradarai Dinda Rayhana, sineas muda yang mulai dikenal lewat karya-karya bertema keluarga, film ini bukanlah film melodrama biasa. Ia lebih mirip cermin, kadang memantulkan cinta yang indah, kadang memperlihatkan luka-luka yang tersembunyi di balik meja makan dan senyum keluarga.
Maudy memerankan Retha, seorang ibu yang menghadapi kenyataan pahit: keluarga yang ia bangun dengan cinta dan pengorbanan perlahan-lahan runtuh akibat rahasia dan kesalahan masa lalu. Retha bukanlah tokoh sempurna. Ia bukan ibu yang selalu benar. Tapi justru dalam ketidaksempurnaan itulah, ‘Agape’ pun menemukan ruhnya.
“Retha itu rapuh, tapi ia tetap memilih tinggal. Ia tetap memberi pelukan walau hatinya compang-camping,” kata Maudy.
Film ini menggandeng aktor-aktor muda seperti Jerome Kurnia, Shakira Jasmine, dan Wafda Saifan yang masing-masing membawa dinamika emosional yang kuat sebagai anak-anak Retha. Di tangan Dinda, konflik keluarga yang biasa terasa menyakitkan justru disajikan dengan lirih, kadang tanpa kata, hanya lewat tatapan dan jeda.
Yang membuat film ini berbeda dari film drama keluarga lainnya adalah kedekatannya dengan kenyataan.
“Film ini lahir dari cerita-cerita nyata yang saya kumpulkan dari orang-orang terdekat. Tapi ketika Maudy masuk dan membuka hatinya, semuanya jadi lebih dalam,” tutur Dinda Rayhana.
Tak heran jika film ini terasa begitu intim. Banyak adegan—terutama dialog antara ibu dan anak—yang terasa seperti hasil curahan hati yang pernah terpendam lama. Tak sedikit penonton yang mengaku menangis diam-diam selama pemutaran perdana film ini.
“Agape bukan film untuk ditonton sambil lalu. Ia menuntut kita untuk mengingat: siapa yang pernah kita kecewakan? Siapa yang tetap mencintai kita meski tak kita hargai?” ujar salah satu penonton, seorang psikolog keluarga yang hadir malam itu.
Dibuat dengan bujet sederhana namun dengan dedikasi tinggi, film ini bukan hanya tentang cinta yang besar. Ia juga bicara tentang maaf yang tak pernah terucap, pelukan yang tak sempat diberikan, dan keluarga yang—meski retak—masih bisa saling menggenggam.
Film ini akan tayang di bioskop mulai 1 Agustus 2025. Tak hanya di Indonesia, rumah produksi ini juga tengah menjajaki kerja sama untuk pemutaran terbatas di sejumlah festival film internasional.
Bagi Maudy, ini bukan sekadar proyek layar lebar. Ini adalah warisan emosional.
“Kalau film ini bisa membuat satu saja orang berani memeluk ibunya dan bilang ‘terima kasih’, saya sudah cukup,” ujar Maudy. (NVR)
