JAKARTA, AKURATNEWS.co – Mantan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Laksamana Sukardi meluncurkan buku berjudul ‘Belenggu Nalar’.
Dalam buku ini, Laksamana mengulas, isi dari buku tersebut berkaitan dengan perkara yang pernah menjeratnya sebagai tersangka, yakni kasus korupsi penjualan dua kapal tanker raksasa atau Very Large Crude Carrier (VLCC) Pertamina.
“Saya hanya berpikir penzoliman ini adalah secara positif. Kebenaran akan berdiri tegak, kebatilan akan hancur. Ini sesuatu hal yang saya kira bagi generasi muda inspire to be a leader,” ujar Laksamana usai peluncuran yang digelar di Jakarta, Senin (15/1).
Dia menyatakan, Indonesia merupakan negara hukum yang aturannya tidak dibuat untuk menegakkan keadilan, namun memuaskan birahi kekuasaan. Tidak hanya kasusnya yang menjadi contoh, Laksamana menyebut, Anas Urbaningrum yang terjerat kasus korupsi proyek Hambalang juga mengalami ketidakadilan penegakan hukum yang serupa.
“Contohnya nih jelas di sini, vulgar dan jelas. Saya masih beruntung, Mas Anas yang birahi kekuasaannya dalam satu partai, kalau satu partai kekuasaan ketuanya menyeret ke penjara, itu benar-benar mens reanya, kecuali oposisi yang melawan kita dulu yang melaporkan, itu wajar,” beber Laksamana.
“Oleh karena itu saya katakan, kita negara hukum tetapi bukan untuk menegakkan keadilan, hukum dipakai untuk memuaskan birahi kekuasaan atau mematikan komponen pesaing usaha, dan akhirnya Indonesia ini tidak ada kepastian hukum,” lanjut Laksamana.
Ia menyatakan, belenggu nalar telah menjalar ke setiap lembaga tinggi negara, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), jajaran penegak hukum, hingga DPR.
“Makanya saya katakan seperti yang saya tulis di kaos ini a state crime. Jangan anggap itu kan Laksamana, itu Anas Urbaningrum, saya anak wartawan, Anas anak kiai, biarinlah dibunuh nggak apa-apa. Nggak bisa, kalau itu it’s happen to your kids gimana,” ungkapnya.
Meski terbilang lama dalam memutuskan untuk menerbitkan buku tersebut, Laksamana akhirnya sadar bahwa generasi muda memerlukan bukti sejarah, bahwa di negara ini masih banyak para pemimpin pasca reformasi yang zalim.
“Jadi saya juga mengatakan tidak hanya saya yang mengalami ini, tapi teman-teman saya, direksi, Dirut BUMN pernah kena kasus, tapi karena euforia bahwa korupsi itu perlu masuk dihukum, serta penyidik penegakan hukum tidak ada kontrol di sini, bahkan lembaga-lembaga antirasuah masih nurut dengan pimpinan tinggi negara ini untuk menghabiskan anak bangsa siapapun yang dia tidak sukai, dan hakim dalam kondisi under pressure dalam euforia antikorupsi sehingga tidak bisa mengambil keputusan,” beber dia.
“Jadi saya kira saya tidak mau jelaskan lebih banyak, cukup seru juga sih saya tulis sendiri nih bukan minta orang tulis, jadi tulis sendiri. Mudah-mudahan buku ini bisa bermanfaat untuk rakyat Indonesia, generasi muda, dan mudah-mudahan dbaca oleh orang-orang zalim yang pernah menzolimi saya, menzolimi Mas Anas,” tegas Laksamana.
Ia pun tak khawatir jika buku ini nantinya akan menyinggung pihak lain.
“Buku ini tidak mungkin akan membuat orang tersinggung ya, karena semua fakta yang dikemukakan saya kutip dari berita, juga jejak-jejak digitalnya langsung saya kutip. Jadi bukan saya yang mengutarakan. Saya juga berhati-hati sekali,” ucap Laksamana. (NVR)
