JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di kalangan nahdliyin, nama KH. Marzuqi Mustamar bukan sekadar tokoh organisasi, melainkan simbol keilmuan yang kokoh dan gaya hidup yang sederhana. Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Malang ini dikenal luas berkat ketegasannya dalam membela amaliah Ahlussunnah wal Jamaah, hingga dijuluki sebagai “Hujjatul NU” (Sang Pembela/Hujjah NU).
Lahir di Blitar pada 22 September 1966 dari pasangan KH. Mustamar dan Nyai Hj. Siti Zainab, Kiai Marzuqi tumbuh dalam lingkungan pesantren yang disiplin. Sejak usia MI, beliau sudah mendalami ilmu Nahwu, Shorof, dan Fikih.
Kecerdasannya mulai terlihat menonjol saat duduk di bangku SMP; di usia yang masih remaja, beliau sudah memahami kitab Mutammimah dan dipercaya mengajar Al-Qur’an serta kitab-kitab kecil kepada para tetangganya. Ketekunan ini berlanjut saat beliau menempuh pendidikan di MAN Tlogo Blitar hingga jenjang perguruan tinggi di IAIN Malang (kini UIN Maliki).
Saat menempuh kuliah di Malang, Kiai Marzuqi nyantri kepada KH. A. Masduqi Machfudz di PP Nurul Huda Mergosono. Menyadari potensi besar muridnya, Kiai Masduqi memberi amanah kepada Kiai Marzuqi untuk mengajar kitab Fathul Qorib meski saat itu usianya baru 19 tahun. Kedekatannya dengan sang guru inilah yang membentuk karakternya menjadi ulama yang istikamah dan pejuang organisasi.
Kemandirian menjadi napas perjuangan Kiai Marzuqi. Sebulan setelah meminang Nyai Hj. Saidah (seorang hafidzoh), beliau memutuskan hidup mandiri dengan mengontrak rumah di daerah Gasek.
Tanpa disangka, di hari pertama menempati rumah kontrakan tersebut, santri-santri langsung berdatangan untuk mengaji. Hal inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Pesantren Sabilurrosyad. Di bawah asuhan beliau, pesantren ini kini berkembang menjadi benteng utama umat di wilayah tersebut.
Karier organisasi beliau sangat cemerlang di Nahdlatul Ulama, mulai dari memimpin PCNU Kota Malang hingga menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur (2018–2023). Tak hanya aktif berdakwah secara lisan, Kiai Marzuqi juga produktif dalam menulis.
Beberapa karya terkenalnya meliputi, Al-Muqtathofat li Ahlil Bidayah: Kitab dalil-dalil amaliah warga NU, Mutiara Hadis: Pembahasan hadis-hadis pilihan, Solusi Hukum Islam: Kumpulan tanya jawab fikih.
Di tengah kesibukan sebagai akademisi (Dosen UIN Malang), penulis, dan pemimpin umat, Kiai Marzuqi tetap memprioritaskan pendidikan ketujuh putra-putrinya. Kesuksesan beliau mendidik anak-anaknya terbukti dari berbagai prestasi olimpiade hingga tingkat internasional yang diraih oleh putra-putri beliau.
Bagi masyarakat Malang dan Jawa Timur, Kiai Marzuqi adalah sosok yang membuktikan bahwa penampilan sederhana bukan penghalang untuk memiliki pengaruh besar dan kecerdasan intelektual yang diakui dunia internasional./Ib. Sumber: NU Online. Foto: Dok. PWNU Jatim.
