JAKARTA, AKURATNEWS.co – Suasana hangat terasa di Griyo Kulo Resto, kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, Senin (30/3).
Di tengah riuh obrolan warga dan tokoh masyarakat yang berkumpul, anggota DPR/MPR, Once Mekel berdiri di hadapan peserta, menyampaikan pesan yang sederhana namun mendasar: bangsa ini membutuhkan kompas yang kuat di tengah derasnya arus teknologi dan informasi global.
Dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, anggota DPR/MPR dari Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) itu menekankan bahwa kemajuan teknologi bukan hanya membawa kemudahan, tetapi juga tantangan serius bagi kehidupan berbangsa.
Menurut Once, cara masyarakat berpikir dan berkomunikasi kini berubah drastis. Media sosial, katanya, menjadi ruang baru yang rawan disusupi disinformasi, hoaks, hingga polarisasi yang dapat memecah belah.
“Teknologi itu netral. Yang menentukan baik atau buruk adalah bagaimana kita menggunakannya. Nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika harus hadir, bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital,” tegas mantan vokalis Dewa 19 ini.
Pernyataan tersebut disambut anggukan peserta yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari aparat kelurahan, organisasi masyarakat, hingga pelajar dan mahasiswa.
Para ‘Anak Jaksel’ ini hadir bukan sekadar mengikuti acara seremonial, tetapi juga untuk menyerap kembali nilai-nilai dasar kebangsaan yang dinilai kian relevan di era digital.
Sebagai narasumber utama, Hamry Gusman Zakaria mengajak peserta menengok kembali keteladanan para tokoh bangsa.
Ia menyebut nama-nama besar seperti Soedirman, Wahid Hasyim, dan Soekarno sebagai figur yang mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan.
“Kalau kita belajar dari sejarah, para pendiri bangsa sudah memberi contoh bagaimana perbedaan bisa menjadi kekuatan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kita menjaga semangat itu di tengah dunia yang semakin terfragmentasi,” jelasnya.
Hamry juga menyinggung berbagai konflik internasional yang terjadi saat ini sebagai cerminan rapuhnya toleransi dan bahaya kepentingan yang tidak terkendali. Ia menilai, tanpa fondasi nilai yang kuat, sebuah bangsa mudah terjebak dalam perpecahan.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh wilayah, seperti Lurah Jagakarsa beserta jajaran, pengurus RW dan kader PKK dari Pancoran, Jagakarsa, hingga Cilandak.
Selain itu, kader internal PDI Perjuangan tingkat DPC dan PAC Jakarta Selatan juga tampak hadir, berdampingan dengan generasi muda atau yang juga biasa disebut :Anak Jaksel’ ini, mulai dari mahasiswa penerima KIPK hingga siswa dan guru SMAN 49.
Kehadiran organisasi masyarakat seperti Forum Betawi Rempug (FBR) dan Pemuda Pancasila semakin menegaskan bahwa penguatan nilai kebangsaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan gerakan kolektif lintas elemen.
Once pun menaruh harapan besar pada peran generasi muda. Ia menyebut mahasiswa sebagai “penjernih informasi” di tengah banjir konten digital, sementara organisasi masyarakat berperan sebagai penjaga stabilitas sosial di tingkat akar rumput.
Di penghujung acara, Once menegaskan bahwa sosialisasi 4 Pilar tidak boleh berhenti sebagai kegiatan formal semata. Ia berharap kegiatan ini menjadi titik awal dari gerakan berkelanjutan untuk merawat kebangsaan di tengah perubahan zaman.
“Ini bukan sekadar sosialisasi. Ini ajakan untuk bergerak bersama, menjaga Indonesia tetap utuh, baik di dunia nyata maupun di ruang digital,” tutupnya. (NVR)
