JAKARTA, AKURATNEWS – Pasca deklarasi, capres dan cawapres Koalisi Perubahan, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN) tampil di acara Mata Najwa bertajuk ‘Eksklusif: Blak-blakan Anies-Muhaimin’, Senin (4/9). Ini jadi penampilan pertama mereka bersama-sama usai deklarasi di Surabaya, Sabtu (2/9) lalu.
Di acara yang dipandu Najwa Shihab itu, Anies dan Muhaimin meluruskan sejumlah kabar miring seputar perbedaan pandangan Partai NasDem dan Partai Demokrat, tudingan petinggi Partai Demokrat terkait dipilihnya Muhaimin mendampingi Anies, persepsi bahwa Anies mengkhianati Prabowo Subianto, pemanggilan Muhaimin oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga pentingnya mengelola perbedaan dan menjaga persatuan.
Beberapa hari sebelum deklarasi pasangan capres-cawapres Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar pada Sabtu, (2/9), Anies mengungkap terjadi perbedaan pandangan antara kubu Partai Nasdem dan Partai Demokrat.
Anies mengatakan, mulai terjadi perbedaan pada Senin (28/8) dan puncaknya pada Selasa (29/8). Perbedaan tersebut terkait pencalonan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai calon wakil presiden yang akan mendampingi Anies sebagai calon presiden.
Diceritakan Anies, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh tidak setuju jika AHY yang menjadi cawapres. Sedangkan Surya Paloh, kata Anies, tidak menolak opsi AHY menjadi cawapres.
Namun Surya Paloh tidak mau terburu-buru mengambil sikap. Surya Paloh pun, lanjut Anies, tidak melarang bila Partai Demokrat keluar dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan bila tidak terima keputusan bersama itu.
Anies juga menepis tudingan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menurutnya sudah mengkhianati Partai Demokrat.
Ia membeberkan beberapa fakta yang harus disampaikan, agar semua permasalahan tersebut jelas. Dia menyampaikan begitu menghormati Presiden ke-6 RI itu. Menurut Anies, SBY merupakan panutannya yang sudah mengabdi kepada Indonesia selama 10 tahun.
“Sebenarnya saya tidak ingin menanggapi secara detail ini semua. Saya sangat hormat kepada pak SBY. Beliau (SBY) adalah panutan, beliau adalah presiden, sudah mengabdi 10 tahun, beliau adalah teladan,” tambah Anies.
Anies juga menegaskan, sama sekali tidak mengkhianati Prabowo, seperti yang dipersepsikan sejumlah pihak. Apa yang disampaikan Anies itu konteksnya pada Pilpres 2019, saat dirinya baru satu tahun menjabat Gubernur DKI Jakarta.
Dia menceritakan, percakapannya dengan Prabowo terjadi pada 2018. Saat itu, Prabowo meminta Anies menjadi cawapresnya untuk kontestasi Pilpres 2019. Di sisi lain, ada pihak lain yang menawari Anies sebagai capres sebagai kompetitor Prabowo Subianto.
“Saya bilang, saya tidak ingin menjadi orang yang mengkhianati Pak Prabowo. Saya tegaskan, saya tidak akan melakukan intersep atau memotong pencapresan Pak Prabowo. Karena saya berjanji akan menyelesaikan tugas lima tahun di Jakarta,” sambungnya.
Menurut Anies, menuntaskan tugas lima tahun sebagai Gubernur DKI Jakarta merupakan komitmennya.
“Inilah yang menjadi komitmen kami. Kami ingin memastikan janji di Jakarta bisa dituntaskan, jangan ditinggalkan,” ungkapnya.
Akhirnya Prabowo Subianto maju Pilpres 2019, dan Anies tetap menjadi Gubernur DKI Jakarta,
“Jadi saya katakan, saya tidak akan meng-intersep pencalonan bapak (Prabowo) tahun 2019. Itu sudah kami tunaikan. Jadi tidak ada yang dikhianati,” tegasnya.
Sedangkan Muhaimin Iskandar merespons terkait pernyataan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengatakan ada dalang di balik terpilihnya Muhaimin sebagai pendamping Anies Baswedan.
Pria yang akrab disapa Cak Imin ini menegaskan, pernyataan yang disampaikan SBY merupakan infomasi yang salah.
“Atas pernyataan itu benar-benar saya sampaikan itu salah informasi Pak SBY. Karena apa? Ini sama sekali tidak ada rencana percepatan itu dari semua langkah yang saya lakukan,” kata Cak Imin.
Ia juga buka suara soal dirinya akan diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan sistem perlindungan atau proteksi tenaga kerja Indonesia (TKI) oleh KPK, Selasa (5/9).
Menurut Ketua Umum PKB ini, dirinya sangat menghormati panggilan sebagai saksi oleh lembaga antirasuah tersebut.
“Saya harus hormati, hargai dan dukung penuh langkah-langkah KPK dalam menuntaskan kasus korupsi,” kata Muhaimin.
Dia tak mau berspekulasi pemanggilan dirinya oleh KPK dikaitkan dengan deklarasi menjadi cawapres berpasangan dengan capres Anies Baswedan. Muhaimin menyatakan tetap menghormati KPK sebagai penegak hukum.
“Saya tidak bisa mendikte persepsi orang. Kalau saya tegak lurus saja, KPK memang lembaga yang berwenang menuntaskan kasus-kasus korupsi,” ujarnya.
Sementara Anies berharap, pemanggilan Muhaimin oleh KPK bukan karena berkaitan dengan dideklarasikannya Ketua Umum PKB tersebut sebagai cawapres.
“Mudah-mudahan tidak (ada hubungannya dengan deklarasi Muhaimin Iskandar sebagai cawapres). Itu harapan kita. Biar sejarah nanti membuktikan,” ujar Anies.
Anies juga mengingatkan agar perbedaan dapat dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan risiko konflik.
“Tapi kalau kita tidak menjaga itu, maka ada jutaan orang yang mendukung masing-masing yang kemudian bisa friksi di lapangan, hanya karena kata-kata yang kita gunakan itu memancing konflik,” pesan mantan rektor Universitas Paramadina, Jakarta ini.
Anies juga memberikan catatan mengenai pentingnya memiliki kematangan dalam mengelola perbedaan, perasaan, dan konflik agar rasa persatuan tetap dapat dijaga. (NVR)
