JAKARTA, AKURATNEWS.co – Perempuan Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai pilar penting dalam menjaga ketahanan bangsa.
Hal itu mengemuka dalam seminar internasional yang digelar oleh Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) dalam rangka memperingati International Women’s Day 2026.
Seminar bertajuk ‘Women: The Frontline of National Resilience in the Era of Global Crisis’ tersebut digelar secara hybrid dari kantor KOWANI di Jakarta dengan menghadirkan peserta dari berbagai organisasi perempuan, akademisi, pemerintah, serta mitra pembangunan internasional.
Momentum ini juga bertepatan dengan penyelenggaraan The 70th Session of the Commission on the Status of Women (CSW70) di markas besar United Nations di New York.
Bagi KOWANI, forum ini menjadi kesempatan strategis untuk menegaskan kontribusi perempuan Indonesia dalam agenda global terkait kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, serta pembangunan berkelanjutan.
Sebagai organisasi perempuan nasional yang memiliki status konsultatif pada United Nations Economic and Social Council (ECOSOC), KOWANI melihat pentingnya memperkuat suara perempuan Indonesia di tingkat global, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan dunia yang semakin kompleks.
Seminar dibuka oleh Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa perempuan bukan sekadar kelompok yang terdampak oleh berbagai krisis global, melainkan juga aktor utama dalam menjaga ketahanan masyarakat.
Menurutnya, dalam situasi dunia yang diwarnai perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, konflik geopolitik, hingga ancaman krisis kesehatan, peran perempuan justru semakin krusial.
“Perempuan bukan hanya kelompok yang terdampak oleh berbagai krisis global, tetapi juga merupakan kekuatan utama dalam membangun ketahanan keluarga, masyarakat, dan bangsa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan panjang perjuangan perempuan Indonesia telah dimulai sejak Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928.
Kini gerakan tersebut memasuki fase penting menuju satu abad KOWANI pada 2028, yang akan menjadi tonggak sejarah bagi gerakan perempuan di Tanah Air.
Suara perempuan dalam ekonomi perawatan
Seminar ini menghadirkan sejumlah pembicara yang memiliki pengalaman panjang dalam isu pembangunan dan pemberdayaan perempuan, di antaranya Gita Sabharwal selaku United Nations Resident Coordinator for Indonesia sebagai keynote speaker, serta panelis seperti Tri Mumpuni, Wahyu Pudji Nugraheni, dan Farahdibha Tenrilemba.
Dalam sesi diskusi, Farahdibha Tenrilemba yang juga Ketua KOWANI Bidang Hubungan Luar Negeri menyoroti pentingnya pengakuan terhadap kontribusi perempuan dalam care economy, sektor kerja perawatan yang sering tidak tercatat dalam statistik ekonomi formal.
Menurutnya, ketahanan sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui kebijakan negara, tetapi juga melalui kerja-kerja sosial yang dilakukan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
“Resiliensi sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kebijakan negara, tetapi juga oleh kerja-kerja perempuan yang sering tidak terlihat dalam care economy, mulai dari merawat keluarga, menjaga kohesi sosial, hingga menopang ekonomi komunitas,” jelasnya.
Di berbagai daerah di Indonesia, perempuan memainkan peran vital dalam menjaga keberlanjutan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi pengelola kesehatan keluarga, tetapi juga penggerak solidaritas komunitas serta pelaku usaha mikro yang menopang ekonomi lokal.
Melalui forum ini, KOWANI juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi nasional dan internasional dalam memperjuangkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
Langkah tersebut sejalan dengan berbagai agenda global, termasuk implementasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) serta kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Seminar ini diharapkan menjadi ruang dialog yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan praktik terbaik dari berbagai pihak dalam membangun masyarakat yang lebih adil, tangguh, dan berkelanjutan.
Didirikan pada 1928, Kongres Wanita Indonesia dikenal sebagai federasi organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Selama hampir satu abad, organisasi ini aktif memperjuangkan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, serta penguatan peran perempuan dalam pembangunan nasional maupun global.
Dengan status konsultatif di ECOSOC, KOWANI memiliki akses untuk berpartisipasi dalam berbagai forum internasional yang membahas isu perempuan dan pembangunan. Melalui berbagai inisiatifnya, organisasi ini terus mendorong agar perempuan Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari perubahan, tetapi juga menjadi motor penggeraknya. (NVR)
