BOYOLAI, AKURATNEWS.co – Lapangan Songgo Langit, Desa Sumbung, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Selasa (14/1) menjadi saksi bagaimana sepakbola desa menjelma menjadi perayaan kebersamaan, semangat dan harapan.
Di tempat inilah laga puncak Final Liga Desa 2026 digelar, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Desa Nasional 2026.
Sejak peluit awal dibunyikan, pertandingan antara Desa Kalibening, Kabupaten Banjarnegara melawan Desa Karanggondang, Kabupaten Jepara, berlangsung ketat.
Kedua tim tampil tanpa beban, mengandalkan kecepatan dan semangat juang khas sepakbola kampung. Hingga waktu normal berakhir, skor tetap imbang dan memaksa laga ditentukan melalui adu penalti yang menegangkan.
Pada babak tos-tosan itu, ketenangan pemain Desa Karanggondang Jepara menjadi pembeda. Empat algojo mereka sukses menjalankan tugas, sementara dua penendang Desa Kalibening gagal menambah angka.
Skor 4–2 pun memastikan Desa Karanggondang Jepara keluar sebagai juara Liga Desa 2026. Kemenangan tersebut disambut gegap gempita oleh para pemain dan pendukung yang datang langsung dari Jepara.
Trofi juara diserahkan langsung Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, yang hadir menyaksikan laga final dari pinggir lapangan.
Selain piala, tim juara juga membawa pulang hadiah uang pembinaan sebesar Rp50 juta, sementara Desa Kalibening sebagai runner-up menerima Rp40 juta.
Sejumlah pejabat turut mendampingi Mendes dalam acara tersebut, di antaranya Wakil Menteri Desa PDT, Bupati Boyolali, serta jajaran pemerintah daerah dan tokoh masyarakat setempat.
Kehadiran para pejabat negara di tengah lapangan desa menegaskan posisi Liga Desa sebagai agenda nasional yang berangkat dari akar rumput.
Sebelum pertandingan dimulai, Mendes Yandri Susanto lebih dulu memimpin kick-off simbolis sekaligus meresmikan Lapangan Sepakbola Songgo Langit.
Lapangan ini dibangun sebagai sarana olahraga masyarakat desa dan diharapkan menjadi pusat aktivitas kepemudaan di wilayah tersebut.
Dalam sambutannya, Mendes PDT menegaskan bahwa Liga Desa bukan sekadar turnamen sepakbola. Lebih dari itu, kompetisi ini menjadi bagian dari strategi pembangunan desa berbasis manusia.
“Liga Desa ini menjadi ruang pembinaan bagi generasi muda desa untuk menumbuhkan sportivitas, disiplin, dan kebersamaan. Dari desa, kita ingin lahir talenta-talenta unggul,” ujar Yandri.
Ia menambahkan, penguatan aktivitas olahraga di desa sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama.
“Membangun desa tidak hanya soal infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga bagaimana kita menyiapkan kualitas SDM-nya. Olahraga menjadi salah satu jalannya,” katanya.
Liga Desa 2026 sendiri digelar sebagai kompetisi antar desa yang sekaligus berfungsi sebagai wadah pencarian bibit atlet sepak bola dari wilayah perdesaan.
Kementerian Desa PDT sendiri mendorong agar ajang ini dapat digelar secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak desa di berbagai daerah di Indonesia.
Dan sore itu, ketika matahari mulai turun di balik perbukitan Boyolali, lapangan desa tak hanya meninggalkan cerita tentang siapa yang menang dan kalah.
Liga Desa 2026 menghadirkan pesan bahwa dari desa, semangat persatuan, prestasi, dan masa depan olahraga nasional bisa tumbuh dan dirawat bersama. (NVR)
