JAKARTA, AKURATNEWS – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyelenggarakan seminar online yakni Ngobrol Bareng Legislator dengan mengusung tema: “Dunia Maya dan Jejak Digital”. Seminar diselenggarakan pada hari Rabu, 10 Mei melalui platform zoom meeting.

Dalam seminar Ngobrol Bareng Legislator ini, terdapat empat narasumber yang berkompeten pada bidangnya, yaitu Bapak Dr. H. Abdul Muhaimin Iskandar, M.Si  yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi I DPR RI. Narasumber kedua yakni Bapak Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc menjabat sebagai Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI serta mengundang Bapak Dr. Achmad Maulani yang merupakan Pengamat Sosial Budaya serta Bapak Arif Hidayat selaku Pegiat Literasi Digital.

 Seminar Literasi Digital ini merupakan inisiasi yang di dukung oleh Kementerian Kominfo terhadap Program Ngobrol Bareng Legislator yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, dengan memiliki beberapa tujuan, diantaranya yakni untuk mendorong masyarakat agar mengoptimalkan pemanfaatan internet sebagai sarana edukasi dan bisnis.

Baca artikel lainnya: Sandiaga Uno Jejaki Kerjasama Wonderful Indonesia dengan Manchester United

Selain itu juga untuk memberdayakan masyarakat agar dapat memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan dan bermanfaat, memberikan informasi yang lengkap kepada masyarakat terkait pembangunan Infrastruktur TIK yang dilakukan oleh Pemerintah khususnya oleh Ditjen APTIKA, serta mewujudkan jaringan informasi serta media komunikasi dua arah antara masyarakat dengan masyarakat maupun dengan pihak lainnya. Seminar ini terdiri dari beberapa sesi, yaitu sesi pembukaan, pemaparan materi, sesi tanya jawab, dan sesi penutup.

Sesi pemaparan diawali oleh pengantar serta pembukaan yang disampaikan oleh Sesi pemaparan diawali oleh pengantar serta pembukaan yang disampaikan oleh Dr. H. Abdul Muhaimin Iskandar, M.Si. Dalam paparannya beliau menyampaikan,

“Sejak era dunia sosial media, era digital indonesia menjadi pasar bebas dari pola pikir, cara pandang ideologi, cara kerja seluruh kekuatan dunia. Melalui sosial media, dunia internet bangsa kita menjadi target sasaran konsumen  utama ideologi – ideologi yang berkembang, maka kita meyaksikan banyak sekali warga bangsa kita di rekuitment menjadi pasukan isis. Ini fakta yang menunjukan bahwa dunia sosial media telah membawa keadaan kita seperti tanpa pintu, menerima masuk tamu-tamu, memberikan kesempatan orang-orang meyakinkan kita tanpa kita sadari. Oleh karena mari itu kita semua ayo menjadi subjek sosial media  yang pro aktif, di balik karir masyarakat kita, sehingga masyarakat kita tidak mudah untuk di adudomba, tidak mudah di jadikan korban, tidak dijadikan obyek ideologi-ideologi kekerasan yang masuk ke negara indonesia, ” Papar Muhaimin.

Paparan kedua adalah sambutan oleh Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa,

“Sebagaimana yang telah diketahui bersama, dampak pandemi dan pesatnya teknologi telah mengubah cara kita beraktivitas dan bekerja. Kehadiran teknologi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat inilah yang semakin mempertegaskan kita sedang menghadapi era disubsi teknologi. Untuk mengahadapi hal tersebut, kita semua harus mempercepat kerjasama kita dalam mewujudkan agenda trasnformasi digital Indonesia. Bersama-sama wujudkan cita-cita bangsa Indonesia dengan menjadikan masyarakat madani berbasis teknologi. Kemampuan yang kita miliki serta keunggulan yang terus dijaga akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang hebat dan besar, serta menjadi unggul dalam segi sumber daya manusia,” papar Semuel.

Baca artikel lainnya: Sempat Turun, Harga Emas Antam Kembali Merangsak Naik

Pemaparan yang ketiga disampaikan oleh Dr. Achmad Maulani Arif Hidayat yang merupakan Pengamat Sosial Budaya. Dalam paparannya beliau menyampaikan bahwa,

“Orang yang menguasai data adalah orang yang akan menguasai masa depan , maka ini penting sebagai landasan bijak kita di era disrupsi teknologi memiliki perang yang sangat signifikan, maka ketidakseimbangan global sebabkan oleh ketidaksetaraan kita di dalam memilik data, jadi siapa yang memiliki data ialah yang memiliki masa depan. Jadi yang harus di yakini teman-teman bahwa kita berada di era disrupsi media informasi tidak ada cara lain kecuali kita beradptasi dengan perubahan itu. Kalau teman-teman tidak bisa beradaptasi maka teman-teman akan hilangkan oleh sejarah pergerakan itu sendiri,” papar Achmad maulani.

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Arif Hidayat selaku Pegiat Literasi Digital. Dalam paparannya beliau menyampaikan bahwa.

“Media sosial bagaikan pedang bermata dua, dimana kita harus pandai-pandai menggunakanya, harus bijak dan cerdas dalam bersosialisasi melalui medsos. Sedangkan jejak digital adalah rekam atau bukti yang ditinggalkan setelah beraktivitas di internet yang berpotensi untuk dicari, di lihat, di salin, di publikasi dan diikuti oleh orang lain. Jejak digital dapat membentuk citra diri seseorang, maka jejak digital buruk dapat merugikan diri sendiri.  Setiap aktivitas yang kita lakukan di ruang siber akan terekam dan meninggalkan jejak digital. Maka dari itu berpikirlah sebelum posting, karena yang kita lakukan di dunia maya kelak akan membentuk citra anda di masa depan,” papar Arif./Ib

           

By redaksi