JAKARTA, AKURATNEWS.co – Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah pameran industri kaca dan fenestrasi paling bergengsi yakni Glasstech Asia & Fenestration Asia 2025.

Ajang ini menandai tonggak penting dalam penguatan ekosistem industri kaca dan arsitektur bangunan di Asia Tenggara, sekaligus menggarisbawahi peran strategis Indonesia di tengah tantangan global seperti perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Setelah sukses menyelenggarakan edisi ke-20 di Ho Chi Minh City, Vietnam pada 2023 yang mencatat lebih dari 4.000 pengunjung profesional.

Tahun ini, pameran ditargetkan akan menghadirkan lebih dari 300 peserta pameran dari minimal 35 negara, termasuk negara-negara eksportir dan pengguna kaca besar seperti Jerman, China, Korea Selatan, Jepang, Italia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan tentu saja Indonesia.

Dalam kesempatan ini, CEO dan Direktur Utama MMI Asia, Michael Wilton menyatakan bahwa meskipun ketegangan geopolitik global belum mereda, peluang bisnis di kawasan ini justru terus tumbuh.

“Perang tarif AS-China belum memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan industri kaca di Asia Tenggara. Pasar seperti Indonesia memiliki daya serap besar, apalagi dengan dukungan kuat dari pelaku industri China sebagai mitra utama,” ujar Wilton di Jakarta, Kamis (7/5).

Ditambahkan Putra Narjadin, Dewan Penasehat Asosiasi Kaca Lembaran & Pengaman (AKLP), menegaskan bahwa dampak perang tarif terasa di hampir semua lini industri.

“Tapi kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, mendapat keunggulan kompetitif karena bebas tarif dengan China. Pemerintah harus terus mendorong regulasi energi wajib, serta memanfaatkan peluang transfer teknologi untuk memperkuat kapasitas industri lokal,” katanya.

Pameran yang mengusung tema ‘Asia’s Largest Network of Glass and Facades’ ini dirancang menampilkan teknologi mutakhir seperti kaca arsitektural berlapis, profil aluminium dan PVC untuk pintu dan jendela, hingga sistem fasad canggih yang mendukung pencahayaan alami dan efisiensi energi.

Sedangkan Rafidi Iqra Muhammad, Direktur PT. Debindo Global Expo mengatakan, pasar konstruksi Indonesia yang diproyeksikan tumbuh hingga Rp2.775 triliun pada 2028 menjadi daya tarik besar bagi investor dan produsen global.

“Pameran ini bukan sekadar ajang jual beli produk, tapi menjadi ekosistem pertukaran gagasan, inovasi, dan kolaborasi lintas negara untuk menjawab tantangan pembangunan masa depan,” jelasnya.

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita, menyambut baik ajang ini sebagai dukungan nyata bagi penguatan industri kecil dan menengah di sektor kaca serta manufaktur bahan bangunan. Ia menyebut pentingnya mempercepat hilirisasi dan mendorong penggunaan produk dalam negeri melalui kebijakan strategis.

Diselenggarakan oleh Messe München International (MMI Asia) dan Singapore Glass Association (SGA), Glasstech Asia & Fenestration Asia 2025 akan menghadirkan sesi konferensi, demo teknologi, dan pertemuan bisnis B2B.

Target pengunjung mencapai lebih dari 6.000 profesional, mulai dari arsitek, kontraktor, pengembang properti, perencana kota, hingga pembuat kebijakan dari kawasan Asia-Pasifik.

Pameran ini dijadwalkan berlangsung pada 6–9 November 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, dan akan menjadi ajang strategis mempertemukan kepentingan industri, pemerintah, dan pasar global. (NVR)

By editor2