Gelombang Demonstrasi Landa Sejumlah Negara Eropa
JAKARTA, AKURATNEWS.co – Tak hanya di Prancis, kini gelombang demonstrasi yang melibatkan ribuan hingga puluhan ribu orang melanda sejumlah negara Eropa pada akhir pekan di minggu terakhir Oktober 2026.
Aksi unjuk rasa berlangsung di Italia, Inggris, Belanda, dan Jerman dengan berbagai tuntutan, mulai dari kenaikan upah kerja, perbaikan layanan publik, hingga penolakan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
Sejumlah demonstrasi berlangsung damai, tetapi beberapa lainnya berujung bentrokan dengan aparat keamanan. Penjarahan toko, pelemparan bom molotov, hingga penangkapan ratusan demonstran mewarnai aksi unjuk rasa di sejumlah kota di Eropa.
Berikut rangkuman lima perkembangan demonstrasi di Eropa yang terjadi pada Jumat (30/10/2026) hingga Sabtu (31/10/2026).
1. Demo di Italia Tuntut Kenaikan Upah
Puluhan ribu orang menggelar demonstrasi di berbagai kota di Italia pada Jumat (30/10/2026) waktu setempat. Sebagian besar peserta aksi merupakan mahasiswa dan pekerja yang menuntut kenaikan upah, perbaikan layanan publik, serta memprotes tingginya biaya hidup dan peningkatan anggaran militer.
Demonstrasi tersebut dipicu seruan pemogokan umum selama 24 jam yang disampaikan serikat pekerja akar rumput, Unione Sindacale di Base. Serikat pekerja itu juga mengorganisasi aksi unjuk rasa di lebih dari 40 kota di Italia.
Aksi berlangsung setelah bentrokan antara demonstran dan polisi terjadi pada awal Oktober. Dalam insiden tersebut, sejumlah pengunjuk rasa terlibat kerusuhan, menjarah toko, dan merusak fasilitas umum.
Meski demikian, demonstrasi pada Jumat sebagian besar berlangsung damai, meskipun ketegangan sempat meningkat di beberapa wilayah. Mengutip Asia One, polisi di Turin mengerahkan meriam air untuk membubarkan mahasiswa dan aktivis sayap kiri yang mendekati barisan aparat keamanan.
2. Demo Dukung Palestina di London, 325 Orang Ditangkap
Sebanyak 325 orang ditangkap dalam demonstrasi yang mendukung Palestine Action di dekat Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di London, Inggris, Sabtu (31/10/2026). Sebagian besar penangkapan dilakukan atas dugaan menyatakan dukungan terhadap organisasi yang telah dilarang berdasarkan undang-undang antiterorisme Inggris.
Sebelumnya, ratusan demonstran berkumpul dengan membawa poster berisi pesan dukungan terhadap Palestina dan penolakan terhadap tindakan yang mereka sebut sebagai genosida.
Salah satu poster yang dibawa peserta aksi bertuliskan, “Saya menentang genosida, saya mendukung Palestine Action.” Aksi tersebut juga diwarnai seruan “Bebaskan, bebaskan Palestina” dari para demonstran.
Petugas kepolisian melakukan penangkapan hingga malam hari. Sejumlah demonstran dilaporkan dibawa menggunakan mobil van polisi, sementara sebagian lainnya menolak berjalan sendiri sehingga harus digotong petugas.
Palestine Action ditetapkan sebagai organisasi terlarang di Inggris pada Juli 2025 berdasarkan undang-undang antiterorisme. Sejak saat itu, ribuan orang telah ditangkap dalam berbagai aksi yang berkaitan dengan kelompok tersebut.
Kelompok Defend Our Juries, yang mengoordinasikan sejumlah demonstrasi untuk menentang pelarangan Palestine Action, menyebut jumlah penangkapan terus meningkat.
3. 34 Orang Ditangkap dalam Demo Gen Z di Belanda
Aksi unjuk rasa yang melibatkan kelompok generasi Z di Den Haag, Belanda, pada Sabtu (31/10/2026) waktu setempat berakhir kondusif tanpa kerusuhan besar. Meski situasi secara umum terkendali, namun pihak aparat menangkap 34 orang yang sebagian besar masih berusia remaja.
Menurut laporan kepolisian yang dikutip The Netherlands Times, sebagian besar orang yang ditangkap berusia 15 hingga 18 tahun. Mereka dijerat dengan berbagai tuduhan, termasuk melakukan kekerasan di tempat umum, membawa barang terlarang, serta mengenakan pakaian yang menutupi wajah.
Para demonstran yang ditangkap diketahui berasal dari sejumlah kota di Belanda, antara lain Amsterdam, Zwolle, Zwijndrecht, Lemele, dan Beerta.
Meski tidak terjadi kerusuhan berskala besar, situasi sempat memanas ketika sejumlah demonstran melemparkan kembang api ilegal ke arah petugas kepolisian. Insiden tersebut menyebabkan seorang polisi harus dilarikan ke rumah sakit karena diduga mengalami gangguan pendengaran.
Polisi juga mengerahkan pasukan antihuru-hara untuk mengendalikan situasi di kawasan Korte Voorhout. Sebelumnya, sedikitnya 10 orang dilaporkan ditangkap di lokasi tersebut karena menolak mematuhi perintah petugas. Meski demikian, aksi di Belanda tidak berujung pada kerusuhan maupun penjarahan seperti yang sebelumnya terjadi di Prancis.
4. Demo Gen Z di Jerman Diwarnai Penjarahan dan Bom Molotov
Demonstrasi besar-besaran yang digelar kelompok Gen Z di sejumlah kota di Jerman berakhir ricuh pada Sabtu (31/10/2026). Sejumlah perusuh bertopeng menjarah toko di Frankfurt, sementara polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan massa yang melemparkan bom molotov.
Kerusuhan juga terjadi di sejumlah kota besar, termasuk Berlin, Cologne, dan Hamburg. Beberapa anggota kepolisian dilaporkan terluka setelah puluhan ribu orang mengikuti demonstrasi yang diinisiasi kelompok GenZ regelt! (Gen Z mengambil kendali).
Aksi tersebut terinspirasi gerakan serupa di Prancis dan Italia yang mendesak kalangan elite politik agar lebih memperhatikan aspirasi generasi muda.
Pada siang hari, demonstrasi berlangsung relatif damai. Namun, situasi berubah pada malam hari ketika sejumlah kelompok massa menolak membubarkan diri hingga bentrokan dengan polisi tidak terhindarkan.
Kondisi paling parah terjadi di Frankfurt, kota pusat keuangan Jerman. Polisi menghadapi demonstran yang melemparkan batu, kembang api, dan bom molotov. Aparat membalas dengan menembakkan meriam air serta menyemprotkan gas berisi lada.
Dalam pernyataannya, kepolisian menyebut situasi di Frankfurt telah berubah menjadi kerusuhan. Sejumlah toko mengalami kerusakan setelah jendelanya dihancurkan. Bom molotov juga dilemparkan ke arah petugas layanan darurat.
Salah satu toko yang menjadi sasaran penjarahan merupakan toko senjata. Polisi menangkap seorang tersangka dan menyita dua senjata api dari lokasi tersebut.
Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Hesse, Roman Poseck, mengatakan sekitar 100 orang yang teridentifikasi sebagai ekstremis sayap kiri menyusup ke dalam demonstrasi di Frankfurt.
“Memalukan bagaimana acara demonstrasi di Frankfurt ini berakhir,” kata Poseck./Ib. Sumber: Beritasatu, Foto: (Stefano Rellandini/AFP/Getty Images).
