JAKARTA, AKURATNEWS.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang jadi solusi stunting dan beban ekonomi orang tua, kini dihadapkan pada cermin jujur dari penerimanya sendiri.

Survei terbaru AKADEMIKA – Centre for Public Policy Analysis yang dilakukan sejak April–Mei 2026 menunjukkan jika manfaat MBG nyata, tapi borosnya juga nyata.

Dari 280 orang tua yang punya anak penerima MBG, hanya 36 persen yang bilang anaknya “selalu menghabiskan” paket MBG.

Sisanya? 49 persen mengaku tidak selalu habis, 15 persen tidak tahu. Nggak heran kalau laporan sisa makanan yang dibuang atau dilempar ke pakan ternak makin sering muncul.

Orang tua juga mengakui MBG membantu. 51 persen responden bilang waktu menyiapkan bekal di rumah jadi lebih singkat. 31 persen merasa beban ekonomi berkurang. Itu sisi terang MBG yang tak bisa dibantah.

Tapi sisi gelapnya juga kentara. Tiga keluhan utama yang muncul: lauk kurang bervariasi 42 persesn, rasa makanan tidak enak 39 persen, dan makanan tidak sesuai harga/anggaran 37 persen.

Kekhawatiran terbesar justru bukan yang sudah terjadi, tapi yang ditakuti. Hanya 6 persen responden pernah mengalami kasus keracunan makanan di sekolah anaknya.

Tapi 80 persen menyatakan khawatir keracunan akan terjadi. Hanya 14 persen yang tenang, sisanya bingung.

Kejanggalan lain muncul saat sekolah libur. Kebijakan saat ini tetap membagikan paket MBG.

Hasilnya? Hanya 35 persen siswa yang selalu menghabiskan MBG di rumah. 12 persen bahkan sama sekali tidak menyentuh makanan itu. Bayangkan: anggaran negara jalan terus, tapi makanan berakhir di tempat sampah.

Paradoks juga muncul soal sasaran. 58 persen responden setuju MBG untuk semua siswa. Tapi 42 persen lainnya tegas: kasih ke yang benar-benar butuh saja. Pernyataan itu dikuatkan data lain: 51 persen  orang tua mengaku tidak masalah kalau anaknya dicoret dari daftar penerima MBG.

“Ini sinyal kuat. Masyarakat tidak menolak MBG. Mereka minta MBG lebih tepat sasaran,” ujar Direktur Pelaksana AKADEMIKA, Edy Priyono di Jakarta, Senin (16/6).

Berdasarkan temuan itu, AKADEMIKA, lanjut Edy, mendesak pemerintah jangan ragu melakukan efisiensi dan perbaikan. Bukan berarti menghapus program, tapi merapikan eksekusinya.

Empat langkah utama yang disarankan untuk merapikan program ini adalah:

1. Tepat sasaran: MBG hanya untuk siswa yang sangat membutuhkan. Sekolah yang sudah punya program makan sendiri jangan dipaksa. Siswa yang mau bawa bekal sendiri juga jangan dipersulit. Koordinasi BGN dengan sekolah jadi kunci.

2. Libatkan kantin sekolah: Kalau kantin mampu, serahkan pengolahan dan distribusi ke mereka. Dengan pengawasan BGN, masalah keterlambatan dan makanan basi diharapkan berkurang.

3. Menu terjadwal & transparan: Susunan menu dibuat terjadwal dan diinformasikan ke orang tua. 80 persen responden minta menu lebih bervariasi, 30 persen minta menu diumumkan dulu.

4. Stop saat libur/puasa: Saat bulan puasa dan libur sekolah, paket MBG sebaiknya tidak dibagikan. Ini langkah efisiensi paling sederhana tapi dampak anggarannya besar.

28 persen responden juga menyoroti waktu distribusi yang sering telat. Hal kecil, tapi menentukan apakah makanan sampai dalam kondisi layak makan.

Survei terbaru ini menunjukan, walau gratis, tapi tanpa mutu dan tanpa target yang jelas, program ini ujungnya jadi mubazir. (NVR)

By editor2