JAKARTA, AKURATNEWS co – Tahun ini, sebuah festival film pendek bertajuk ‘May Day Short Movie Festival 2026’ segera hadir.
Malam puncaknya akan digelar pada 18 Agustus 2026 bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan dengan tagline ‘Saya Adalah Pekerja, Pekerja Adalah Saya, Sudah Merdeka Kah?’
Festival ini sendiri nantinya akan menjadi jembatan baru antara buruh, petani, nelayan, hingga anak SMK buat bersuara.
“Kita launching pada Mayday Merah Putih. Puncaknya tanggal 18 Agustus 2026 sekaligus memperingati kemerdekaan. Taglinenya ‘Saya Adalah Pekerja, Pekerja Adalah Saya, Sudah Merdeka kah?’,” ujar Sonny Pudjisasono, Deputi 1 Penasehat Khusus Presiden Bidang Tenaga Kerja dan Kesejahteraan di Jakarta, Selasa (11/8).
Gagasan festival ini lahir dari evaluasi May Day 2025 yang dihadiri Presiden. Menurut Sonny, selama ini penyampaian aspirasi identik dengan demo di jalanan. Walau sah secara UU, tapi sering diwarnai anarkis alias kekerasan dan kegaduhan.
“Tahun 2026 kita pengin ada ruang dialog baru. Selain demo, kita bikin cara menyampaikan aspirasi tanpa kekerasan yaitu lewat media digital. Kita kemas dalam bentuk film pendek,” jelas Sonny.
Festival ini nantinya bisa jadi wadah buat kelas pekerja menyuarakan isu real seperti soal upah, PHK, BPJS, sengketa lahan, hingga suara ojol dan nelayan.
“Yang penting tujuannya sama, menyampaikan aspirasi di depan umum. Tapi dikemas dengan kaidah sinematografi biar enak ditonton dan terekam terus,” katanya.
Dari film yang masuk seleksi tahap awal, isunya beragam. Mulai sengketa lahan pertanian di Jawa Tengah, kehidupan ojol, hingga keresahan anak SMK soal sarapan pagi.
“Ada film yang isinya soal ibu belum masak hingga membuat anak takut sekolah. Itu real. Kita akomodasi semua aspirasi itu,” kata Sonny.
Pesertanya juga tak cuma dari serikat buruh, petani, nelayan. Ada juga dari SMK dan komunitas sineas.
Ketua Dewan Juri festival ini, Didang Pradjasasmita menyebut, untuk tahun pertama, festival ini baru membuka lima kategori dari 10 kategori yang direncanakan.
“Ke depannya akan ada kategori lingkungan hidup, kemiskinan kota, HAM, dan kategori lain,” jelas Didang.
Film-film pendek terpilih pun nantinya tak berhenti hanya di Indonesia. Rencananya akan diputar di kanal Lokapala dan dikirim ke festival film pendek di Prancis.
“Kita ingin ini jadi embrio ke film layar lebar,” ujar Sonny lagi.
Panitia festival juga menjamin jika film yang disuguhkan festival ini nantinya bukan sebagai ‘corong pemerintah’ belaka dan akan mengupayakan solusi atas aspirasi yang disampaikan lewat film pendek ini.
“Kita tetap mengutamakan aspirasi masyarakat yang dibungkus dalam sebuah bingkai film yang mengandung unsur sinematografi dan bukan produk jurnalistik,” beber Sonny.
Sonny juga menyoroti soal masih banyak peserta yang belum paham bedanya film aspirasi dengan video jurnalistik atau dokumenter biasa.
“Banyak yang masuk masih sifatnya laporan jurnalistik. Makanya, di 2027 nanti kita mau bikin workshop. Kita kasih pemahaman aktivis dan kelompok masyarakat cara bikin film pendek yang tajam kritiknya, tapi tetap enak ditonton,” katanya.
Dukungan juga datang dari Kapolri dan kementerian terkait. Harapannya, May Day Short Movie Festival ini bisa jadi alternatif penyampaian aspirasi yang kreatif, aman, dan meninggalkan jejak.
“Kalau demo di jalan besoknya hilang. Kalau ini direkam dalam film pendek, suaranya akan terus ada dari tahun ke tahun,” tutup Sonny.
Malam puncak festival ini sendiri akan dihadiri Menteri Tenaga Kerja, Menteri Kebudayaan, dan Sonny Pudjisasono Penasehat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan. (NVR)
