JAKARTA, AKURATNEWS.co – Lima tahun jalan sendiri tanpa label besar, Astrid akhirnya pecah telur sambil berevolusi.
Album penuh bertajuk ‘Aku Dan Cahaya’ resmi dilepasnya ke publik, sekaligus menjadi pembuktian kalau musisi independen juga bisa produktif dan relevan.
Nama Astrid emang nggak asing di dunia tarik suara tanah air. Lagu-lagu seperti :Jadikan Aku Yang Kedua’, ‘Tentang Rasa’ atau ‘Mendua’ sudah lama menjadi soundtrack galau satu generasi.
Bahkan tanpa mesin promosi label, lagu-lagunya seperti ‘Jadikan Aku Ratu’, ‘Melawan Arus Jakarta’ sampai ‘Silakan’ tetap nangkring dengan total 200 juta lebih streams di Spotify dan YouTube.
Album ‘Aku Dan Cahaya’ ini isinya 10 lagu. Fondasinya dari mini album ‘Masih Di Sini’ yang rilis akhir 2025 dengan berisi lima lagu, ditambah tiga lagu baru biar benang merah ceritanya kelar.
Astrid sendiri bilang ini menjadi album paling personal dalam karir bermusiknya.
“Lima tahun indie itu capek, tapi bikin gue bebas nentuin mau ngomong apa lewat musik,” ungkap Astrid di sela peluncuran Aku Dan Cahaya di Jakarta, Rabu (15/4).
Yang bikin heboh di album ini, Astrid mengajak Adrian Martadinata tak cuma sebagai Music Director, tapi juga temen duet di single jagoan ‘Kuingin Kau Tau’.
Padahal lagu itu sebenarnya karya orisinal Adrian yang dulu sempet hits. Dan syarat dari Astrid simpel.
“Kalau gue bawain lagi, kamu harus nyanyi juga,” ucap Astrid.
Hasilnya? Nggak kaleng-kaleng sih, lantaran duet yang nggak maksa. Suara serak khas Astrid ketemu timbre adem Adrian, dibungkus aransemen akustik plus strings yang megah tapi nggak lebay. Temanya LDR, relate banget buat yang lagi kesandung rindu beda kota.
Secara musik, album ini seperti evolusi Astrid versi 2.0. Hal ini terlihat dari tiga poin yang paling kerasa.
Pertama, less is more, tapi megah. Adrian sebagai MD pinter. Dasar lagunya cuma gitar-piano biar intim. Tapi pas reff strings section masuk pelan-pelan. Jadi kerasa kayak nonton film: sepi dulu, baru meledak cantik.
Teknik ini bikin ‘Kuingin Kau Tau’ nggak cuma lagu galau, tapi cinematic. Di era semua musisi pakai beat, Astrid malah milih akustik orkestral. Sebuah langkah yang berani.
Lalu, vokal Astrid nggak cuma serak, tapi pinter main rasa. Dulu Astrid identik sama power di nada tinggi. Di album ini dia lebih banyak main bisik-bisik.
Verse dinyanyiin tipis pakai head voice, pas chorus baru dibuka. Jadinya pendengar diajak masuk ke ceritanya dulu, nggak langsung ditampar. Duetnya sama Adrian juga bukan adu tinggi, tapi layering. Suara Adrian serasa jadi karpet dan suara Astrid jadi lukisan di atasnya.
Kemudian dari sisi lirik dan produksi, Astrid nggak ngejar viral, tapi lebih ngejar awet. Kalau dulu hooknya harus kena di detik ke-5, sekarang Astrid ngebiarin lagu napas dulu.
Liriknya juga naik kelas: dari “kenapa kamu jahat” jadi “kenapa aku masih nunggu cahaya dari orang yang sama”.
Mixingnya bersih, reverb-nya luas, drum diganti ketukan kayu dan shaker. Album ini sepertinya enak didengerin pakai headset jam 1 pagi, tapi bukan buat dance challenge ya..
Album fisik ‘Aku Dan Cahaya’ inj dirilis bareng Hadir Entertainment dan didistribusikan Jagonya Musik & Sport Indonesia serta sudah bisa dibeli di KFC Stores seluruh Indonesia.
Pamungkas, di album ini Astrid sepertinya sudah selesai berantem dengan dirinya sendiri. Nggak ada lagi pembuktian “gue bisa tanpa label”.
Yang ada cuma 10 lagu jujur dengan tata suara yang mahal. Independen ternyata bukan berarti seadanya. (NVR)
