Jelang Jakarta 500 Tahun, JGTC 2026 Hadirkan Karimata dan Krakatau
JAKARTA, AKURATNEWS.co – Panggung Jazz Goes To Campus (JGTC) tahun ini tak main-main. Dua nama besar yang dulu saling bersaing di era 80-an akhirnya dipertemukan lagi.
Ya.. Karimata dan Krakatau akan satu panggung pada Jumat, 31 Juli 2026 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki,
JGTC The City Series Vol.2 akan jadi saksi perang nada sekaligus pelukan musik antara dua ikon jazz Indonesia itu.
Ini bukan konser biasa. JGTC kali ini digelar sebagai puncak perayaan menuju dua tonggak besar: 50 tahun Jazz Goes To Campus dan 500 tahun Kota Jakarta.
Kalau biasanya JGTC identik dengan jazz kampus yang santai, tahun ini berbeda.
“Kali ini, JGTC ingin menampilkan jenis yang lain, yaitu jazz yang lebih fusion, jazz-rock,” kata Candra Darusman, kibordis Karimata sekaligus penggagas JGTC di Jakarta, Senin (27/7).
Dan siapa yang paling pas membawanya selain Karimata dan Krakatau? Dua band yang lahir di periode yang sama, besar bersama, dan sampai sekarang masih jadi rujukan jazz fusion Tanah Air.
“Krakatau dengan Karimata itu kayak saudara. Dua band ini muncul pada periode yang sama, dan asyik banget pada saat itu. Saat-saat yang mengasyikkan itu mari kita ulangi di sini, di JGTC – The City Series,” ujar Dwiki Dharmawan, kibordis Krakatau.
JGTC The City Series Vol.2 janji kasih sajian yang nggak akan kamu temui di tempat lain.
Karimata dan Krakatau akan membawakan repertoar terbaik mereka. Tapi puncaknya ada di tiga menu spesial yakni battle performance, kolaborasi lintas personel, hingga tukar lagu.
Bayangin, lagu Karimata dibawain Krakatau. Atau sebaliknya. Ditambah jam session bareng di atas panggung.
Konser ini juga dibumbui nuansa Betawi sebagai bentuk penghormatan ke Jakarta yang tahun ini genap 500 tahun. Jadi, jazz-nya jalan, sejarahnya jalan, budayanya juga jalan.
Selain duel dua band legendaris, JGTC juga ngumpulin sederet nama yang bikin konser ini makin hangat.
Ada Ricky Basuki, Lydia Nursaid, Harvey Malaihollo. Acaranya dipandu Indra Bekti dan Shinta Juju yang dikenal vibenya cair dan penuh nostalgia.
“Ini ruang pertemuan antara sejarah, budaya, dan inovasi musik jazz Indonesia,” begitu kata panitia dalam rilis resminya.
Dengan format baru ini, JGTC seakan bilang: jazz itu nggak pernah tua. Dia hanya terus bertransformasi. Dari kampus, ke kota. Dari 50 tahun lalu, sampai Jakarta 500 tahun. (NVR)
