Jose Rizal Manua Menatap Panggung Spanyol dengan Kecemasan Biaya

0
Jose Rizal Manua

JAKARTA, AKURATNEWS.co – Jose Rizal Manua adalah salah satu dari sedikit seniman yang masih sangat setia dan tekun menjalankan misi kebudayaan lewat Teater Tanah Air yang ia dirikan 38 tahun silam, atau tepatnya pada 14 September 1988.

Sejak menapakkan kakinya pertama kali di Taman Ismail marzuki (TIM) di tahun 1972, Jose mengaku tak pernah keluar lagi dari area tersebut seperti para seniman lain yang lahir dan besar di TIM tetapi memilih mencari kehidupan yang layak diluar TIM.

“Aku itu sejak pertama dateng di TIM tahun 1972, nggak pernah keluar-keluar, yang lain pada keluar TIM dan pada kaya-kaya semua, aku tetep di sini. Aku itu motor aja nggak punya lho,” kata Jose, saat ditemui di TIM, Kamis (17/9) siang.

Di sana ia mengajarkan bahwa panggung bukan sekadar tempat anak mengucapkan dialog dan menghafal gerak. Di sana ada disiplin, imajinasi, keberanian, kerja bersama, dan barangkali yang paling penting, cara sebuah bangsa memperkenalkan dirinya kepada dunia.

“Aku diuntungkan karena lima wilayah di Jakarta kalau tampil di TIM dan semua seniman Indonesia kalau tampil juga di TIM. Makanya saya kenal banyak seniman. Bahkan God Bless dari tahun 75, lighting dan artistiknya, plus atraksinya sampai tahun 81 yang megang saya,” lanjut Jose .

Menatap panggung di Spanyol dengan gundah

Pada 4 Oktober 2026, Teater Tanah Air dijadwalkan berangkat ke Valencia, Spanyol, mengikuti 10th International Children’s Festival Theatre 2026. Dari sekitar 30 negara yang mendaftar, kelompok Indonesia itu telah masuk delapan besar.

Permasalahan klasik muncul, kebutuhan dana perjalanan termasuk untuk membeli tiket masih kurang sekitar Rp300 juta. Awalnya Jose ingin membawa sekitar 23 pemain, yang kini dipangkas hingga menjsdi 17 orang saja.

Kegundahan Jose semakin memuncak ketika mengecek harga tiket yang terus naik menyesuaikan hukum pasar.

“Untuk beli tiket aja kita masih kurang, padahal harga tikat setiap hari naik, bulan lalu aku lihat masih sekitar Rp18 juta, sekarang sudah Rp 27 jutaan, makin deket makin naik lagi,” lanjut Jose lagi.

Karena keterbatasan dana, jumlah itu terpaksa dipertimbangkan untuk dipangkas agar rombongan lebih kecil dan lebih mungkin diberangkatkan. Di situlah ironi itu terasa lebih keras berbunyi.

Seseorang yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk seni pertunjukan masih harus memikirkan hal yang sangat sederhana, bagaimana sebuah kelompok anak-anak Indonesia bisa naik pesawat menuju sebuah panggung di Eropa.

Negara, tentu, bukan sama sekali tidak hadir. Kementerian Kebudayaan telah berupaya membuka jalan dukungan. Tahun sebelumnya, sejumlah Rp500 juta telah menerbangkan Teater Tanah Air ke festival teater anak se-dunia di Lingen (EMS) Jerman, berkat kebijaksanaan Menteri Fadli Zon.

Tetapi Jose mengakui, tahun ini, dirinya tidak cukup tertib dalam urusan administrasi. Pada akhirnya, dukungan yang seharusnya dapat membantu itu tidak berhasil diwujudkan. Maka ia melakukan sesuatu yang mungkin terasa ganjil bagi seorang seniman sekaliber dirinya; mendatangi banyak orang.

Bukan untuk meminta panggung. Panggung sudah tersedia. Bukan untuk meminta pengakuan. Pengakuan itu sudah datang dari dunia internasional. Ia hanya mencari kemungkinan agar anak-anak itu bisa sampai ke sana. Mesakke.

Jejak perjalanan Teater Tanah Air sebenarnya bukan perjalanan yang pendek. Jepang pada 2004, Jerman pada 2006, Singapura pada 2007, kemudian Rusia, Malaysia dan Swiss pada 2008. India dan Maroko pada 2013. Kanada pada 2016, Jerman pada 2018, Jepang kembali pada 2022, kemudian tahun 2025 kembali ke Jerman, dan kini Spanyol pada 2026. Tiga belas perjalanan internasional dalam rentang lebih dari dua dekade bukanlah catatan kecil.

Ia adalah jejak bahwa kebudayaan Indonesia tidak selalu datang ke dunia melalui gedung-gedung megah atau delegasi resmi. Kadang ia datang melalui anak-anak, kostum sederhana, tubuh yang dilatih berbulan-bulan, dan seorang guru teater yang tidak berhenti percaya bahwa seni dapat mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh buku pelajaran.

Ketua MPR Ahmad Muzani, yang pada 17 September menyaksikan audisi Teater Tanah Air, menyebut seni dan budaya sebagai bagian penting dari jati diri bangsa. Ia berharap penampilan di Spanyol sukses dan mendapat penghargaan.

Harapan itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada persoalan yang jauh lebih nyata. Bagaimana mungkin kita meminta karya anak bangsa mendunia jika ongkos untuk membawa mereka ke dunia saja tidak tersedia?. Pertanyaan ini tidak semestinya menjadi beban Jose seorang diri.

Bukan berarti negara harus selalu membayar semuanya. Bukan pula berarti setiap kesulitan administrasi seniman harus ditanggung publik. Justru persoalan ini mengajarkan sesuatu yang lebih sehat: ekosistem kebudayaan membutuhkan negara, masyarakat, dunia usaha, dan orang-orang yang memiliki keluasan hati untuk berjalan bersama.

“Saya juga telah menghubungi pak SBY sampai Baim Wong,” katanya sembari menyeruput kopi pait.

Bagi pihak swasta maupun pribadi, dukungan itu juga bukan semata-mata sumbangan kepada sebuah kelompok teater. Ia adalah investasi kecil kepada sesuatu yang nilainya jauh lebih panjang daripada sebuah perjalanan. Sebab yang dibawa ke Valencia bukan hanya 23, atau kelak sejumlah pemain yang mampu diberangkatkan, anak Indonesia. Yang dibawa adalah nama Indonesia.

Dan yang mungkin pulang bukan hanya penghargaan, melainkan pengalaman, keberanian, persahabatan lintas negara, serta keyakinan anak-anak itu bahwa negeri mereka mempercayai karya mereka.

Jose masih mengetuk banyak pintu. Barangkali tidak semua pintu harus terbuka. Bahkan banyak yang berpaling muka. Tak mengapa.

Tetapi untuk sebuah kelompok yang telah berkali-kali membawa Indonesia ke panggung dunia, rasanya terlalu sayang apabila kali ini tirai harus tetap tertutup hanya karena ongkos perjalanan belum terkumpul.

Dalam kebudayaan, tidak semua bantuan harus besar untuk menjadi berarti. Kadang sebuah panggung dunia hanya menunggu beberapa orang berkenan berkata,” Berangkatlah. Kami membantu kalian sampai ke sana, entah bagaimana caranya”./Ib.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *