Gunung Gede, Foto: Instagram Info Cianjur

BOGOR. AKURATNEWS.co – Eksotiknya Gunung Gede di Kabupaten Bogor, Jawa barat selalu menarik bagi para pendaki untuk berkunjung. Meski begitu, kita wajib waspada karena gunung ini masih berstatus gunung berapi aktif, yang setiap saat bisa saja menunjukkan aktivitasnya dengan mengluarkan semburan awan bercampur gas beracuan atau rentetan hempa vulkanik.

Dihimpun dari berbagai sumber, Gunung Gede meletus pertama kali pada 13 Maret tahun 1747. Letusan yang terjadi pada 278 tahun silam itu sangat hebat, setidaknya  menyebabkan 2 aliran lava bergerak dan terlihat dari Kawah Lanang. Letusan ini memiliki dampak yang amat besar.

Usai letusan pertama tersebut,  Gunung Gede meletus lagi secara berturut-turut yaitu pada  tahun 1761, 1780, dan 1832.

Kemudian Gunung Gede kembali meletus dasyat kedua pada tahun  1840, tepatnya pada tanggal 12 November, pukul 3 dinihari. Goncangannya yang hebat membangunkan masyarakat di sekitar yang sedang tertidur pulas.

Keresidenan Priangan yang pada awalnya beribukota di Cianjur, kemudian dipindahkan ke Bandung oleh Residen van der Moor setelah letusan Gunung Gede yang memporakporandakan lilingkungan disekitarnya pada tahun 1864.

Setelah itu Gunung Gede kembali batuk-batuk atau mengeluarkan letusan-letusan kecil kurang lebih 24 kali, namun cukup membahayakan untuk warga yang tinggal di sekitar Gunung Gede.

Letusan terakhir Gunung Gede terjadi pada tahun 1957, ini masih masuk dalam kategori letusan kecil, dan hingga saat ini Gunung Gede masih tertidur.

Masyarakat yang tinggal disekitar Gunung Gede tetap harus waspada, karena sebuah gunung yang sudah lama tidak aktif, jika aktif kembali akan sangat membahayakan. Sebagai gambarannya batu-batu besar di kali Ciliwung adalah jejak lemparan letusan dari Gunung Gede. Pada sepanjang Kali Ciliwung, kalian akan menemukan gumpalan batu maha besar selain sampah yang bertebaran.

Orang Pertama yang Mendaki Gunung Gede

Sejarah mencatat bahwa  C.G.C Reiwardt  adalah orang pertama yang mendaki Gunung Gede pada tahun 1819. Patung  C.G.C Reiwardt dapat Anda temukan dekat Danau Srigunting di Kebun Raya Bogor.

Kemudian disusul oleh F.W Junghuhn (138-1861), J.E Teijsmann (1839), A.R Wallece (1861), S.H Koorders (1890), M. Treub (1891), W.M Docters van Leeuwen (1911), dan C.G.G.G.J van Steenis (1920- 1952) telah membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan buku The Mountain Flora of Java yang telah terbit pada tahun 1972.

Taman Nasional Gunung Gede- Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai cagar biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara./Ib. Foto: Dok, IG Info Cianjur.

 

By Editor1