JAKARTA, AKURATNEWS.co – Sebagai bagian dari keseimbangan sejarah, sineas Lola Amaria melepas sebuah film dokumenter bertajuk ‘Eksil.

Film yang mulai tayang di bioskop pada Kamis (1/2) ini menggambarkan sejarah kelam Indonesia pada masa G30S/PKI di tahun 1965 dari sudut pandang orang Indonesia yang tak diakui negara hingga akhirnya terdampar di negeri orang seperti Rusia, Belanda, Ceko, Swedia, Jerman dan sejumlah negara Eropa lainnya. Mereka mayoritas mahasiswa asal Indonesia yang kala itu tengah menimba ilmu di sejumlah negara seperti Rusia dan China.

Di film ini, mereka menceritakan apa yang dialami pada masa itu sampai terdampar di negara orang. Dan dikatakan Lola, tidak mudah untuk meyakinkan para narasumber film ini. Ia bersama timnya melakukan riset sejak 2010, termasuk mencari data keberadaan para Eksil ini.

Lalu tim ini menggarap langsung dengan mendatangi mereka sejak 2015. Selama tiga bulan Lola dan tim berada di Eropa  untuk bertemu langsung dan berbincang dengan para Eksil ini. 10 orang yang berhasil diwawancarai masih mengaku cinta Indonesia, meski beberapa dari mereka sudah beranak pinak disana. Bahkan secara jujur hati mereka tetap rindu pulang ke kampung halaman.

“Mereka sempat tidak percaya, saya dianggap intel, Masalah narasumber yang cukup sulit untuk ditemui dan mau bercerita. Karena mereka waspada sekali terhadap kita. Dan ini butuh proses  meyakininya,” ungkap Lola usai premiere ‘Eksil’ di Jakarta, Senin (29/1).

Film yang kental tema politik ini pun terasa semakin kental aroma politiknya lantaran bakal tayang di tanggal 1 Februari atau 13 hari jelang gelaran Pemilu 2024.

“Tapi itu bukan mau saya lho.. kita ajukan sudah sejak lama, tapi memang dapat jadwalnya di tanggal segitu. Saya sih berharap siapapun pemimpinnya yang terpilih bisa memperhatikan soal ini,” ucap Lola.

Ditambahkan Line Producer film ini, Sari Mochtar  untuk bisa berinteraksi dengan para narasumber itu memang tidak gampang, dibutuhkan trik dan kesabaran sehingga mereka percaya.

“Bahkan ketika kita mengambil video, mereka juga mengambil video kita,” terang wanita yang akrab disapa Ai ini.

Kembali ke Lola, film ‘Eksil’ ini dikatakannya tak bermaksud mengangkat peristiwa G30S/PKI, tetapi lebih dari sisi kemanusiannya dengan melihat dan mendengar langsung apa yang dialami para Eksil selama menetap di negeri orang akibat terusir dari negeri sendiri. Termasuk kerinduan dan kecintaan mereka terhadap Tanah Air. Sekaligus menjadi penyeimbang sejarah lantaran sebelumnya, negeri ini dijejali informasi sepihak soal peristiwa G30S/PKI.

“Untuk generasi saya dan di bawah saya yang tiap tahun dicekoki film G30S/PKI harus tahu dari sisi sebelahnya dan ini yang bicara orangnya langsung  di luar negeri sebelum peristiwa PKI dan nggak boleh pulang,” jelas Lola.

Lola dan tim awalnya merasa punya hutang kepada narasumber dan hutang itu seakan terbayar ketika film ini selesai dan mendapat penghargaan dari sejumlah festival film serta film dokumenter terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2023.

“Apalagi sejumlah narasumber ini sudah banyak yang meninggal dunia. Tapi sekarang hutang ini sudah terbayar,” ucap Lola.

Sebagai film dokumenter perdananya, Lola juga berusaha menggunakan gaya bertutur yang mudah dicerna generasi milenial dan generasi Z.

“Kedua generasi ini sudah sangat berjarak dengan sejarah masa lalu, apalagi dengan disrupsi informasi yang masif sekarang ini. Kepada merekalah anak-anak muda, film ini sesungguhnya kita berikan agar lebih tahu keadaan yang sebenarnya yang dialami para Eksil,” imbuh Lola.

 

Film ‘Eksil’ ini akan tayang di sejumlah bioskop  seperti Plaza Senayan XXI Jakarta, AEON Mall BSD City XXI Tangerang, Mega Bekasi XXI, TSM XXI Bandung, Ciputra World XXI Surabaya, Ringroad Citywalks XXI Medan, Empire XXI Yogyakarta dan Cinepolis Plaza Semanggi, Mall Lippo Cikarang serta Flix Ashta SCBD hingga CGV Aeon Mall Jakarta Grand Cakung (JGC) dan CGV JWalk Jogja. (NVR)

By Editor1