TANGERANG, AKURATNEWS.co – Saat mayoritas warga sibuk antre daging sapi kurban, suasana di Pondok Rajeg, Karang Tengah, Ciledug, Tangerang saat Idul Adha, Rabu (27/5) justru heboh karena satu hal: kurban kerbau!

Ya, kerbau. Hewan kurban yang kini nyaris punah dari daftar menu Idul Adha perkotaan.

Aksi ini digagas Hizrah Bacan, dedengkot Komunitas Betawi Ora (Kobra). Bagi mereka, kurban kerbau bukan sekadar ganti sapi. Ini soal menghidupkan kembali jejak Betawi pinggiran Jakarta yang dulu lekat dengan hewan berkaki empat bertanduk besar itu.

Sejak pagi, warga Pondok Rajeg sudah berkerumun. Antusiasmenya luar biasa. Anak-anak naik pagar, ibu-ibu bawa kantong kresek, bapak-bapak siap bantu angkat. Keramaian itu wajar. Melihat kerbau disembelih di tengah pemukiman sekarang rasanya kayak nonton atraksi langka.

“Kalau daging sapi sudah umum, semua orang juga kurban sapi. Tapi kerbau? Sekarang sudah jarang banget ditemuin,” ujar Hizrah di sela-sela pemotongan.

Dan benar. Begitu pisau turun, warga langsung berebut ambil bagian. Ada yang bantu potong, ada yang bagi plastik, ada yang cuma mau lihat dari dekat dan rekam pakai HP.

Dagingnya pun langsung didistribusikan ke warga sekitar, tanpa birokrasi panjang.

Bagi Betawi Ora, komunitas Betawi yang masih pakai kata “ora” dalam bahasa sehari-hari dan tinggal di pinggiran Jakarta, kerbau punya makna lebih dalam dari sapi.

“Dulu orang Betawi kalau kurban pakai kerbau, bukan sapi. Kerbau itu simbol kemakmuran dan kejayaan. Nilainya tinggi, bukan cuma di harga tapi di filosofi,” jelasnya.

Kerbau dianggap hewan pekerja keras, tahan banting, dan melambangkan kekuatan kolektif. Nilai itu yang mau terus dihidupkan Hizrah Bacan.

Di tengah derasnya urbanisasi dan seragamnya model kurban sapi dari donatur, Hizrah Bacan memang sengaja melawan arus. Mereka mau jaga adat Betawi Ora biar nggak hilang ditelan zaman.

“Saya sendiri yang masih melestarikan ini. Lewat Kobra, kami coba jaga adat istiadat Betawi Ora,” ujarnya.

Langkah ini pun bukan nostalgia kosong. Di Pondok Rajeg, tradisi itu hidup lagi. Warga yang biasanya cuma dapat daging sapi bungkus plastik, kali ini dapat cerita, dapat sejarah, dan dapat rasa bangga karena ikut melestarikan budaya sendiri.

Di era yang serba cepat, satu ekor kerbau di Ciledug jadi pengingat: kadang, menjaga identitas justru dimulai dari hal paling sederhana. Kayak memilih kerbau, bukan sapi, buat kurban. (NVR)

By editor2