JAKARTA, AKURATNEWS.co – Kisah hidup Djohari Zein mantan bos JNE ini sangat inspiratif, setelah mualaf, ia memiluh menggunakan harta kekayaanya ke Jalan Allah.
Namanya mungkin tidak selalu menghiasi jagat hiburan, namun karya dan visinya melekat erat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu pendiri (co-founder) sekaligus mantan Direktur Utama JNE (Jalur Nugraha Ekakurir), ia adalah sosok di balik raksasa logistik yang mengantarkan jutaan paket ke seluruh penjuru nusantara.
Namun, di balik kegemilangan bisnisnya yang bernilai triliunan rupiah, ada sebuah perjalanan spiritual teramat indah yang menggetarkan hati. Ini adalah kisah tentang seorang pria yang menemukan cahaya Islam, membuktikan keajaiban sedekah, dan kini memilih “menghabiskan” sisa usianya demi mengejar proyek akhirat.
Titik Balik Spiritual Sang Pencari Kebenaran
Lahir di kota Medan, Sumatra Utara, pada 16 April 1954, Djohari Zein tumbuh dalam keluarga keturunan Tionghoa yang kental dengan etos kerja keras dan dunia dagang. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam keyakinan Buddha.
Sebagai pribadi yang gemar belajar dan berpikiran terbuka, Djohari muda selalu tertarik untuk memahami makna hidup yang lebih mendalam.
Pencarian spiritual itu akhirnya menemui pelabuhan terakhirnya pada tahun 1982. Di usia yang masih relatif muda, Djohari membulatkan tekad untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi memeluk agama Islam (mualaf).
Bagi Djohari, menjadi seorang muslim bukan sekadar mengganti status di kolom KTP. Islam mengubah total cara pandangnya terhadap duniawi, terutama mengenai harta. Ajaran tentang zakat, sedekah, dan kewajiban menyayangi anak yatim meresap kuat ke dalam dadanya. Nilai-nilai suci inilah yang kelak ia suntikkan menjadi fondasi dan budaya kerja utama di perusahaan yang ia nakhodai.
Membuktikan Rumus Langit: The Power of Giving
Setelah sempat meniti karier di dunia perhotelan dan perusahaan logistik multinasional, momentum besar dalam hidupnya terjadi pada 26 November 1990. Bersama mendiang Soeprapto Suparno (pendiri TIKI), Djohari mendirikan JNE. Awalnya, perusahaan ini merangkak dari bawah dengan modal seadanya dan hanya fokus pada pengiriman internasional.
Ujian hebat datang saat Badai Krisis Moneter 1998 menghantam Indonesia. Ketika ratusan perusahaan bertumbangan dan gulung tikar, Djohari justru melakukan gebrakan di luar logika bisnis barat. Ia menerapkan manajemen spiritual yang ia sebut sebagai “The Power of Giving” (Keajaiban Memberi).
JNE secara konsisten menyisihkan sebagian keuntungan perusahaan untuk menyantuni ribuan anak yatim, janda, dan kaum duafa. JNE juga membuka pintu kemitraan selebar-lebarnya bagi masyarakat yang terkena PHK agar bisa membuka agen pengiriman di rumah mereka sendiri.
Secara logika matematika manusia, membagikan uang di tengah krisis mungkin dianggap merugi. Namun, bagi Djohari, itu adalah investasi dengan Tuhan. Hasilnya luar biasa: JNE tidak hanya selamat dari kebangkrutan, tetapi justru bertumbuh raksasa, merevolusi pasar domestik, hingga akhirnya menjadi tulang punggung utama meledaknya industri e-commerce di tanah air.
Pensiun di Puncak Kejayaan Demi Menjemput Cita-Cita Mulia
Setelah puluhan tahun memeras keringat dan berhasil membawa JNE ke puncak kasta tertinggi industri logistik Indonesia, Djohari Zein mengambil keputusan besar. Di saat posisinya berada di atas angin, ia memilih untuk pensiun dari operasional harian perusahaan dan menyerahkan estafet kepemimpinan kepada generasi muda.
Namun, masa tuanya tidak dihabiskan untuk sekadar menikmati kemewahan atau bersenang-senang. Lewat lembaga filantropi yang ia dirikan, Johari Zein Foundation, ia mengalihkan seluruh fokus hidupnya untuk misi kemanusiaan.
Satu cita-citanya yang paling fenomenal dan berhasil menyentuh hati jutaan netizen adalah impian agungnya untuk membangun 99 masjid di berbagai wilayah di Indonesia dan belahan dunia.
Angka 99 ini secara khusus diambil dari jumlah Asmaul Husna (nama-nama baik Allah).
Baginya, harta melimpah yang didapatkannya dari kesuksesan JNE adalah murni titipan dari Allah SWT. Dan tidak ada cara terbaik untuk memperlakukan titipan tersebut selain mengembalikannya dalam bentuk fasilitas ibadah yang bermanfaat bagi umat muslim.
Sebuah Teladan yang Menampar Hati
Kisah perjalanan hidup Djohari Zein memberikan tamparan halus sekaligus pelajaran berharga bagi kita semua yang hidup di zaman modern yang serbamatrialistis ini. Beliau adalah bukti nyata bahwa berbisnis dengan melibatkan Tuhan tidak akan pernah membawa kerugian.
Ia mengajarkan bahwa kekayaan sejati tidak dihitung dari seberapa banyak uang yang berhasil kita timbun di dalam rekening pribadi, melainkan dari seberapa banyak aliran manfaat, kebaikan, dan rumah ibadah yang bisa kita tinggalkan untuk generasi mendatang sebelum raga ini kembali ke tanah.
Dari seorang pencari kebenaran hingga menjadi pembangun rumah Allah, kisah mualaf Djohari Zein akan selalu menggetarkan hati dan menginspirasi siapa saja yang merindukan keberkahan hidup yang sesungguhnya./Nasrul Koto Psu. Sumber: Wikipedia. Foto: Istimewa.

By Editor1