Lelah Bergantung Pada Orang Lain? MJ Pesankan Ini ke Gen Z Lewat ‘Be Myself’
JAKARTA, AKURATNEWS.co – Wajah baru musik tanah air hadir lagi lewat Mahardhika Jodie.
Penyanyi yang akrab disapa MJ ini resmi memulai perjalanan musiknya lewat single perdana bertajuk ‘Be Myself’.
Mengusung perpaduan pop dan R&B dengan sentuhan musik era 1990-an, lagu ini membawa pesan tentang penerimaan diri, kemandirian, dan keberanian untuk menemukan jati diri di tengah tekanan kehidupan modern.
Lewat karya debutnya, MJ ingin menyuarakan keresahan yang dekat dengan kehidupan generasi Z, mulai dari kebingungan mengenali keinginan pribadi, ketergantungan emosional terhadap orang lain, hingga perjuangan untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Bagi MJ, menjadi diri sendiri bukan sekadar slogan. Ada proses panjang untuk memahami apa yang benar-benar diinginkan, melepaskan ketergantungan, dan menyadari bahwa kebahagiaan tidak harus selalu bergantung pada kehadiran orang lain.
‘Be Myself’ juga menjadi perkenalan awal MJ kepada penikmat musik Indonesia. Bukan hanya memperlihatkan karakter musikalnya, single ini sekaligus menjadi ruang bagi MJ untuk menuangkan pengalaman personal menjadi cerita yang bisa dirasakan banyak orang.
Di balik lahirnya ‘Be Myself’, ada kebiasaan sederhana MJ yang telah berlangsung sejak lama, yakni menulis isi hati.
Alih-alih selalu menceritakan persoalan pribadi kepada orang lain, MJ lebih nyaman menuangkan perasaannya melalui buku, ponsel, hingga catatan digital. Kebiasaan tersebut kemudian memunculkan gagasan untuk mengubah tulisan-tulisannya menjadi sebuah karya musik.
“Aku dari dulu suka banget curhat, tapi enggak ke orang, lebih ke nulis di buku, di HP, atau di notes. Akhirnya aku memutuskan, kayaknya tulisanku juga oke deh kalau dibikin lagu,β ujar MJ di sela peluncuran lagunya, Senin (28/10).
Dari kebiasaan tersebut, MJ mulai merangkai pengalaman dan perasaannya menjadi lirik yang memiliki pesan lebih luas. Pengalaman pribadi itu menjadi fondasi utama ‘Be Myself’ terutama dalam menggambarkan perjalanan seseorang yang semula merasa sulit menjalani kehidupan tanpa kehadiran orang lain.
Seiring waktu, muncul kesadaran bahwa setiap individu perlu membangun kekuatan dari dalam dirinya sendiri. Ketika hubungan dengan orang lain berubah atau seseorang tidak lagi hadir dalam kehidupan, seseorang tetap perlu memiliki keberanian untuk melanjutkan langkahnya.
MJ menilai pengalaman tersebut bukan hanya persoalan dirinya. Banyak orang, terutama anak muda, kemungkinan pernah berada dalam situasi serupa.
βItu pribadi aku, dan mungkin kebanyakan orang juga bakal merasakan hal yang sama,β katanya.
Melalui lagu ini, MJ berharap pendengar dapat menemukan potongan pengalaman mereka sendiri. Pesan yang ingin disampaikan sederhana: mencintai dan membutuhkan orang lain merupakan hal yang wajar, tetapi seseorang juga perlu mengenali nilai dirinya tanpa terus-menerus menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain.
MJ membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk menyusun lirik yang dianggap mampu menyampaikan pesan lagu secara kuat dan relevan.
Proses tersebut menjadi tantangan tersendiri karena MJ tidak sekadar ingin menuliskan perasaan, tetapi juga memastikan ceritanya dapat terhubung dengan pengalaman pendengar.
“Aku memikirkan lirik yang benar-benar kuat, dalam, dan relate. Karya lagu enggak bisa asal nulis, jadi proses lama itu sangat worth it,β tuturnya.
Keseriusan itu memperlihatkan bagaimana MJ berusaha menjadikan pengalaman personal sebagai karya yang memiliki makna bagi orang lain. Baginya, lagu yang baik bukan hanya terdengar enak, melainkan juga mampu meninggalkan kesan melalui cerita yang disampaikan.
Tema penerimaan diri pun terasa relevan dengan kehidupan generasi Z yang kerap berhadapan dengan tuntutan lingkungan, ekspektasi sosial, dan keinginan untuk memperoleh pengakuan.
Dalam situasi ketika seseorang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain, ‘Be Myself’ mengajak pendengar untuk kembali mengenali kebutuhan dan keinginannya sendiri. Menjadi diri sendiri bukan berarti menolak masukan atau menutup diri dari orang lain, melainkan memahami nilai diri tanpa harus kehilangan identitas demi memenuhi ekspektasi lingkungan.
Dari sisi musikalitas, ‘Be Myself’ menggabungkan pop dan R&B dengan nuansa era 1990-an. Pendekatan tersebut menjadi pilihan MJ untuk membangun identitas musik yang tetap terasa modern, tetapi memiliki sentuhan nostalgia.
Karakter storytelling yang intim dan emosional juga menjadi bagian penting dalam penyampaian lagu. Melalui pendekatan ini, pengalaman personal yang menjadi dasar penulisan lirik diharapkan dapat tersampaikan secara lebih dekat kepada pendengar.
Salah satu keputusan menarik dalam penggarapan ‘Be Myself’ adalah penggunaan dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris.
MJ semula berencana menyanyikan lagu tersebut sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Namun, setelah berdiskusi dengan produser, ia akhirnya memilih memadukan kedua bahasa agar pesan lagu lebih mudah dipahami pendengar Indonesia tanpa kehilangan nuansa modern yang ingin dihadirkan.
Pilihan tersebut sekaligus menjadi pendekatan untuk menjangkau pendengar muda yang akrab dengan musik pop dan R&B kontemporer.
Selain mematangkan materi lagu, MJ juga mempersiapkan kemampuan vokalnya sebelum merilis karya perdana. Ia menjalani proses pengembangan vokal bersama pelatih vokal Bertha selama sekitar tiga bulan.
Pengalaman itu menjadi bagian dari proses adaptasi MJ dalam memasuki industri musik profesional. (NVR)
.
