JAKARTA, AKURATNEWS.co – Matahari Jakarta di awal tahun 2000-an selalu terasa lebih membakar. Di koridor Kementerian Perindustrian dan Perdagangan yang kaku, langkah kaki seorang pria berdarah Maluku selalu terdengar tegas. Badannya tegap, sorot matanya tajam, namun ada ketenangan yang aneh di sana, Nama pria itu Sandec Sahetapy.

Bagi orang awam yang melihatnya di layar kaca, dia adalah sosok yang selalu berdiri satu jengkal di belakang para pengambil keputusan Republik ini.

Namun di balik layar birokrasi, Sandec memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Sejak tahun 2005 hingga 2016, dia adalah Panglima bagi kaumnya sendiri—menjabat sebagai pemimpin tertinggi Angkatan Muda Pattimura (AMP) yang membawahi anak-anak muda keturunan Maluku di seluruh belahan dunia.

Loyalitasnya di akar rumput membuat namanya begitu disegani.
Atas dedikasi murni terhadap tanah kelahirannya, sebuah kehormatan sakral dianugerahkan kepadanya langsung di Amahei.

Di hadapan ribuan rakyat Pulau Seram yang memadati tanah adat, Sandec menyandang gelar “Upu Tete Ono Olo”—sebuah amanah sakral yang berarti Pemimpin Besar yang Dihormati dari Negeri.

Ke mana pun Sandec melangkah menembus badai, ada satu sosok yang tidak pernah absen dari pandangan. Dia adalah Almarhum Ampi Ihalauw.

Ampi bukan sekadar tangan kanan, melainkan perisai hidup bagi Sandec.
Seperti bayang-bayang yang setia mengawal, Ampi selalu ada di sana, pasang badan menjaga keselamatan Sandec dalam setiap keputusan berisiko yang diambilnya.

Hubungan mereka melampaui ikatan darah—sebuah loyalitas murni yang hanya bisa dipisahkan oleh takdir Tuhan ketika Ampi berpulang mendahuluinya pada tahun lalu, meninggalkan lubang besar yang tak tergantikan di hati sang Panglima.

Dulu, dengan Ampi yang sigap berjaga di belakangnya, Sandec mengawali karier sebagai perisai hidup bagi Rini Soewandi. Kemana pun sang menteri melangkah menembus tekanan pasar pasca-krisis, Sandec memastikan kebijakan negara berjalan aman.

Ketika era berganti ke tangan Presiden SBY, peran itu tidak surut. Sandec tetap setia berdiri di belakang Menteri Mari Elka Pangestu, menjadi jangkar pengaman di tengah kepulan debu pasar induk saat sidak nasional.

Namun, pengabdian hidup Sandec yang paling mendalam justru terikat pada dua sosok legendaris: Menteri Dr. Soedjarwo dan sang anak, Dr. Ir. Budi Darmadi, M.Sc. (Pak Didie).

Sandec bukan sekadar menjadi asisten kepercayaan yang mengawal langkah-langkah birokrasi dan urusan internal keluarga mereka—seperti saat mendampingi Pak Djarwo sepuh melakukan kunjungan organisasi kejawen Pangestu ke Bandung pada tahun 2001.

Hubungan itu tumbuh menjadi sebuah persahabatan yang teramat sangat baik, sebuah ikatan batin yang begitu suci. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi yang abadi, Sandec merajah sebuah tanda di tubuhnya: sebuah tato nama “Budi Darmadi” yang terukir permanen di dada kirinya, tepat di atas detak jantungnya.

Melalui kedekatannya dengan Pak Budi Darmadi pula, Sandec mengawal jalannya transisi Direktorat Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika (IATT) hingga melebur menjadi Ditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT).

Titik balik sejarah birokrasi Indonesia pun tercipta di era Menteri Perindustrian Fahmi Idris pada tahun 2005. Fahmi Idris melihat sesuatu yang berbeda dalam diri Sandec—sebuah kombinasi langka antara loyalitas mutlak dan keberanian mendobrak.

Hari itu, Sandec Sahetapy resmi diangkat menjadi Staf Khusus Kementerian Pertama di Republik Indonesia. Sebuah pendobrakan sejarah yang memecah kekakuan birokrasi lama, yang kelak menjadi cetak biru dan ditiru oleh seluruh kementerian di Indonesia hingga puluhan tahun kemudian.

Di luar dunia dinas, jiwa Sandec adalah perpaduan antara kedaulatan bisnis, adat, dan seni. Dia aktif dalam pelestarian sejarah dengan bergerak di lingkungan Kerajaan Nusantara, hingga dianugerahi gelar kehormatan Sri Paduka Kanjeng Pangeran. Dia juga pemegang Bintang Guardian of the Culture Heritage dari UNESCO 2017.

Kecintaannya yang mendalam terhadap musik akar rumput juga mendorongnya menjadi pembina bagi Keroncong Tugu, menjaga denyut nadi salah satu musik warisan sejarah tertua di Jakarta agar tidak punah ditelan zaman.

Ketika jam kerja usai, otaknya beralih ke dunia komoditas bernilai tinggi.
Periode 2008 hingga 2011 adalah pembuktian liarnya insting bisnis Sandec.
Menjabat sebagai Komisaris Utama PT Purnama Cahaya Mas, dia masuk ke dalam pusaran bisnis raksasa,  melayani arus komoditas emas fisik murni bersama pengusaha besar Siman Bahar dengan volume fantastis mencapai 235 kilogram emas murni per minggu.

Di dunia yang penuh intrik, Sandec dan Ampi mengawal ratusan kilogram logam mulia itu hanya dengan satu modal utama: Trust. Kepercayaan mutlak.
Pengalaman berharga ini pula yang membuatnya dengan mudah memperluas gurita bisnisnya ke sektor batu bara dan infrastruktur fiber optic melalui bendera Cinta Budaya Indonesia (CBI) pada tahun 2014.

Bagi Sandec, materi melimpah dari bisnis hanyalah alat untuk membiayai idealismenya. Ketika dunia musik tanah air dikepung oleh mafia royalti, Sandec maju ke depan.

Di bawah payung LMKN, bersama sahabatnya Tito Soemarsono yang dia tempatkan sebagai komisioner, Sandec menjelma menjadi momok menakutkan bagi para pencuri hak cipta.

Dia melakukan apa yang tidak berani dilakukan pejabat lain sepanjang sejarah musik: mendobrak birokrasi internasional dan membongkar kejahatan royalti luar negeri (overseas) yang sengaja disembunyikan selama 23 tahun.

Di tangannya, para musikus menikmati haknya yang didistribusikan hingga 7 kali dalam setahun lewat LMK Pelari Nusantara yang di pimpinnya.

Bahkan saat bertugas di kementerian pada era Menteri M.S. Hidayat, Sandec menjadi aktor kunci di balik layar yang sukses mengawal dan memenangkan regulasi Low Cost Green Car (LCGC), sebuah kebijakan monumental yang menyelamatkan industri komponen lokal dari gempuran impor utuh.

Totalitasnya terhadap musik kembali dibuktikan secara gila-gilaan pada tahun 2018 dan 2019. Dipercaya memegang tongkat komando sebagai Ketua Hari Musik Nasional, Sandec tidak mau membebani anggaran negara.
Dia membiayai seluruh rangkaian acara besar tersebut menggunakan uang dari kantong pribadinya sendiri.

Dia mengingat semua itu dengan senyum tipis di wajahnya. Terlalu banyak panggung yang sudah dia bangun demi orang lain. Ingatannya melayang pada tahun 2016 saat dia mendanai pementasan Teater Madekur dan Tarkeni.
Lalu tahun 2017, saat dia mendanai Konser Aku Indonesia yang melibatkan 100 artis, menyelamatkan Kongres PARFI, hingga perjalanan PAPPRI DKI Jakarta.

Bahkan di tahun 2019, dialah panglima yang memimpin langsung delegasi seniman Indonesia terbang membelah dinginnya Rusia demi diplomasi budaya internasional.

Saat sistem yang korup mulai merancang konspirasi untuk menjatuhkannya karena terlalu lurus, Sandec tidak mengemis jabatan.
Dengan kepala tegak, dia mundur.

Dia mendirikan Sandec Music yang di pimpin Nunu Nugroho, Steve Bolang dan Irish Rishwoyo, kembali bermain di bisnis fisik emas pada tahun 2024, dan membuktikan bahwa kebaikan bisa berdiri di atas kakinya sendiri.

Kini, kalender di dinding menunjukkan tahun-tahun yang mulai mendekati garis akhir yang dia rancang sendiri.

Agustus ini, Orchestra in the Park bersama maestro Tya Subiakto akan menggema di bawah langit terbuka.

Lalu tahun depan, 2027, akan menjadi perayaan trilogi hidupnya: 3 tahun bendera Sandec Bersama Sejahtera, 17 tahun pernikahan yang sakral, dan kado ulang tahun ke-40 untuk Dewi Novita, wanita tangguh yang memegang hatinya di sebuah hotel berbintang di kawasan sudirman.

Dan akhirnya, November 2028 nanti, tirai pertunjukan sesungguhnya akan ditutup. Sandec sedang menulis ulang naskah Orkes Madun: Sandek Pemuda Pekerja. Lakon itu tidak lagi sekadar cerita fiksi, melainkan otobiografi hidupnya sendiri. Itu akan menjadi panggung pamitannya kepada gemerlap lampu sorot Jakarta yang melelahkan.

Setelah tepuk tangan penonton mereda dan lampu panggung dimatikan untuk terakhir kalinya, Bung Sandec tahu ke mana dia harus pulang.
Jauh dari riuh rendah mafia royalti, jauh dari debat kusir birokrasi, sebuah villa tenang di kaki Gunung Salak sudah menunggunya. Di sana, di tengah kabut pegunungan dan suara angin, sang pangeran sekaligus panglima akhirnya bisa beristirahat.

Dia tahu, meski Ampi sang perisai hidupnya kini telah tiada, kebaikan-kebaikan yang mereka perjuangkan bersama sepanjang hidup akan selalu menjaga tidurnya dengan damai./Ib.

By Editor1