JAKARTA, AKURATNEWS.co – Setelah menjelajah kuliner berbuka puasa di pulau Sumatera, kali ini kita akan memasuki pulau Jawa, dimulai dari Provinsi Banten. Dibanten ada makanan khas berbuka yang digemari masyarakat secara turun temurun, namanya ‘Ketan Bintul’.
Ketan Bintul merupakan menu olahan terbuat dari beras ketan yang dimasak. Dalam proses pembuatannya, beras ketan yang telah selesai dicuci kemudian dikukus sampai setengah matang, lalu ditumbuk hingga hancur dan kenyal. Proses penumbukan bisa berlangsung berjam-jam untuk menghasilkan ketan yang kenyal.
Kemudian ditambahkan perasa dari garam atau gula pada ketan yang sedang ditumbuk, pemakaiannya disesuaikan dengan selera warga sedulur Banten.
Setelah selesai ditumbuk dan dibubuhi garam atau gula, selanjutnya tuang ketan ke dalam wadah nampan yang sudah dilapisi karung atau daun serta gunakan plastik agar ketan tidak menggumpal. Tunggu sampai ketan dingin, setelah ketan dingin lanjut taburi serundeng di atasnya.
Serundeng yang digunakan adalah serundeng kelapa yang sebelumnya sudah dimasak terlebih dahulu dengan disangrai. Setelah disangrai, serundeng ditumbuk agar halus dan tidak menggumpal. Apabila sudah selesai ditumbuk, taburi serundeng di atas ketan bintul yang sudah dipotong dadu dan ketan bintul siap dihidangkan.
Menyantap ketan bintul bisa dipadukan pula dengan menu pendamping lainnya seperti gulai kambing atau semur daging sesuai selera warga sedulur Banten. Ketan bintul masih dapat warga sedulur Banten jumpai untuk membelinya, seperti di pasar tradisional atau di toko kue. Di Banten, hidangan ini sering digunakan sebagai menu pembuka puasa di bulan ramadhan.
Untuk diketahui, ketan bintul khas Banten merupakan makanan tradisional yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 26 November tahun 2020 dengan nomor registrasi 2020009896.
Ketan bintul ternyata bukan sajian kuliner sembarangan, kuliner ini memiliki kisah di masa lampau, di mana digunakan sebagai menu berbuka puasa Maulana Hasanuddin, Sultan Banten, sekitar abad ke-16.
Sejak saat itu, ketan bintul pun menjadi makanan jamuan untuk tamu kerajaan. Dalam setiap kunjungan tamu kerajaan ke Banten, Maulana Hasanudin meminta untuk dihidangkan ketan bintul. Tak hanya itu, ketan bintul juga memiliki nilai filosofis keraketan yang artinya melekatkan.
Ketan yang memiliki sifat saling lengket diartikan sebagai sikap persatuan dan persaudaraan, yang mana ketan memiliki nila filosofis kedekatan dengan sesama manusia, baik dengan saudara, teman, atau kerabat./Ib
