YOGYAKARTA, AKURATNEWS.co – Di era musik digital yang bergerak cepat, tiba-tiba Tip Tap Toe Cafe di Sleman, Yogyakarta serasa berubah jadi mesin waktu.
Jumat (5/6) malam, ratusan orang berkumpul bukan untuk cari tren TikTok terbaru, tapi untuk pulang ke masa lalu saat Kaset 80-an Retro Groove Tour 2026 membuka rangkaian turnya di Yogyakarta, dan terbukti: lagu lawas belum mati. Ia hanya menunggu diputar lagi.
Begitu Sandro Tobing mengalunkan nada pertama, suasana berubah. Yang tadinya nongkrong santai, langsung larut. Rita Effendy melantunkan hits romantis era 80-an, disambut penonton yang hafal liriknya di luar kepala.
Emile S. Praja dan Ichwan Thoha menyusul, membuka kembali lembaran kenangan yang sudah lama tersimpan di memori. Malam itu bukan sekadar konser. Ini reuni dengan masa muda.
Di sudut-sudut ruangan, lampu remang. Di atas panggung, melodi yang dulu diputar lewat kaset pita dan radio. Penonton bernyanyi bersama, berdansa kecil mengikuti irama yang dulu jadi soundtrack cinta pertama, patah hati pertama, atau perjalanan pulang sekolah.
Yang bikin suasana makin klik adalah busana pengunjung. Jaket denim, celana high waist, aksesori klasik, gaya rambut retro.
Banyak yang sengaja berdandan seperti era 80-an. Seolah ingin lengkap: bukan hanya dengar, tapi juga masuk ke dalamnya. Ponsel memang tetap merekam, tapi yang direkam adalah momen personal yang terasa intim.
Founder Kaset 80-an, Refida Herastuti, menyebut, acara ini bukan hanya memuaskan kerinduan. Ada misi lebih besar: melestarikan warisan musik Indonesia.
Lewat konsep yang menggabungkan lagu legendaris lokal dan hits internasional era 80-an, penyelenggara ingin memperkenalkan kembali karya-karya yang pernah jadi penanda zaman.
“Karya para musisi senior tidak boleh hilang ditelan zaman. Lagu-lagu ini perlu terus diperkenalkan ke generasi baru agar tetap hidup dan relevan,” kata Refida di sela acara.
Dan itu terjadi di lapangan. Generasi 80-an datang untuk mengenang. Generasi muda datang untuk kenal. Musik jadi jembatan.
Di satu meja bisa duduk ayah yang dulu ngefans Sandro Tobing, bersama anaknya yang baru pertama kali dengar langsung. Mereka sama-sama bernyanyi.
Khusus Yogyakarta, Retro Groove Tour mengusung tema ‘Kaset80an for Humanity’. Sebagian hasil penjualan tiket disalurkan ke yayasan sosial setempat. Musik di sini bukan cuma hiburan, tapi juga alat berbagi.
Banyak pengunjung datang berkelompok: keluarga, sahabat lama, bahkan pasangan yang dulu pacaran sambil dengerin kaset. Mereka tidak hanya menikmati musik, tapi juga bertukar cerita.
“Dulu lagu ini diputar waktu kami nembak,” kata seorang pengunjung sambil tertawa.
Setelah Yogyakarta, Retro Groove Tour 2026 mampir ke Tectona Cafe, Semarang. Sambutan warga Kota Lumpia tak kalah hangat.
Lagi-lagi, konsep nostalgia dan kehadiran musisi legendaris berhasil menyedot penonton lintas usia.
Pamungkas, dua kota, dua malam, satu kesimpulan: lagu-lagu 80-an belum kehilangan daya magisnya. Karya yang lahir puluhan tahun lalu masih mampu membangkitkan emosi, menghidupkan kenangan, dan mempererat hubungan antar generasi.
Retro Groove Tour 2026 pun mengingatkan satu hal sederhana tapi penting: musik paling kuat bukan ketika paling baru, tapi ketika paling bisa menyatukan manusia dalam kenangan, kebersamaan, dan kecintaan pada karya yang tak lekang waktu. (NVR)
