JAKARTA, AKURATNEWS.co – CGV Slipi Jaya, Jakarta jadi saksi saat layarnya menampilkan suara anak-anak yatim yang terdengar bercanda, belajar dan bertumbuh.
Ya.. Kamis (6/8) siang, 100 penonton terlihat serius menyimak film ‘Anak- Anak Bambu’ yang digelar menjadi acara nonton bareng (nobar) oleh Festival Film Wartawan (FFW) 2026 .
Dari 100 penonton, tampak sejumlah pelajar SMK Prima Unggul 98 Ciledug jurusan Broadcasting yang datang bukan hanya untuk menonton, tapi juga bertanya.
Ini memang bukan sekadar nobar, tapi juga ruang tamu terbuka tempat film bertemu penonton, dan penonton bertemu maknanya.
Usai film selesai, diskusi dimulai dengan di awali sambutan Direktur Film, Musik dan Seni Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), Irini Dewi Wanti.
Bagi Irini, ‘Anak Anak Bambu’, lebih dari drama keluarga. Film ini menyelipkan literasi yang jarang kita dapat di bangku sekolah.
“Kampung bambu dalam film ini dimiliki seorang abah. Nah, abah ini adalah seorang yang sangat paham tentang ekologi bambu, beserta filosofinya,” kata Irini.
Lewat sosok Abah, film ini mengajak penonton melihat bambu bukan cuma sebagai material. Bambu lentur, kuat, serbaguna, dan di dalamnya kosong. Filosofi itu yang ditanamkan Abah kepada anak-anak asuhnya.
“Film ini mengajarkan pentingnya bambu bagi kehidupan manusia. Pendidikan juga bisa didapatkan dari keluarga yang hangat, pendidikan yang inklusif di dalam rumah bambu. Sehingga nilai-nilai moral juga menjadi penting bagi kehidupan di dalam sebuah keluarga,” ujarnya.
Pesan itu terasa pas di tengah cerita sepasang suami istri yang memaksakan menyekolahkan anak di tengah himpitan ekonomi.
“Ada sepasang suami istri yang bela-belain menyekolahkan anaknya. Tujuannya baik. Tapi dalam kondisi sosial ekonomi yang tidak memungkinkan, sebenarnya tidak ada salahnya tidak mesti memaksakan,” papar Irini.
Selain cerita, mata penonton juga dimanjakan pemandangan kampung bambu. Lokasinya realistis, tidak dibuat-buat. Dan itu yang membuat Irini melihat peluang lain.
“Ini kan memang sesuatu yang baru yang ke depannya bisa dipromosikan sebagai sebuah destinasi kalau misalnya kita bicara wisata. Potensi ekonomi kreatif lainnya,” ujarnya.
Bagi Irini, film ini juga bisa menguras emosi penonton.
“Secara emosional bisa menguras emosional walau alurnya sudah banyak di film-film lain yang hampir seperti ini,” ungkapnya.
Bagi FFW, nobar bukan sekadar memutar film. Ini cara mendekatkan festival ke publik.
Ketua Bidang Humas FFW 2026, Iris Riswoyo menyebut, apresiasi film tidak cukup lewat penjurian.
“Kita perlu membuka ruang dialog yang memungkinkan berbagai perspektif bertemu,” katanya.
Ketua FFW 2026, Benny Benke, menambahkan hal senada.
“FFW ingin terus membangun budaya nonton bareng sebagai bagian dari tradisi apresiasi film Indonesia. Nobar bukan sekadar menyaksikan film bersama, melainkan menciptakan ruang bertemunya penonton, media, dan insan perfilman untuk berbagi pengalaman, pandangan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap karya sinema nasional,” bebernya.
Antusiasme itu terlihat dari penonton siswa SMK Prima Unggul 98 Ciledug Para pelajar jurusan Broadcasting ini aktif bertanya soal pemilihan ide cerita dan proses casting. Mereka ingin tahu bagaimana sebuah rumah bambu bisa menjadi semesta cerita yang besar.
“Anak Anak Bambu’ sendiri adalah film produksi Theana Pictures bersama PT Armada Bumi Investama. Disutradarai Dyan Sunu Prastowo dan diproduseri Elma Theana.
Kisahnya sederhana: Rumah anak-anak Bambu, tempat bernaung anak-anak yatim, terancam hilang karena ada pihak yang mengincar lahannya. Di tengah ancaman itu, nilai kekeluargaan, gotong royong, dan cinta pada alam diuji.
FFW 2026 memilih film ini masuk rangkaian nobar karena satu alasan: ia mengedukasi sekaligus memperkenalkan budaya lokal.
Saat lampu bioskop dinyalakan kembali, obrolan tentang bambu, tentang keluarga, tentang sekolah yang tidak harus di gedung pun mengalir.
Hal inilah yang diinginkan FFW. Bukan hanya menonton, tapi penonton pulang membawa makna untuk dipikirkan. Seperti bambu, kosong di tengahnya tapi batangnya penuh manfaat. (NVR)
