JAKARTA, AKURATNEWS – Musyawarah Nasional (Munas) alim ulama dan Konferensi Besar (Konbes) akan digelar PB Nahdlatul Ulama (NU) pada 18-20 September di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur dan akan dibuka langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU) Yahya Cholil Staquf mengatakan, PBNU tidak akan memberikan panggung kepada para capres pada dua agenda tersebut. Alih-alih capres, Gus Yahya mengatakan mereka lebih memilih mengundang ahli di luar NU terkait perkembangan teknologi terkini.
“Tidak ada, tidak ada. Jadi nanti ada mungkin kita nanti ada undang dari ahli di luar lingkungan NU apabila dibutuhkan, misalnya ada soal AI (kecerdasan buatan),” ujar pria yang akrab disapa Gus Yahya ini di kantor PBNU, Jakarta, Sabtu (2/9).
“Saya kira kita butuh ahli yang bisa menjelaskan kepada ulama-ulama ini AI itu apa? Dan dia beroperasi dengan cara apa, sehingga para ulama ini bisa membuat kesimpulan keagamaan tentang topik tadi itu, meminta fatwa pada AI itu. Tapi kalau capres tidak ada,” imbuhnya.
Pria yang pernah menjadi juru bicara Presiden keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menjelaskan, tema yang diangkat dalam agenda tersebut adalah ‘Mendampingi Umat, Memenangi Masa Depan.’ Tema itu dipilih karena NU sedang merancang satu set agenda dan program yang diorientasikan pada pendampingan masyarakat di akar rumput secara langsung.
NU saat ini sedang fokus pada membangun agenda-agenda yang menyangkut kesiapan untuk menyongsong dunia yang serba cepat. Salah satunya, terkait dengan teknologi dan dinamika internasional.
“Tapi jelas dalam hal ini teknologi merupakan salah satu unsur yang paling utama, dan juga ekonomi,” ujarnya.
Gus Yahya juga menjelaskan jika Munas dan Konbes adalah dua agenda yang berbeda. Nantinya, dalam kegiatan Munas Alim Ulama akan menghadirkan para ulama di lingkungan NU untuk membicarakan berbagai macam masalah agama. Sementara Konbes merupakan forum yang diisi para pengurus NU di tingkat provinsi seluruh Indonesiauntuk membahas organisasi NU. (NVR)
