JAKARTA, AKURATNEWS.co – Debat ketiga Pilpres 2024, Minggu (7/1) dilihat pengamat dan penggiat sosmed yang juga pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi dikuasai capres nomor urut satu, Anies Baswedan.
Salah satu yang dikuasai adalah tren percakapan di jejaring online. Dalam akun @ismailfahmi, ia menyebut dalam setiap debat, Anies mengalami kenaikan volume percakapan yang paling tinggi.
“Mulai dari sesi pertama, Anies yang langsung ngegas dan dilanjutkan dengan serangan dan pernyataan yang tajam khususnya ke Prabowo pada sesi-sesi berikutnya,” cuit Ismail, Senin (8/1).
Anies, menurut Ismail berhasil mengumpulkan 1.800 sebutan (mention) di berita online dan 61.078 di medsos X dengan meraih total sebutan 62.878.
Adapun capres nomor urut dua, Prabowo Subianto meraih sebutan (mention) 2.064 di berita online dan 40.727 di X dengan total gabungan sebutan 42.791.
Lalu, capres pasangan nomor urut tiga, Ganjar Pranowo meraih 1.705 sebutan di berita online dan 42.969 di X. Total gabungan sebutan didapat mantan Gubernur Jawa Tengah mencapai 44.674.
Sedangkan akademisi, Robi Nurhadi dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta melihat, poin yang disampaikan Anies yakni menggeser posisi Indonesia dari sebagai ‘penonton’ menjadi lebih berperan sebagai penentu politik global akan menarik pemilih yang sudah rindu peran hebat Indonesia di era Soekarno.
âProposal perubahan posisi politik tersebut akan menarik pemilih Indonesia yang sudah lama merindukan peran Indonesia yang hebat era Soekarno dengan Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955-nya, Djuanda dengan Deklarasi Hukum Laut-nya, dan Adam Malik dengan ASEAN-nya,â ujar dosen Hubungan Internasional FISIPÂ Unas Jakarta ini.
Menurutnya dalam bahasa seorang globalis, Immanuel Wallerstein, langkah Anies ini akan menggeser Indonesia dari posisi semi periphery menjadi core state (negara pengendali).
âArtinya, Indonesia akan naik kelas. Perhatian Dunia Selatan kepada Indonesia bukan sekadar ingin bekerjasama, melainkan juga akan mendorong Indonesia menjadi pemimpin polar,â papar Robi.
Anies, kata dia, memperkenalkan soft power, kepanglimaan dalam multitrack diplomacy, dan memperkuat presensi internasional.
âSoft power merupakan kekuatan-kekuatan yang berbasis pada kepemimpinan gagasan di ruang publik dan kehadiran “label” suatu negara di berbagai belahan dunia, bisa berbentuk kuliner (nasi padang, warteg dan lain-lain), seni-budaya (lagu dan penyanyinya seperti Putri Aryani, film, lifestyle, dan lain-lain), olahraga, dan kontribusi para diaspora Indonesia di berbagai negara,â ujar Robi. (NVR)
