JOMBANG, AKURATNEWS – Keputusan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dua partai dengan latar belakang Islam yang berbeda berkoalisi dalam Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) mendapat sambutan positif dari KH Abdussalam Shohib, seorang kiai muda dari Nahdlatul Ulama (NU) yang juga pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

“Saya kira, kita tidak akan menghadapi kendala dalam koalisi antara PKB dan PKS. Jika kita merenung sejarah kepemimpinan dan pemerintahan negara ini, kita akan mengingat masa ketika Gus Dur, yang kemudian menjadi Presiden, berkoalisi dengan PK (Partai Keadilan, yang kemudian menjadi cikal-bakal PKS), PAN, PPP, dan Golkar,” kata pria yang akrab disapa Gus Salam ini beberapa waktu lalu.

Gus Salam, yang pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU ini melanjutkan, dengan menyebut bahwa koalisi semacam itu juga berlanjut selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Sementara itu, pada era pemerintahan Presiden SBY, kita tahu bahwa koalisi tersebut melibatkan Demokrat, PKB, dan PKS,” kata Gus Salam, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di 2018.

Gus Salam yang terpilih sebagai Khatib PBNU dalam periode kedua KH Said Aqil Siraj sebagai Ketua Umum PBNU, menyatakan bahwa KPP membawa harapan untuk perubahan yang lebih baik bagi Indonesia.

“Koalisi Perubahan untuk Persatuan, sesuai dengan namanya, bertujuan untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi Indonesia. Hal ini sejalan dengan jargon Nahdlatul Ulama (NU) yang menekankan pengambilan nilai-nilai baik dari masa lalu untuk masa depan yang lebih baik,” papar ulama NU yang menjadi pengurus Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama (LBMNU) Kota Kediri sejak 2002.

Oleh karena itu, Gus Salam berpendapat bahwa KPP harus dilihat dari sudut pandang kebhinekaan. “Koalisi antara PKS dan PKB harus dipahami dalam konteks nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45. Ini adalah kebutuhan bangsa ini, di mana perbedaan harus dikelola dalam kerjasama dan semangat kebhinekaan,” ujar Gus Salam.

Sebelumnya, Gus Salam telah mengungkapkan bahwa pasangan Anies dan Muhaimin dianggap sebagai pasangan yang ideal dan saling melengkapi.

“Calon Presiden Anies dan Calon Wakil Presiden Gus Muhaimin adalah pasangan yang ideal dan saling melengkapi. Keduanya memberikan harapan untuk kemajuan, kesejahteraan, dan kemandirian Indonesia di masa depan,” kata Gus Salam.

Dengan dukungan yang diperkirakan akan datang dari kalangan nahdliyyin di Jawa Timur dan Jawa Tengah, Anies dan Gus Muhaimin diprediksi akan mendapatkan dukungan yang kuat.

“Kita akan melihat dukungan yang kuat, terutama dari kader NU. Saya yakin bahwa dukungan nahdliyyin akan sebanding dengan dukungan yang diberikan kepada Kiai Ma’ruf Amin dalam pemilihan presiden 2019,” katanya.

Pengamatan Gus Salam terhadap dukungan dari para kiai NU terhadap pasangan Anies dan Gus Muhaimin diperkirakan akan semakin meluas seiring berjalannya waktu.

“Saya percaya bahwa seiring berjalannya waktu, dukungan untuk pasangan ini akan semakin meluas, karena keduanya (Anies dan Gus Muhaimin) akan membawa kejayaan Islam moderat dan semangat kebhinekaan Indonesia,” pungkas Gus Salam. ( NVR)

By Editor1