DENPASAR, AKURATNEWS.co – Gaya hidup anak muda yang lekat dengan konsumsi kopi, teh, cokelat, hingga berbagai produk turunan kelapa sawit kini tak lagi bisa dipandang sekadar soal selera.

Di balik setiap cangkir kopi dan batang cokelat, tersimpan jejak panjang yang berdampak langsung pada lingkungan dan kehidupan petani di hulu.

Kesadaran inilah yang coba diperkuat melalui kegiatan “Narasi dan ACT! Project Go to Campus” yang digelar di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali, Rabu (11/12).

Program ini merupakan kolaborasi antara Accelerating Consumer Transformation for Sustainability in Indonesia (ACT! Project) dan Narasi Academy, dengan fokus utama pada konsumsi berkelanjutan komoditas teh, kopi, cokelat, dan kelapa sawit.

ACT! Project sendiri merupakan konsorsium yang digagas oleh Rainforest Alliance, Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), dan Cocoa Sustainability Partnership (CSP), dengan dukungan pendanaan dari Uni Eropa melalui program SWITCH-Asia. Inisiatif ini menekankan pentingnya peran konsumen terutama generasi muda dalam mendorong praktik produksi yang lebih ramah lingkungan dan adil secara sosial.

Acara dibuka dengan permainan interaktif yang mengajak mahasiswa merefleksikan kebiasaan konsumsi mereka sehari-hari.

Suasana kemudian berlanjut ke workshop bertajuk “Good Taste, Good Impact: Pilihan Konsumsi untuk Keberlanjutan Lingkungan”, yang menghadirkan pelaku industri berkelanjutan.

Marketing Practitioner sekaligus General Manager Boemi Botanicals, Ribka Anastasia, menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar tren sesaat.

“Sustainability is not a trend, melainkan cara kita hidup untuk bertahan hingga generasi-generasi yang akan datang. Sertifikasi menjadi mekanisme penting untuk menunjukkan komitmen kami bahwa bahan-bahan yang digunakan berasal dari sumber yang bertanggung jawab dan lestari,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan R.H. Pranata Koesmadiredja, Marketing Manager APAC Krakakoa. Ia memaparkan pendekatan bean to bar yang diterapkan perusahaannya.

“Kami melatih petani menerapkan agroforestri berkelanjutan dan perdagangan yang adil. Krakakoa membeli biji kakao dengan harga lebih tinggi dari pasar sebagai bagian dari misi melawan kemiskinan,” jelasnya.

Sesi berikutnya diisi talk show bertema “Konsumsi Kita, Tanggung Jawab Siapa?” yang menghadirkan Chief Creative Officer Narasi sekaligus influencer Jovial Da Lopez serta Manager Consumer Campaign and Engagement Rainforest Alliance Indonesia, Margareth Meutia.

Margareth menekankan pentingnya literasi konsumen dalam membaca jejak keberlanjutan sebuah produk.

“Melalui ACT! Project, kami mendorong konsumen lebih kritis. Sertifikasi memiliki banyak kriteria yang bisa dikenali untuk memastikan produk dihasilkan dengan benar.

Dengan populasi dan jumlah konsumen yang terus bertambah, gaya konsumsi kita akan berdampak besar bagi lingkungan dan kehidupan sosial,” katanya.

Sementara itu, Jovial mengaitkan isu konsumsi dengan realitas bencana alam yang belakangan kerap terjadi.

“Banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat harus menjadi pengingat. Ini momen tepat untuk menyadari bahwa pilihan dan gaya konsumsi kita punya konsekuensi,” ujarnya.

Menurut Jovial, kemudahan akses terhadap berbagai produk justru mendorong over consumption.

“Yang perlu dibangun sekarang adalah rasa peduli dan tanggung jawab. Kita harus bertanya: apa yang kita konsumsi, dari mana asalnya, dan bagaimana produk itu dihasilkan sebelum membeli apa pun,” tambahnya.

Kegiatan di Bali ini menjadi campus activation kedua ACT! Project yang dihadiri lebih dari 150 peserta.

Sebelumnya, program serupa telah digelar di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada 17 Oktober 2025.

Kolaborasi ACT! Project dan Narasi sendiri telah dimulai sejak Jogja Coffee Week 2025 pada 5–7 September lalu.

Melalui rangkaian diskusi dan interaksi langsung dengan mahasiswa, ACT! Project berharap kesadaran konsumsi berkelanjutan tidak berhenti di ruang kampus, tetapi menjadi kebiasaan hidup generasi muda Indonesia dalam menentukan masa depan lingkungan dan sistem pangan yang lebih adil. (NVR)

By editor2