‘Rarangken’ Hadir, ‘Pirunduk’ Terpilih di FFH Edisi 11
JAKARTA, AKURATNEWS.co – Rangkaian Festival Film Horor (FFH) edisi ke-11 hadir dan semakin berani main di ranah budaya.
Di tengah gempuran horor AI dan jumpscare template, FFH bulan Oktober ini memilih ‘Pirunduk’ sebagai Film Terbaik Bulan Oktober, sekaligus menjadi wadah perilisan film horor budaya terbaru bertajuk ‘Rarangken’ dari PAS Productions, Minggu (25/10).
Dengan format diskusi “Let’s Talk to Horor” yang ngebahas topik panas: budaya dalam film horor nasional.
Dipandu moderator Alyne Maarif dan Cank Mail dan MC Mesya Siregar, diskusi ini menghadirkan empat pembicara yakni Fanny G Poyk (Budayawan/Sastrawan, Wan Emily Sjahrir (Produser Rarangken, Ambu Rd Sonia Soema (Dewan Penasehat MASDA) dan Tsania Prilla (Aktris)
Benang merah diskusi ini jelas: film horor Indonesia harus balik ke budaya lokal kalau mau survive.
Budayawan senior Fanny G Poyk bilang, tema budaya berbaur mistik itu nggak pernah mati dari masa ke masa. Di era film AI yang skenarionya dibuat dari survei minat penonton global, horor budaya justru punya sisi psikologis yang nggak bisa ditiru.
“Semuanya terletak pada pelaku perfilman Indonesia untuk melihat perkembangan perfilman yang terjadi di dunia khususnya Indonesia saat ini. Semoga dunia perfilman Indonesia semakin maju meski harus bersaing dengan situasi perfilman global,” ujar Fanny.
Sedangkan produser PAS Production, Wan Emily Sjahrir yang ngeproduseri Rarangken lebih blak-blakan
“Film horor lebih enak ditonton bila beririsan dengan budaya. Karena itu selaku produser saya ingin mengangkat budaya setiap daerah, karena film itu mistis tapi basic-nya budaya. Film itu harus ada pembedanya, kalau sama sebaiknya tak perlu buat tapi nonton saja. Dan bila ingin membuat film harus out of the box keluar dari kebiasaan terutama dari unsur budayanya,” ujar Emily.
Di kesempatan ini, Ambu Rd Sonia Soema menjelaskan, Rarangken itu bukan sekadar properti horor. Di budaya Pasundan, Rarangken adalah perhiasan atau benda yang diyakini punya daya magis, jadi kekuatan leluhur.
“Ada ritual atau tata cara adat untuk menyentuh atau memegang Rarangken itu, serta ada pantangan yang tak boleh dilanggar oleh pemiliknya. Di film ini, Rarangken yang jadi kekuatan horornya adalah benda yang asli ada di daerah Majalengka. Bila pantangannya dilanggar, bakal mengakibatkan hal buruk yang menimpa masyarakat sekitar,” bebernya.
Aktris muda Tsania Prilla yang juga jadi Executive Producer film ini mengaku tertantang karena ini soal identitas.
“Aku berdarah Pasundan tapi selama ini nggak begitu paham apa itu Rarangken. Dengan terlibat di film ini, aku pengen lebih paham budaya leluhurku sendiri,” ucapnya.
Keempat pembicara sepakat: horor budaya bukan cuma nakutin, tapi ngasih pelajaran dan ngelestarin budaya nasional buat generasi penerus.
Film ‘Rarangken’ garapan sutradara R.G.H yang diproduseri Wan Emily Sjahrir, dengan Tsani Prilia sebagai Executive Producer ini sendiri berpusat pada misteri keluarga.
Diceritakan, Ranti (Vanny Meisella) balik ke rumah tua peninggalan keluarganya bareng empat sahabatnya. Teror brutal mulai setelah satu benda misterius bernama Rarangken dipindahkan. Sosok Nyi Larang muncul mengingatkan pada tragedi masa lalu yang disembunyiin puluhan tahun.
Usaha Ranti menghancurkan Rarangken malah bikin kejutan: kutukannya belum berakhir.
Film ini memang memadukan legenda Sunda, misteri warisan leluhur, dan rahasia kelam lintas generasi. Bukan horor tempelan, tapi horor yang akarnya beneran ada.
Dengan terpilihnya ‘Pirunduk’ sebagai Film Terbaik Oktober dan dirilisnya Rarangken, FFH edisi 11 membuktikan jika kalau horor Indonesia lagi balik ke rumah: budaya lokal adalah jumpscare paling otentik. (NVR)
