JAKARTA, AKURATNEWS.co – Wahyuni Refi resmi meluncurkan novel terbarunya bertajuk ‘Bumi Lorosae’, yang mengangkat perjalanan sejarah dan kemanusiaan dalam hubungan antara Indonesia dan Timor Leste.

Acara peluncuran novel ini dihadiri berbagai tokoh, termasuk mantan Ketua Umum PB HMI, Anas Urbaningrum yang turut memberikan pandangannya terkait isi novel tersebut.

Anas menyebut, novel ‘Bumi Lorosae’ ini bisa menjadi pengingat bahwa hubungan antara Indonesia dan Timor Leste memiliki sejarah panjang yang penuh dengan dinamika. Namun, ia menekankan pentingnya melihat ke depan demi membangun masa depan yang lebih baik bagi kedua negara.

“Buku ini adalah peralatan intelektual yang mengingatkan kita bahwa ada masa lalu dalam relasi Indonesia dan Timor Leste. Ada rasa pedih, ada episode kelabu, bahkan hitam. Tapi bangsa yang ingin bergerak maju tidak boleh terpaku pada masa lalu, harus melihat ke depan,” ujar Anas di sela peluncuran novel ini di Jakarta, Kamis (6/2).

Ia menegaskan, meski ada sejarah yang kelam, hal itu bukan alasan untuk terus terjebak dalam dendam. Sebaliknya, Indonesia dan Timor Leste harus menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk membangun hubungan yang lebih produktif.

“Tetangga yang baik adalah yang saling membantu untuk masa depan yang lebih indah. Masa lalu tidak boleh menjadi bahan dendam, tetapi harus diambil hikmahnya,” katanya.

Wahyuni Refi, sebagai penulis ‘Bumi Lorosae’,menegaskan, novel yang mengisahkan berbagai peristiwa penting dalam hubungan Indonesia dan Timor Leste mulai dari era kolonial Portugis, integrasi Timor Timur ke Indonesia, hingga kemerdekaan Timor Leste pada 2002 ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga cerminan perjalanan kemanusiaan yang melintasi batas negara.

“Novel ini berbicara tentang waktu sebagai tonggak sejarah bagi kedua bangsa. Kita harus menerima bahwa Indonesia dan Timor Leste ditakdirkan sebagai tetangga, sesuatu yang tidak bisa kita pilih. Tapi perjalanan saya ke Timor bukan hanya berbicara soal negara, melainkan tentang manusia,” ujar Wahyuni.

Ia menyoroti bahwa aspek kemanusiaan dalam hubungan kedua negara sering kali kurang mendapatkan perhatian. Meskipun ada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang dibentuk pemerintah kedua negara. Wahyuni merasa masih banyak kisah individu yang perlu diangkat agar sejarah bisa dipahami lebih dalam.

“Perjalanan saya dari Atambua hingga 13 distrik di Timor Leste memperlihatkan bahwa ada sisi kemanusiaan yang menembus sekat-sekat politik dan sejarah. Itu yang saya coba lukiskan dalam novel ini dan bagaimana pembaca menafsirkannya nanti, itu terserah mereka,” tambahnya.

Menariknya, sebelum peluncuran resmi, novel ‘Bumi Lorosae’ sudah memicu perdebatan, bahkan di antara tim riset Wahyuni sendiri yang terdiri dari peneliti asal Indonesia dan Timor Leste.

“Pergulatan itu pasti ada dan tidak akan berhenti, tapi justru dari sana kita semakin diperkaya dan mampu melihat sejarah dengan lebih utuh,” jelas Wahyuni.

Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya sengaja memilih format novel sebagai medium penyampaian risetnya. Menurutnya, sastra lebih mudah diakses generasi muda dan dapat menjadi jembatan pemahaman bagi pembaca untuk melihat sejarah Indonesia-Timor Leste bukan hanya dari sudut pandang politik, tetapi juga dari sisi kemanusiaan yang lebih mendalam.

Dengan hadirnya Bumi Lorosae, Wahyuni berharap generasi mendatang dapat lebih memahami kompleksitas hubungan antara Indonesia dan Timor Leste tanpa terjebak dalam luka masa lalu, melainkan dengan semangat rekonsiliasi dan kemanusiaan.

Untuk diketahui, novel ini pun menjadi inspirasi film ‘Saat Luka Bicara Cinta’ yang segera masuk tahap produksi dan direncanakan tayang pada Agustus 2025. (NVR)

By Editor1