JAKARTA, AKURATNEWS.co – Festival Film Wartawan (FFW) 2025 berupaya tidak hanya bicara soal penghargaan dan estetika layar lebar.
Dalam rangkaian pra-acara menuju malam puncak yang akan digelar November mendatang, FFW menggandeng Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) untuk menggelar diskusi bertajuk ‘Merawat Ingatan, Merangsang Mimpi: Membaca Film Indonesia’ di Aula FISIP UHAMKA, Jakarta, Senin (20/10).
Diskusi ini punmenjadi ruang pertemuan unik antara para sineas, akademisi, dan mahasiswa Gen Z yang kini menjadi penonton sekaligus calon pelaku industri film masa depan.
Dalam sambutannya, Dekan FISIP UHAMKA, Dr. Tellys Corliana, M.Hum, menilai film bukan sekadar hiburan, tetapi refleksi perubahan sosial dan budaya.
“Film Indonesia pernah melalui masa-masa sulit, namun kini bangkit dengan semangat baru. Mahasiswa perlu belajar membaca film bukan hanya dari segi cerita, tetapi juga konteks sosial dan sejarah di baliknya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa film terus berevolusi mengikuti perkembangan teknologi dan nilai-nilai masyarakat.
“Diskusi seperti ini penting agar mahasiswa tidak hanya jadi penonton pasif, tetapi juga kritikus muda yang sadar makna di balik layar,” tambahnya.
Dalam kesempatan ini, Ketua FFW 2025 Benny Benke menjelaskan, festival ini menilai film dari sudut pandang wartawan, bukan industri atau popularitas.
“Kami punya cara sendiri untuk menilai film, dan yang menilai adalah wartawan yang hidup dari nalar, bukan angka box office,” ucapnya.
Menurut Benny, kehadiran FFW di kampus seperti UHAMKA adalah bentuk kolaborasi antara jurnalisme budaya dan dunia akademik.
“Kami ingin menumbuhkan kembali tradisi menulis dan berdiskusi film di kalangan muda,” katanya.
Mewakili Kementerian Kebudayaan RI, M. Soleh Artiawan, Pamong Budaya Ahli Muda Ditjen Kebudayaan, menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan seperti FFW.
“Diskusi seperti ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk berpikir kritis. Pemerintah berharap generasi muda bisa menjadi penonton cerdas dan pelaku kreatif yang mengangkat identitas bangsa,” ujarnya.
Soleh juga ingin agar Indonesia menjadi tuan rumah bagi perfilman di negeri sendiri. Film harus kembali menjadi cermin bangsa.
Sedangkan Eksekutif Produser Imperial Pictures, Peter Surya Wijaya, datang dengan misi mendengar.
“Kami ingin tahu film seperti apa yang disukai mahasiswa hari ini. Apakah mereka mencari refleksi, hiburan, atau inspirasi?” katanya.
Menurut Peter, generasi muda kini tidak lagi terpaku pada layar bioskop, tetapi punya cara sendiri dalam menikmati film.
“Tantangannya, bagaimana film Indonesia tetap relevan di mata Gen Z yang tumbuh dalam budaya digital,” tambahnya.
Sementara Hartawan Triguna, produser film ‘Assalammualaikum Beijing 2’ menekankan bahwa kreativitas adalah modal utama dalam industri film.
“Dengan ide yang kuat, film bisa hidup tanpa anggaran besar. Kreativitas bisa mengubah keterbatasan menjadi kekuatan,” ungkap Hartawan yang kini tengah menyiapkan film ‘Ghosting’.
Sedangkan perwakilan Lembaga Sensor Film (LSF) sekaligus dosen UHAMKA, Titin Setiawati, M.I.Kom, mengingatkan pentingnya peran sensor dalam menjaga kualitas tontonan publik.
“Setiap tahun kami memeriksa ribuan film. Tujuan kami bukan melarang, tapi melindungi,” jelasnya.
Titin juga mendorong mahasiswa untuk memahami fungsi sensor sebagai bagian dari literasi media.
“Penonton cerdas bukan yang menolak sensor, tapi yang tahu kenapa film harus melewati proses itu,” ujarnya.
Diskusi yang dimoderatori Irish Riswoyo ini berlangsung dinamis selama hampir tiga jam. Ratusan mahasiswa FISIP UHAMKA antusias bertanya, dari isu jumlah penonton, proses produksi, hingga bagaimana film bisa menyuarakan keresahan generasi muda.
Kehadiran FFW 2025 di kampus ini menjadi lebih dari sekadar acara akademik: ia berubah menjadi laboratorium ide bagi mahasiswa untuk belajar membaca film dengan nurani, bukan sekadar menonton dengan mata.
FFW 2025 sendiri akan menutup rangkaian acaranya dengan Malam Puncak Penghargaan pada November mendatang, di mana penghargaan tertinggi akan diberikan kepada film-film yang dianggap memiliki capaian estetika, bukan sekadar komersialitas. (NVR)
