JAKARTA, AKURATNEWS.co – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus Rp17.000. Bahkan sejak Kamis (22/4), dolar AS sudah mencapai Rp17.286.

Salah satu faktor yang ikut menekan rupiah selain kondisi geopolitik di Timur Tengah adalah kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia setelah pemerintah memutuskan menahan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi.

Bagi masyarakat, kebijakan ini tentu positif karena menahan tekanan biaya. Dari sudut pandang investor, keputusan itu juga memunculkan pertanyaan baru. Jika harga minyak dunia masih tinggi, maka beban kompensasi dan subsidi energi pemerintah berpotensi makin besar.

Namun, faktor tersebut dipandang bukan sebagai satu-satunya faktor yang membuat rupiah tertekan. Faktor internal dalam negeri yang disebut lemahnya tata kelola negara juga dipandang sebagai salah satu biangnya.

“Dimana-mana kita baca, rupiah makin lemah, risk premium makin tinggi, yield surat utang makin tinggi, dan CDS makin tinggi. Semua ini bersumber dari rendahnya kredibilitas kebijakan yang mesti menjadi fokus kerja Menkeu dan bank sentral. Tak boleh diabaikan bahwa semua adalah produk tata kelola yang makin parah. KKN yang menjadi musuh reformasi 30 tahun lalu itu tak kunjung kalah,” ujar ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi di Jakarta, Senin (27/4).

Ia pun sepakat jika pelemahan rupiah ini adi bukan semata karena tekanan global, krisis Timur Tengah dan menguatnya nilai dolar.

“Ternyata tidak semata tekanan global, melainkan juga pada bagaimana pasar menghargai kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter dan tata kelola institusi kita,” lanjutnya.

Senada dengan Syafruddin, Tere Liye,  penulis novel yang belakangan ini kerap mengkritisi kebijakan pemerintah, mendesak pemerintah segera mengambil langkah serius menangani hal ini.

Lewat unggahan di media sosial, Tere Liye menilai pemerintah dan otoritas moneter tidak boleh menganggap enteng pelemahan rupiah.

Ia meminta Presiden dan para menteri segera menggelar rapat khusus membahas gejolak kurs.

“Seharusnya presiden, menteri-menteri bergegas mengadakan rapat serius soal ini. Bukan cuma bermain optimisme kata-kata, ‘ekonomi naik 6%, semua baik-baik saja, fundamental bagus, anggaran kuat’,” tulis Tere Liye.

Ia juga menyinggung peran Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan dalam menjaga stabilitas rupiah.

“Apalagi yang kurang dari BI ini? Menkeu yang hebat itu juga katanya tahu resep bikin rupiah menguat dalam semalam. Ayo dong kerja,” lanjutnya.

Tere Liye pun mengingatkan dampak pelemahan rupiah terhadap harga kebutuhan pokok. Menurutnya, Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas.

“Sekali kurs menggila, harga-harga barang ikut menggila,” tegasnya.

Ia menyebut hanya kelompok tertentu yang diuntungkan dari pelemahan rupiah.

“Yang ketawa hanyalah yang punya tambang batubara, kebun kelapa sawit, smelter nikel. Nasib, elit-elit semua yang punya,” tulis Tere Liye. (NVR)

By editor2