JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di tengah geliat aktivitas pagi di Stasiun Merak, deru mesin dan aroma tanah basah dari keranjang sayur akan segera menjadi pemandangan yang biasa.

Ya… PT KAI Commuter sedang menyiapkan sebuah inovasi yang tak hanya soal transportasi, tapi tentang nadi ekonomi rakyat yakni kereta khusus petani dan pedagang. Langkah ini menjadi bentuk nyata bagaimana moda transportasi bisa menjadi jembatan antara hasil bumi dan pasar, antara tangan-tangan petani dan piring masyarakat kota.

“Layanan kereta petani dan pedagang ini merupakan inovasi transportasi yang dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat sekaligus terobosan terbaru dari KAI Group,” ujar VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda,, Minggu (2/11).

Kereta yang digunakan adalah Kereta Penumpang Kelas Ekonomi (K3) atau jenis gerbong yang disubsidi pemerintah. Namun kali ini, desainnya dibuat lebih ramah bagi penumpang dengan aktivitas dagang. Tempat duduk disusun sejajar di sisi kiri dan kanan, memberi ruang di tengah untuk menaruh barang bawaan, karung sayur, hingga keranjang hasil panen.

Pintu kereta pun dibuat lebih lebar agar keluar-masuk barang menjadi mudah, tanpa mengorbankan standar keselamatan maupun kenyamanan. Dalam satu rangkaian, terdapat 73 tempat duduk.

“Semua fasilitas telah disesuaikan dengan standar pelayanan minimum dan prinsip keselamatan,” tegas Karina.

Pada tahap awal, layanan ini akan melayani rute Stasiun Merak-Stasiun Rangkasbitung, dengan 14 perjalanan setiap hari. Wilayah Banten yang selama ini dikenal dengan hasil pertanian dan perdagangan lokal seperti Serang, Lebak, dan Pandeglang, akan menjadi jalur utama kereta rakyat ini.

Para petani dan pedagang dapat mengangkut hasil bumi mereka menuju kota, menjajakan di pasar-pasar tradisional, lalu kembali ke desa dengan moda transportasi yang aman, murah, dan pasti.

Dari Rangkasbitung, mereka yang hendak melanjutkan perjalanan ke Jakarta dan sekitarnya dapat berpindah ke KRL Rangkasbitung–Tanah Abang. Namun, ada aturan tambahan: barang bawaan besar hanya boleh diangkut pada kereta pemberangkatan pertama dari Rangkasbitung ke Jakarta.

Inovasi ini bukan sekadar proyek logistik. Di baliknya, ada upaya memperkuat rantai ekonomi akar rumput. Banyak petani kecil selama ini bergantung pada transportasi terbatas untuk membawa hasil panen ke pasar, bahkan sebagian harus menyewa kendaraan pribadi dengan biaya tinggi.

Dengan hadirnya kereta khusus ini, mereka mendapat harapan baru. Kereta bukan lagi sekadar alat angkut, tapi ruang ekonomi berjalan, tempat bertemunya manusia, hasil kerja keras, dan peluang.

KAI Commuter memastikan seluruh aspek layanan dari teknis, keselamatan hingga regulasi dipersiapkan matang bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.

“Kami terus berkoordinasi dengan DJKA untuk memastikan semua aspek, baik fasilitas, teknis, maupun regulasi, siap. Kami ingin layanan ini benar-benar menjadi solusi nyata bagi masyarakat,”
pungkas Karina. (NVR)

By editor2