JAKARTA, AKURATNEWS.co – Di sebuah SMA Negeri di pinggiran Sulawesi Selatan (Sulsel), para guru tak lagi terlihat kebingungan memeriksa berkas pendaftaran yang menumpuk di meja.
Tak ada antrean panjang orang tua di depan ruang tata usaha. Semua berjalan lancar cukup lewat gawai, cukup lewat sistem digital.
Itulah wajah baru penerimaan murid di Indonesia yang kini mulai terasa nyata berkat hadirnya SCALA by Metranet, platform digital yang telah membantu lebih dari 5.000 sekolah di seluruh Indonesia.
Bukan sekadar pencapaian angka, SCALA mencerminkan perubahan paradigma besar dalam sistem pendidikan: transformasi digital yang inklusif dan adaptif.
Pada 2025, layanan ini pun diresmikan dengan nama baru: Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), menggantikan istilah PPDB, sebagai bentuk penyelarasan istilah yang lebih nasionalis dan terbuka.
Transformasi digital acapkali menimbulkan kekhawatiran di lapangan: terlalu teknis, tidak inklusif, atau malah memperlebar jurang digital.
Namun SCALA mencoba menjawab kekhawatiran itu dengan pendekatan yang sederhana: hadir untuk mempermudah, bukan mempersulit.
Lewat SPMB, proses pendaftaran peserta didik kini bisa dilakukan dari mana saja, oleh siapa saja, tanpa harus datang ke sekolah dan menumpuk formulir.
“Sistem ini menjawab kebutuhan sesungguhnya dari sekolah dan orang tua, mulai dari zonasi hingga manajemen data,” ujar Faisal Yusuf, Direktur Bisnis Metranet di Jakarta, baru-baru ini.
Tak hanya menawarkan sistem pendaftaran online, SPMB juga dilengkapi dengan sejumlah fitur unggulan:
- Multi Jalur Seleksi: dari zonasi hingga prestasi.
- Multi Model Pendaftaran: bisa lewat laman publik maupun akun pribadi.
- Manajemen Hak Akses: memudahkan peran admin sekolah dan dinas.
- Situs Arsip Digital: menyimpan data hingga lima tahun ke belakang.
Mungkin tak banyak yang menyangka, sebuah teknologi yang biasanya terdengar kompleks seperti Artificial Intelligence (AI) kini hadir di jantung sistem pendidikan.
Di SCALA, AI dimanfaatkan mempercepat seleksi dan menyajikan analisis real-time bagi pengambil kebijakan.
Lebih dari itu, SCALA juga menghadirkan POSGRAM, fitur broadcast message yang memungkinkan sekolah menyampaikan pengumuman penting langsung ke orang tua murid secara cepat, terjadwal, dan akurat.
“Dulu kami repot menyebar informasi lewat WhatsApp grup yang kadang simpang siur. Sekarang semua terjadwal otomatis lewat POSGRAM. Kami tenang, orang tua juga tenang,” kata Dian, seorang kepala sekolah di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Apa makna dari angka 5.000? Bagi SCALA, itu bukan hanya statistik. Di balik angka itu, ada puluhan ribu guru, ratusan ribu orang tua, dan jutaan siswa yang kini merasakan manfaat teknologi. Mulai dari sekolah negeri di pusat kota hingga madrasah kecil di perbatasan Kalimantan.
Bagi Metranet, ini adalah tonggak penting dalam peran mereka sebagai Digital Enabler for Nation.
“Kami tidak hanya ingin menjadi penyedia sistem. Kami ingin menjadi mitra strategis bagi pemerintah, dinas pendidikan, hingga sekolah. Kami ingin bersama-sama membangun masa depan pendidikan Indonesia yang tangguh dan berdaya saing,” kata Faisal.
Dalam dunia teknologi, inovasi tidak mengenal garis akhir. Begitu pula SCALA. Capaian 5.000 sekolah bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju transformasi yang lebih besar. Metranet kini terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian, lembaga, hingga komunitas pendidikan.
“Digitalisasi pendidikan bukan hanya soal infrastruktur. Tapi soal membangun ekosistem yang saling terhubung dan saling menguatkan,” tutup Faisal.
Kini, ketika masa pendaftaran murid baru datang setiap tahun, suasana di banyak sekolah berubah.
Tidak lagi hiruk pikuk di halaman sekolah, melainkan dering notifikasi dari dashboard SPMB. Tidak lagi gelisah menunggu giliran, melainkan kepastian dari sistem yang transparan. SCALA menunjukkan bahwa teknologi bukan musuh bagi pendidikan, tapi sahabat yang membantu semua orang melangkah lebih maju bersama-sama. (NVR)
