LAMPUNG, AKURATNEWS.co – Deru air sungai yang selama bertahun-tahun membelah kehidupan warga Pekon Umbar, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Lampung kini tak lagi menebar kecemasan.
Aliran yang dahulu menjadi batas antara rumah dan sekolah, antara kebun dan pasar, kini dinaungi oleh bentangan baja bernama Jembatan Gantung Garuda—sebuah penghubung yang menghadirkan harapan baru.
Selasa (30/12), suasana Pekon Umbar terasa berbeda. Warga datang berbondong-bondong menuju tepi sungai. Ada yang menggandeng anak-anaknya, ada pula yang berdiri lama, memandang jembatan yang kini terbentang kokoh di hadapan mereka, seolah memastikan bahwa ini bukan lagi angan-angan yang tertunda.
Bagi masyarakat setempat, sungai bukan sekadar bentang alam. Ia adalah penentu ritme hidup. Saat air surut, warga masih berani menyeberang dengan kaki telanjang atau kendaraan seadanya.
Namun ketika hujan turun dan arus meninggi, perjalanan menuju sekolah, kebun, hingga fasilitas kesehatan sering kali harus dibatalkan.
Tak jarang, anak-anak terpaksa absen sekolah. Warga yang sakit harus menunggu air surut sebelum mendapatkan pertolongan.
Juwita, seorang ibu warga Pekon Umbar, mengenang masa-masa itu dengan mata berkaca-kaca. Ia mengingat bagaimana anak-anak harus menunggu berjam-jam di tepi sungai, atau pulang kembali ke rumah karena arus tak memungkinkan untuk diseberangi.
“Kalau hujan, kami waswas. Anak-anak sekolah susah menyeberang. Kalau ada yang sakit juga jadi bingung. Sekarang rasanya lebih tenang,” ujar Juwita lirih.
Rasa syukur itu ia sampaikan kepada Presiden, TNI, serta jajaran Kodam XXI/Radin Inten yang telah membangun jembatan tersebut.
Bagi Juwita dan warga lainnya, Jembatan Gantung Garuda bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan jawaban atas kebutuhan paling mendasar: rasa aman.
Panglima Kodam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menyebut pembangunan jembatan ini sebagai wujud nyata kehadiran negara di wilayah yang selama ini tergolong sulit dijangkau.
“Ini merupakan perintah Presiden untuk membuka akses, mempercepat pembangunan, dan mendorong perekonomian masyarakat. Anak-anak harus bisa bersekolah dengan aman, dan warga harus mudah beraktivitas,” kata Kristomei.
Jembatan sepanjang 120 meter itu dibangun dalam waktu relatif singkat, hanya sekitar enam hari. Proses pembangunannya melibatkan gotong royong masyarakat setempat, dari membantu pengangkutan material hingga mendampingi personel TNI selama pengerjaan.
“Tidak ada kesulitan berarti karena masyarakat ikut terlibat. Kami berharap jembatan ini dijaga bersama, karena manfaatnya sangat besar bagi kehidupan warga,” tambahnya.
Turut hadir dalam peresmian tersebut, Bupati Tanggamus Mohammad Saleh Asnawi yang menyampaikan apresiasi atas peran TNI dalam pembangunan infrastruktur daerah.
Ia menilai Jembatan Gantung Garuda akan menjadi pemantik baru pertumbuhan ekonomi masyarakat Pekon Umbar.
“Akses yang dulu terhambat kini terbuka. Kami berharap perekonomian, pendidikan, dan pelayanan kesehatan masyarakat bisa bergerak lebih cepat,” ujarnya.
Kini, Jembatan Gantung Garuda tak hanya menyatukan dua sisi sungai. Ia menyambungkan cerita-cerita yang dulu terputus antara rumah dan sekolah, antara kebun dan pasar, antara keterisolasian dan masa depan yang lebih terbuka.
Di atas rangka baja itu, harapan warga Pekon Umbar meniti langkah baru. (NVR)
