Ketua Umum ABAS, Boyke Djohan.

JAKARTA, AKURATNEWS.co – Aliansi Bersatu Anti SARA (ABAS) mendesak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menindak tegas seluruh pihak yang terlibat dalam pembubaran dan perusakan kegiatan retret pelajar Kristiani di Sukabumi, Jawa Barat. Jumat (2/6) lalu.

Insiden yang terjadi di sebuah rumah milik warga bernama Ninna yang digunakan sebagai lokasi retret keagamaan di Kampung Tangkil, RT 04 RW 01, Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Sukabumi ini diawali penyerbuan sekelompok warga dengan dalih tempat itu dijadikan lokasi ibadah seperti gereja tanpa izin resmi.

Mereka menilai kegiatan yang berlangsung tidak sesuai dengan peruntukan bangunan, dan kemudian melakukan perusakan terhadap fasilitas yang digunakan para pelajar Kristiani.

Ketua Umum ABAS, Boyke Djohan, dalam keterangannya, Selasa (1/7) menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan kekerasan yang terjadi. Ia menegaskan bahwa semua pelaku yang terlibat dalam pembubaran dan perusakan harus diproses hukum.

“Kami minta Polri tangkap seluruh pihak yang terlibat pembubaran retret pelajar Kristiani di Sukabumi,” ujar Boyke.

Ia juga menekankan bahwa Indonesia adalah negara hukum yang tidak boleh membiarkan aksi main hakim sendiri dan kekerasan atas dasar dugaan pelanggaran agama atau izin tempat ibadah.

“Kita sangat mengutuk keras segala bentuk kekerasan. Yang melakukan kekerasan berarti melanggar hukum, tentu harus ditangkap,” tegasnya.

Menanggapi kabar bahwa Polri telah menangkap tujuh orang terkait insiden tersebut, Boyke menyatakan bahwa langkah hukum tidak boleh berhenti hanya di situ.

Ia meminta agar aparat menelusuri dan menangkap seluruh pihak yang terlibat, serta membongkar jaringan kekerasan hingga tuntas.

“Harus seluruhnya. Berantas kekerasan sampai ke akar-akarnya,” pungkasnya.

Insiden di Sukabumi ini memang memantik perhatian berbagai elemen masyarakat, terutama karena menyangkut kebebasan beragama dan beribadah yang dijamin konstitusi. Kegiatan retret keagamaan umumnya dilakukan untuk memperdalam pemahaman iman dan mempererat kebersamaan di kalangan pelajar.

ABAS sendiri sebagai organisasi kemasyarakatan yang aktif mengawal isu-isu toleransi dan kebhinekaan, terdiri dari sejumlah tokoh lintas profesi seperti Irjen Pol (Purn) Benny Mokalu, aktivis dan jurnalis Ninoy Karundeng, pesulap Romy Rafael, aktor Bucek Depp, Sally Marcelina, Andi Suzie, Peter Momor, dan Nancy Weber menyuarakan pentingnya penghormatan terhadap hak beribadah serta penegakan hukum tanpa pandang bulu sebagai upaya menjaga persatuan bangsa di tengah keragaman agama dan budaya Indonesia. (NVR)

By editor2