JAKARTA, AKURATNEWS.co – Usia muda dan status mahasiswi bukan penghalang buat Sere Pasaribu.

Mahasiswi Program Musik UIC College ini ternyata sudah merilis lima lagu orisinal, mengisi soundtrack film dan menggelar Senior Vocal Recital profesional sebelum resmi lulus kuliah.

Langkah itu ia buktikan lewat resital bertajuk ‘To Love, To Lose, To Learn’ di Jakarta, Jumat (12/6).

Lima babak reaital ini, Naive, Heartbreak, Return, Reblooming, Bittersweet jadi peta emosi yang membawa penonton menelusuri cinta, kehilangan, hingga pertumbuhan dari pengalaman hidup.

“Setiap orang pernah mencintai sesuatu, kehilangan sesuatu, lalu belajar dari pengalaman itu. Pengalaman-pengalaman itulah yang saya terjemahkan ke dalam musik dan karya yang saya tulis sendiri,” kata Sere di sela resital.

Baginya, resital ini bukan sekadar panggung.

“Musik adalah cara untuk memahami dan membagikan pengalaman hidup kepada orang lain. Selama kuliah saya dapat banyak kesempatan mengembangkan karya, belajar menulis, bereksperimen, dan menemukan identitas artistik saya,” ungkap Sere.

Sere pun tak main-main dengan produksi. Lima lagu orisinalnya, Like I Always Do, Stupid For Loving U, 8 8 18th, Buatku Berarti, Mungkin Tak Harus Terjawab sudah rilis di Spotify, Apple Music, dan platform streaming lain lewat UIC College of Music dan Nayanara Svara.

Ia juga masuk ke jalur industri profesional lebih awal lewat pengisi vokal soundtrack film ‘Malam 3 Yasinan’.

“Terlibat dalam soundtrack film membuat saya melihat dunia musik dari perspektif berbeda. Saya merasakan langsung bagaimana sebuah karya lahir dalam lingkungan profesional dengan ekspektasi dan tanggung jawab nyata,” ungkapnya.

Ditambahkan Irfas, Program Leader Music UIC College, pendekatan ini memang sengaja dilakukan.

“Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka harus membangun portofolio, menghasilkan karya, berkolaborasi, dan memahami standar industri sejak awal. Karena itu kami dorong siswa kerja lewat proyek nyata selama studi,” ujar Irfas.

Dijelaskannya lagi, model itu bagian dari kurikulum Pearson BTEC asal Inggris yang diterapkan UIC College. Lewat program 2+1, mahasiswa menempuh dua tahun di Indonesia, lanjut satu tahun di universitas mitra Inggris.

Resital seperti milik Sere jadi bentuk applied learning rutin di kampus yang berada di bawah USG Education Group.

Ditambahkan Niluh Komang Aimee Sukesna, Director of Marketing and Student Experience USG Education, dirinya melihat Sere sebagai cermin perubahan pendidikan tinggi kreatif.

“Dulu mahasiswa belajar dulu, kerja setelah lulus. Hari ini banyak yang mulai bangun karier profesional selama studi. Ketika pendidikan mendekatkan mahasiswa ke dunia nyata, hasilnya bukan hanya gelar, tapi juga karya, pengalaman, dan kesiapan hadapi industri,” ujarnya.

Dengan portofolio yang sudah aktif sebelum wisuda, Sere Pasaribu membuktikan: kalau sistem pendidikan berani buka ruang produksi, mahasiswa bisa langsung masuk arena profesional. (NVR)

By editor2