JAKARTA, AKURATNEWS.co — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan global terkait wabah virus Nipah yang kembali merebak di Kerala, India. Virus zoonosis yang berasal dari kelelawar buah ini juga dapat ditularkan oleh babi dan manusia, dan kini menjadi perhatian dunia karena potensi pandeminya yang tinggi.
Menurut WHO, tingkat kematian akibat virus Nipah sangat tinggi, berkisar antara 40% hingga 75%, menjadikannya salah satu virus paling mematikan di dunia.
Wabah terbaru di Kerala mencatat dua kasus kematian, seorang remaja berusia 18 tahun akibat ensefalitis Nipah, dan seorang wanita berusia 38 tahun. Otoritas kesehatan India telah mengidentifikasi 461 kontak erat, termasuk 27 kontak berisiko tinggi yang kini dikarantina secara ketat.
Meski penularan dari manusia ke manusia dianggap belum efisien, WHO memperingatkan bahwa virus ini bisa bermutasi dan menjadi lebih mudah menyebar, sehingga perlu kewaspadaan global.
Virus Nipah termasuk dalam famili Henipavirus, yang menyerang sistem saraf pusat dan paru-paru. Gejala awal mencakup demam, sakit kepala, dan kelelahan, tetapi dapat berkembang cepat menjadi ensefalitis atau pneumonia parah, yang bisa menyebabkan koma atau kematian dalam 24–48 jam.
Meskipun tingkat penularan antarmanusia rendah, kontak langsung dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi tetap menjadi faktor risiko utama. WHO menekankan pentingnya kerja sama global untuk mencegah kemungkinan virus ini berkembang menjadi pandemi seperti Covid-19.
Pemerintah India telah mengaktifkan protokol darurat, termasuk karantina 21 hari, penutupan sekolah di wilayah terdampak, serta pengawasan demam dari rumah ke rumah. Laboratorium Bhopal (NIHSAD) juga tengah bersiap untuk mencapai tingkat pengamanan biologis BSL-4, agar dapat menangani patogen berbahaya seperti Nipah.
Secara global, WHO telah menetapkan virus Nipah sebagai salah satu dari 24 patogen prioritas yang membutuhkan penelitian mendesak untuk pengembangan vaksin, diagnostik cepat, dan pengobatan antivirus. Saat ini, belum ada vaksin yang disetujui, namun uji coba awal sedang berlangsung, termasuk penggunaan ribavirin dan antibodi monoklonal sebagai terapi potensial.
Peringatan WHO jelas: meski kasus masih terkendali, karakteristik biologis virus Nipah dan tingkat fatalitasnya yang tinggi memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional./Teg.
