JAKARTA, AKURATNEWS.co – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus pengamat sosial ekonomi dan keagamaan, Anwar Abbas, melontarkan kritik tajam terhadap Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang dianggap bersikap munafik dan menerapkan standar ganda dalam mengambil keputusan terkait dunia olahraga internasional.
Dalam pernyataannya, eks Wakil Presiden Konfederasi Buruh Islam Internasional itu menilai langkah IOC yang menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia karena menolak kehadiran atlet Israel di Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 Jakarta sebagai tindakan yang tidak konsisten dan sarat kepentingan politik.
“IOC dalam hal ini telah memperlihatkan sikap munafiknya karena menerapkan standar ganda. Mereka melarang Indonesia menjadi tuan rumah semua cabang olahraga di bawah IOC hanya karena kita menolak atlet Israel, padahal mereka sendiri mencampuradukkan olahraga dan politik,” ujar Anwar Abbas, Senin (27/10/2025).
Standar Ganda Barat: Rusia Disanksi, Israel Dibiarkan
Anwar menyinggung bahwa IOC dan dunia Barat menunjukkan keberpihakan yang jelas dalam berbagai konflik internasional.
Saat Rusia menginvasi Ukraina, IOC langsung menjatuhkan sanksi berat: melarang Rusia tampil di Olimpiade 2024 dan berbagai ajang internasional lainnya, sedangkan FIFA juga menendang Rusia dari kualifikasi Piala Dunia 2022.
Namun, kata Anwar, standar yang sama tidak pernah diterapkan terhadap Israel, meski negara itu secara terbuka melakukan pendudukan, pembunuhan massal, dan penghancuran wilayah Palestina.
“Yang dilakukan Israel jauh lebih dahsyat daripada Rusia. Israel bukan hanya melakukan invasi, tapi juga menjajah Palestina dan melakukan ethnic cleansing serta genosida,” tegas Anwar.
Diam terhadap Amerika, Tegas terhadap Indonesia
Anwar juga menyoroti sikap diam IOC ketika Amerika Serikat melakukan invasi ke Irak dan Afghanistan yang menimbulkan jutaan korban jiwa dan kehancuran di Timur Tengah.
“Ketika Amerika melakukan invasi ke Irak dan Afghanistan, IOC hanya diam, tidak ada sanksi, tidak ada seruan moral. Tapi ketika Indonesia menolak atlet Israel demi prinsip kemanusiaan dan konstitusi, mereka justru menghukum kita,” katanya.
Ia menilai, keputusan IOC melarang Indonesia menjadi tuan rumah seluruh event olahraga di bawah naungannya mencerminkan politik kekuasaan global yang berpihak, bukan nilai-nilai universal olahraga.
Indonesia Dihukum karena Prinsip
Indonesia, menurut Anwar, tidak menolak ajang olahraga dunia — yang ditolak adalah kehadiran kontingen resmi dari negara penjajah.
“Indonesia tidak menolak olahraga, yang ditolak adalah kehadiran simbol resmi negara penjajah di bumi yang menolak kolonialisme,” ujarnya.
Anwar mengingatkan, konstitusi Indonesia dengan tegas menolak segala bentuk penjajahan karena bertentangan dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. “Jadi sikap pemerintah kita justru sejalan dengan amanat UUD 1945,” tambahnya.
Munafik dan Tidak Terpuji
Buya Anwar menyimpulkan bahwa IOC telah kehilangan kredibilitas moralnya karena mempraktikkan politik dua muka: memisahkan olahraga dari politik hanya ketika menguntungkan pihak Barat.
“IOC jelas-jelas tidak konsisten. Mereka bilang olahraga harus netral dari politik, tapi dalam kenyataannya, mereka sendiri yang mencampuradukkannya. Ini sikap munafik dan tidak terpuji,” pungkasnya.
Sebelumnya, IOC menjatuhkan empat keputusan setelah Indonesia menolak visa atlet Israel untuk World Artistic Gymnastics Championships 2025 di Jakarta.
Salah satunya adalah mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah seluruh ajang olahraga internasional di bawah IOC.
Keputusan itu menuai kecaman luas dari berbagai tokoh agama, akademisi, dan masyarakat sipil yang menilai langkah tersebut berlebihan dan tidak adil./Ib. Sumber. Inilah.com.
