Skip to content
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Akuratnews Akuratnews

Informatif, Edukatif dan Inspiratif

Akuratnews Akuratnews

Informatif, Edukatif dan Inspiratif

  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    • Peristiwa
    • Militer
    • Kepolisian
    • Industri
    • Energi
    • Perikanan & Kelautan
  • EKONOMI & BISNIS
    • Asuransi
    • Finance
    • Koperasi
    • Perbankan
    • Pertanian & Perkebunan
    • UMKM
    • Perikanan
    • PROPERTY
  • GAYA HIDUP
    • Aksesoris
    • Busana
    • Kecantikan
    • Hangout
  • HIBURAN
    • Budaya
    • Film & TV
    • Musik
    • Selebriti
  • OLAHRAGA
    • Basket
    • Bela Diri
    • Bulu Tangkis
    • Formula1
    • MotoGP
    • Sepak Bola
    • Voli
  • RELIGI ISLAMI
  • WISATA & KULINER
    • Destinasi
    • Hotel
    • Restoran
  • OTOMOTIF
  • TELCO
  • Opini
  • RAGAM
  • Megapolitan
  • Voicemagz
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    • Peristiwa
    • Militer
    • Kepolisian
    • Industri
    • Energi
    • Perikanan & Kelautan
  • EKONOMI & BISNIS
    • Asuransi
    • Finance
    • Koperasi
    • Perbankan
    • Pertanian & Perkebunan
    • UMKM
    • Perikanan
    • PROPERTY
  • GAYA HIDUP
    • Aksesoris
    • Busana
    • Kecantikan
    • Hangout
  • HIBURAN
    • Budaya
    • Film & TV
    • Musik
    • Selebriti
  • OLAHRAGA
    • Basket
    • Bela Diri
    • Bulu Tangkis
    • Formula1
    • MotoGP
    • Sepak Bola
    • Voli
  • RELIGI ISLAMI
  • WISATA & KULINER
    • Destinasi
    • Hotel
    • Restoran
  • OTOMOTIF
  • TELCO
  • Opini
  • RAGAM
  • Megapolitan
  • Voicemagz
Subscribe
Close

Search

EKONOMI & BISNISNasional

81 Tahun Merdeka, Rakyat Masih Jadi Budak Impor dan Oligarki

By editor2
18/08/26 8:35AM 2 Min Read
0

JAKARTA, AKURATNEWS.co – Memasuki usia 81 tahun kemerdekaan, ekonomi Indonesia dinilai belum dinikmati secara merata. Tantangan ketimpangan, ketergantungan impor, dan oligarki masih menjadi pekerjaan rumah besar negeri ini

Seperti diungkapkan ekonom senior, Didin S Damanhuri. Ia menyoroti ketimpangan yang masih buruk. Rasio GINI pendapatan mendekati 0,5. Data BPS 2015 mencatat GINI pengeluaran 0,413, dan sedikit menurun menjadi 0,368 pada 2025.

“Negara dibebani oleh digjayanya oligarki ekonomi dan politik. Ditambah maraknya impor bahan pokok,” ujar Didin di Jakarta, Senin (17/8) .

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB ini menilai perekonomian nasional belum mandiri secara makro. Dimana ketergantungan masih tinggi di sektor finansial, teknologi, pangan, dan energi. Kebijakan juga belum sepenuhnya berpihak pada kemandirian.

Hal itu bisa dilihat dari otonomi daerah yang belum mensejahterakan. Politik uang dalam pemilu masih marak sehingga melahirkan elit medioker. Korupsi tetap tinggi karena penegakan hukum belum adil.

“Alhamdulillah Indonesia relatif bukan negara miskin seperti banyak di Afrika dan Amerika Latin, dan tidak penuh konflik seperti Timur Tengah. Tapi terus harus didorong pemecahannya agar tercapai negara yang adil, makmur, sejahtera dan demokratis,” tandasnya.

Sementara itu, skonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengangkat isu yang jarang dibahas: distribusi kemerdekaan.

“Selama ini ekonom sudah banyak bicara pertumbuhan ekonomi, pengangguran, inflasi, kemiskinan, kesenjangan, dan distribusi. Kapan ekonom akan bicarakan distribusi kemerdekaan?” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan apakah kemerdekaan 81 tahun sudah dinikmati secara merata dan adil.

“Adakah indikator yang dikembangkan ekonom untuk mengevaluasi distribusi pemerataan kemerdekaan?” katanya.

Senada dengan kedua pendapat di atas, ekonom Edy Priyono menegaskan jika hakikat kemerdekaan adalah kebebasan memilih. Dalam ilmu ekonomi, kebebasan memilih diwujudkan dalam pasar yang kompetitif. Produsen bebas keluar-masuk pasar dengan barrier to entry minim. Konsumen punya pilihan membelanjakan uangnya.

“Menurut saya, kita semakin menjauh dari pasar yang kompetitif. Dengan kata lain, menjauh dari esensi kemerdekaan,” kata Edy.

Peneliti Pusat Kajian Kebijakan Publik Akademika ini menilai, ketika pilihan itu tidak ada, ilmu ekonomi sebagai theory of choice menjadi tidak relevan.

Sebagai kesimpulan, tiga ekonom ini sepakat, 81 tahun kemerdekaan adalah momentum evaluasi.

Pertumbuhan kuantitatif sudah dicapai. Kini tantangannya adalah memastikan kualitas kemerdekaan: mengurangi ketimpangan, memutus ketergantungan, dan mengembalikan kebebasan memilih kepada rakyat.

Indonesia tidak boleh puas menjadi “tidak miskin”. Targetnya harus jelas: negara yang adil, makmur, sejahtera, dan demokratis dari akar rumput. (NVR)

Tags:

EkonomiHUT RI ke-81imporoligarki
Author

editor2

Follow Me
Other Articles
Previous

Swasembada Bukan Kedaulatan! Pemerintah Jangan Jebak Petani dalam Utang Ekologis

Next

Nyanyi Mandarin Saat Perayaan HUT RI ke-81, Ini Alasan Vivian Voo

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Persib Awali Laga Super League dengan Kemenangan 3-1 Atas PSM
  • Penyidik Temukan Uang USD 240 Ribu di Mobil Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana
  • Timnas U-20 Lolos ke Piala Asia 2027 Usai Menang 2-0 Atas Australia
  • Royal Enfield Classic 350 Gorkha Resmi Diluncurkan, Ini Spesifikasinya!
  • Film Jaka Tingkir Saga Proses Produksinya 100% Gunakan Teknologi AI
  • HOME
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Copyright 2026 — Akuratnews. All rights reserved. MTM NETWORK