BANYUMAS, AKURATNEWS.co – Perusahaan teknologi pengolahan sampah, Waste to Wealth berhasil menjadikan Kabupaten Banyumas sebagai kabupaten dengan pengelolaan sampah terbaik di Asia Tenggara pada 2023.
Waste to Wealth yang berada di bawah naungan PT Makmur Radhika Terdepan dan diluncurkan pada 2018 ini menjadi pionir dalam teknologi pengolahan sampah di Indonesia.
Dijelaskan pimimpinan Waste to Wealth, Merakarno Rahusna Taruno, proses pembuatan mesin pengolah dan pemilahan sampah ini memakan waktu tiga tahun. Awalnya, pada 2018, pengolahan sampah di Banyumas masih mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan sistem kumpul, angkut dan buang. Namun, penutupan TPA oleh warga akibat bencana memaksa Banyumas membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Pada awalnya, pengolahan sampah di TPST Banyumas masih manual sehingga kurang efisien. Hal ini mendorong Waste to Wealth mengembangkan mesin pengolah sampah otomatis. Setelah melalui ratusan hingga ribuan uji coba, mesin tersebut berhasil mengolah sampah menjadi produk bernilai jual seperti paving block dan Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai pengganti bahan bakar batubara di pabrik semen.
“Saat itu, kami tidak memiliki referensi dan literatur bagaimana dan seperti apa mesin pengolah sampah itu bekerja,” kata Husna, baru-baru ini.
Mesin pengolah sampah yang dibuat Waste to Wealth mampu memisahkan sampah organik dan anorganik secara otomatis. Sampah organik diolah menjadi kompos, pakan magot, atau biomassa untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), sementara sampah anorganik diubah menjadi bahan baku untuk berbagai produk seperti aspal dan paving block. Teknologi ini juga merupakan produk lokal dengan kandungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi.
Berkat inovasi ini, Banyumas berhasil mengurangi sampah yang dibuang ke TPA hingga hanya sembilan persen dari total volume sampah. Program “Sumpah Beruang: Sulap Sampah Menjadi Uang” yang dicetuskan mantan Bupati Banyumas, Achmad Husein, juga berperan besar dalam kesuksesan ini dengan mendirikan 29 TPST yang mengolah 600 hingga 900 ton sampah setiap hari.
Kesuksesan Banyumas mengelola sampah dengan teknologi Waste to Wealth mengantarkan kabupaten ini ke kancah internasional. Waste to Wealth kini bekerja sama dengan berbagai daerah di Indonesia, termasuk Cimahi, Mataram, Palangkaraya, Timika, Semarang, Pemalang, Kudus, Magelang, Denpasar, Polewali Mandar dan Kolaka.
Selain pemerintah daerah, Waste to Wealth juga bermitra dengan pihak swasta, seperti Waste4Change, yang membutuhkan mesin pengolah sampah hingga 15 ton per hari.
Husna menegaskan, mesin pengolah sampah dari PT Makmur Radhika Terdepan terbukti mampu mereduksi 90 persen sampah sehingga tidak perlu dibuang ke TPA. Teknologi ini diharapkan dapat diadopsi oleh daerah lain yang menghadapi masalah serupa. Seluruh produk teknologi pengolahan sampah Waste to Wealth dapat diakses melalui e-katalog LKPP. (NVR)
