WASHINGTON, AKURATNEWS.co – Pada masa pertama Trump menjadi presidasn pernah bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-um. Kini di periode keduanya menjadi presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyatakan rencananya untuk kembali menghubungi Kim Jong Un dalam sebuah wawancara yang ditayangkan pada Kamis (23/1/2025).
Donald Trump bahkan tiga kali menyebut pemimpin Korea Utara tersebut sebagai orang pintar dan mengungkapkan bahwa hubungan mereka tetap baik. Hubungan ini menjadi unik mengingat Amerika dan Korut selalu terlibat dalam permusuhan bertahun-tahun. Istilah ‘Benci Tapi Rindu’ menjadi kalimat yang cocok untuk kedua pemimpin ini.
Selama masa kepresidenannya dari 2017 hingga 2021, Donald Trump dan Kim Jong Un membangun hubungan diplomatik yang tidak biasa dengan tiga kali kedua pemimpin bertemu langsung. Bahkan Donald Trump pernah mengatakan bahwa dirinya dan Kim Jong Un memiliki hubungan yang akrab.
Meski demikian, upaya diplomasi tersebut tidak menghasilkan kesepakatan jangka panjang untuk mengakhiri program nuklir Korea Utara.
Ketika diwawancarai oleh Fox News dan ditanya apakah akan menghubungi Kim Jong Un lagi, Donald Trump menjawab tentu saja. “Ia menyukai saya,” klaim Donald Trump.
Korea Utara mengeklaim bahwa program nuklirnya diperlukan untuk melawan ancaman dari Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Korea Selatan.
Kedua Korea secara teknis masih berada dalam status perang karena konflik pada tahun 1950-1953 hanya berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Korea Utara, yang dikenal terisolasi dan miskin, terus melakukan uji coba nuklir dan meluncurkan rudal balistik sebagai bagian dari program militernya. Program ini sering dipuji oleh Pyongyang sebagai simbol prestise nasional, tetapi mendapat kecaman dari komunitas internasional.
Washington dan negara-negara lain, termasuk melalui resolusi PBB, mengecam program nuklir Korea Utara sebagai ancaman terhadap stabilitas global. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan menyebut Kim Jong Un sebagai diktator dalam sidang konfirmasi Senat baru-baru ini.
Rubio menegaskan perlunya kebijakan yang lebih serius untuk mencegah konflik di Semenanjung Korea. Ia juga menyerukan upaya untuk mencegah perlombaan senjata nuklir di kawasan tersebut, termasuk di Korea Selatan dan Jepang.
Donald Trump mengingat upaya diplomatiknya pada 2019 untuk mencapai kesepakatan senjata dengan Rusia dan China. Menurutnya, upaya tersebut hampir berhasil sebelum terganggu oleh pemilu 2020, di mana ia kalah dari Joe Biden.
“Saya hampir mencapai kesepakatan dengan (Presiden Rusia Vladimir) Putin tentang denuklirisasi… Namun, kami mengalami pemilu yang buruk yang menghambat langkah kami,” ungkap Trump.
Menteri Pertahanan Korea Selatan menanggapi dengan menegaskan bahwa status Korea Utara sebagai negara berkekuatan nuklir tidak dapat diakui. Seoul berkomitmen untuk bekerja sama dengan Washington untuk mencapai denuklirisasi.
Hubungan unik Donald Trump dan Kim Jong Un terlihat saat Pyongyang menunjukkan aktivitas militer dengan meluncurkan beberapa rudal balistik jarak pendek menjelang pelantikan presiden AS pada 20 Januari 2025. Analis bahkan menyatakan tindakan Korea Utara tersebut bisa jadi merupakan pesan simbolis dari Kim Jong Un untuk Donald Trump./Ib. Foto. Istimewa.
