JAKARTA, AKURATNEWS.co – Satu lagi film horor yang akan meramaikan bioskop akhir Juli ini. Film Juminten Edan siap tayang di bioskop Indonesia mulai Kamis (23/7/2026).
Film tersebut memadukan horor supranatural, drama keluarga, dan ketegangan psikologis yang berpusat pada trauma masa lalu seorang perempuan dengan disabilitas wicara.
Produksi Mercusuar Films bersama Digital Frame Production itu disutradarai Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh. Film berdurasi 108 menit tersebut tidak hanya mengandalkan adegan menyeramkan, tetapi juga menghadirkan konflik emosional dalam sebuah keluarga.
Sejumlah aktor terlibat dalam film tersebut, antara lain Meisya Amira sebagai Juminten, Dimas Aditya sebagai Manto, Sharon Jovian, Anne J Coto, Kukuh Prasetya, Deden Bagaskara, Bambang Oeban, Wina Marrino, dan Teguh Yulianto.
Dedy Mercy mengatakan Juminten Edan berangkat dari keinginan menghadirkan film horor yang tidak hanya menawarkan kejutan, tetapi juga memiliki cerita kuat dan menyentuh sisi emosional penonton.
“Kami ingin menghadirkan horor yang memiliki cerita. Penonton bukan hanya dibuat takut, tetapi juga diajak memahami bagaimana trauma masa lalu bisa menghancurkan kehidupan seseorang,” kata Dedy dalam keterangannya di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Menurut Dedy, karakter Juminten menjadi pusat dari seluruh konflik yang berkembang sepanjang cerita. Sisi psikologis manusia dipertemukan dengan unsur mistis untuk menghadirkan ketegangan yang berbeda.
“Horor dalam film ini tumbuh dari konflik keluarga dan luka batin yang belum selesai. Itu yang membuat cerita berkembang secara emosional sekaligus mencekam,” ujarnya.
Dimas Aditya yang memerankan Manto mengaku tertarik bergabung karena naskah Juminten Edan tidak hanya berfokus pada kemunculan sosok gaib.
Menurutnya, hubungan antarangggota keluarga menjadi elemen penting dalam mengembangkan cerita dan konflik film tersebut.
“Yang membuat saya tertarik adalah hubungan keluarga dalam cerita ini. Penonton akan melihat bagaimana seorang suami berusaha menyelamatkan istri dan anaknya ketika menghadapi situasi yang tidak bisa dijelaskan secara logika,” kata Dimas.
Karakter Manto digambarkan sebagai suami yang berusaha melindungi keluarga ketika perilaku Juminten mulai berubah dan berbagai kejadian ganjil bermunculan.
Meisya Amira menyebut peran Juminten sebagai salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan kariernya. Ia harus mengandalkan bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan komunikasi nonverbal untuk menyampaikan emosi karakter.
“Saya banyak belajar memahami bagaimana seorang penyandang disabilitas wicara mengekspresikan emosi tanpa dialog. Itu menjadi tantangan sekaligus pengalaman yang sangat berharga,” ujar Meisya.
Selain menghadirkan ketegangan, film tersebut berupaya menyoroti pentingnya empati terhadap penyandang disabilitas.
Juminten digambarkan sebagai perempuan yang kerap disalahpahami oleh orang-orang di sekitarnya ketika mulai mengalami perubahan perilaku dan berbagai kejadian misterius.
Juminten Edan berkisah tentang seorang perempuan dengan disabilitas wicara yang kembali ke kampung halamannya di sebuah pulau terpencil setelah delapan tahun merantau.
Juminten pulang bersama suaminya, Manto, dan putri mereka, Saskia, untuk memenuhi permintaan keluarga yang menginginkan mereka kembali menetap.
Kepulangan keluarga tersebut awalnya disambut dengan hangat. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena Juminten mulai menunjukkan perilaku aneh dan sering kehilangan kendali.
Dalam beberapa peristiwa, Juminten bahkan nyaris mencelakai suami, anak, dan anggota keluarganya. Warga kemudian menduga ia mengalami gangguan psikologis akibat trauma masa kecil.
Dugaan tersebut mulai berubah ketika terungkap adanya kekuatan gaib yang mengikuti kehidupan Juminten. Misteri masa lalu, dendam keluarga, dan teror supranatural kemudian menjadi ancaman bagi seluruh penghuni pulau.
Rahasia yang disembunyikan selama bertahun-tahun perlahan terungkap dan menjadi jawaban atas rentetan kejadian mengerikan yang menghantui Juminten serta keluarganya.
Dengan mengangkat trauma, hubungan keluarga, dan konflik batin dalam balutan horor, Juminten Edan menawarkan pengalaman menonton yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga membawa pesan tentang luka masa lalu yang belum diselesaikan./Din.
