NEW DELHI, AKURATNEWS.co –
Jelang peringatan Hari Kartini, semangat perjuangan perempuan Indonesia kembali menggema di level internasional.
Farahdibha Tenrilemba, tokoh pemberdayaan perempuan dan penggerak pembangunan inklusif, tampil sebagai pembicara dalam Digital Empowerment Summit 2025 yang digelar di New Delhi, India pada 12–14 April 2025.
Forum prestisius ini mempertemukan para pemimpin, inovator, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara G20 dan Global South, membahas tantangan dan peluang transformasi digital untuk pembangunan berkeadilan.
Dalam sesi “Global South Dialogue on Financial Inclusion”, Farahdibha menekankan urgensi menciptakan sistem keuangan digital yang inklusif dan berpihak pada perempuan, terutama di wilayah pedesaan yang selama ini kerap terpinggirkan.
“Pengalaman saya mendampingi perempuan-perempuan desa yang mengelola sawah, mendidik anak, dan menjalankan usaha kecil menunjukkan bahwa mereka memiliki kapasitas luar biasa. Namun, keterbatasan akses terhadap layanan keuangan formal masih menjadi penghalang utama. Ini bukan semata persoalan ekonomi, tapi juga soal keadilan,” tegas Farahdibha yang juga Senior Expert di Kiroyan Partners dan Sekjen Wanita Tani Indonesia HKTI.
Farahdibha memaparkan, sejumlah praktik baik dari Indonesia yang dinilai berhasil mendorong inklusi keuangan berbasis komunitas dan gender, antara lain:
- Penguatan Gapoktan dan Kelompok Wanita Tani (KWT) melalui sistem pertanian kolektif, tabungan kelompok, dan pelatihan literasi keuangan.
- Program Mekaar dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM), yang memberi akses pembiayaan tanpa agunan kepada perempuan prasejahtera disertai pendampingan rutin.
- Pemanfaatan platform digital untuk memberdayakan pelaku usaha mikro perempuan agar terhubung dengan ekosistem ekonomi digital.
- Dukungan kebijakan strategis, seperti target nasional inklusi keuangan 90 persen pada 2024 dengan fokus pada kesetaraan gender.
Lebih jauh, Farahdibha menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai anggota baru BRICS.
Menurutnya, Indonesia dapat memainkan peran penting dalam merumuskan kebijakan kerja sama ekonomi lintas selatan (Global South) yang lebih adil dan partisipatif.
“Inklusi keuangan bukan sekadar agenda pembangunan. Ini adalah hak dasar yang harus dijamin negara, khususnya bagi perempuan yang selama ini suaranya kurang didengar. Perempuan harus dilibatkan secara aktif dalam mendesain dan menerapkan kebijakan ekonomi digital,” ucapnya.
Dalam sambutannya, Farahdibha juga menyampaikan apresiasi kepada para inisiator forum, termasuk Sapiens Research, Rimjhim Gour, dan The Future Shift Labs yang dinilai telah menyediakan ruang penting bagi negara-negara selatan untuk saling belajar dan berkolaborasi.
Kehadiran Farahdibha di panggung internasional tersebut menjadi simbol semangat Kartini masa kini dimana perempuan yang tak hanya memperjuangkan kesetaraan di dalam negeri, tapi juga memperluas pengaruhnya secara global.
Ia membuktikan bahwa dari desa hingga ke forum dunia, suara perempuan Indonesia memiliki daya untuk mengubah narasi dan arah pembangunan ke depan dan menunjukkan bahwa perjuangan Kartini masih relevan, kini dan nanti. (NVR)
