TEL AVIV, AKURATNEWS.co – Krisis Timur Tengah kian memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mulai menggunakan langkah militer untuk mendukung Israel menghadapi Iran.

Berdasarkan laporan CNN yang dilansir dari data penerbangan dan sumber Pentagon, sejumlah jet pengebom siluman B-2 menggempur fasilitas militer Iran.

Sejumlah pejabat Departemen Pertahanan AS menegaskan bahwa pengerahan pesawat tersebut adalah bagian dari opsi militer yang kini berada di tangan Presiden.

Iran pun merespon serangan AS ini dengan meluncurkan rudal-rudalnya. Sejumlah bangunan-bangunan di Tel Aviv, Israel mengalami kerusakan parah setelah dihujani rudal Iran. Informasi itu disampaikan oleh tim penyelamat darurat lokal.

“Ini adalah lokasi kehancuran skala besar. Beberapa bangunan tempat tinggal berlantai dua rusak parah, dan beberapa di antaranya runtuh,” ujar badan layanan darurat Magen David Adom (MDA), seperti dilansir CNN, Minggu (22/6).

Video yang dirilis layanan darurat menunjukkan sebagian bangunan hancur menjadi puing dan kerusakan signifikan pada bangunan lain di area sekitarnya. Sejumlah besar petugas penyelamat darurat Israel terlihat berada di lokasi.

Ketegangan antara Iran dan Israel kembali memuncak sejak pertengahan Juni 2025, menyusul serangan balasan Iran yang ditanggapi keras oleh Israel dan didukung oleh beberapa sekutu Barat.

Situasi ini mendorong para pejabat tinggi AS untuk melakukan diskusi intensif di Situation Room Gedung Putih.

Trump sendiri disebut menghabiskan banyak waktu untuk memantau perkembangan di ruang itu, menelaah berbagai skenario serangan, dan mempertimbangkan dampak strategis serta geopolitik dari opsi militer terhadap Iran.

“Tenggat dua pekan ke depan menjadi waktu paling kritis untuk pengambilan keputusan,” ujar Trump dalam briefing internal, menurut laporan CNN.

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan telah menunjuk tiga kandidat pengganti dirinya jika sampai terjadi kekacauan lebih lanjut akibat perang skala penuh. Ini menandakan bahwa Iran juga tengah bersiap menghadapi berbagai skenario eskalasi.

Sebelumnya, otoritas Iran menyatakan bahwa konflik dengan Israel bisa dihentikan “dalam satu panggilan telepon,” menandakan masih adanya ruang diplomasi di tengah ancaman militer.

Namun dengan dikerahkannya jet-jet B-2 yang menjadi simbol kekuatan strategis AS, dunia kini menanti apakah AS akan benar-benar melibatkan diri langsung dalam serangan terhadap Iran atau tetap bertahan pada peran tekanan politik dan militer semata.

Pengerahan kekuatan udara strategis ini juga telah menimbulkan kekhawatiran di negara-negara Teluk dan Eropa.

Uni Eropa, melalui juru bicara urusan luar negerinya, menyerukan agar semua pihak menahan diri dan membuka ruang diplomasi untuk menghindari bencana kemanusiaan lebih luas.

Jika serangan militer terhadap Iran benar-benar terjadi, bukan hanya kawasan Timur Tengah yang akan terdampak, tetapi juga kestabilan harga energi global dan keamanan internasional secara keseluruhan. (NVR)

By editor2